Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

"Satu lagi yang ingin Kia tanyakan umi, siapa orang itu ? Siapa perempuan yang berbicara buruk tentang Aisya pada umi dan menawarkan dirinya untuk jadi istri ke dua ?" Tanya Kia kali ini merasa sangat tidak sabar mendengar jawaban dari umi Bila.


"Dia....."


"Mi, sarung abi pada kemana ?" Tanya abi Aqil yang tiba-tiba datang menanyakan sarung pada istrinya.


Halangan ada aja sih, gerutu Kia.


"Sebentar Ki, umi mau ambilkan sarung abimu dulu !"


Kia mengangguk. Pada akhirnya kesabaran pun harus tetap ia lakukan demi mendapat informasi yang benar-benar real sesuai faktanya.


Kia masih mengutak-atik ponselnya melihat chatnya dengan Rasya.


Abang Rasya


Kalau ada yang mau disampaikan, usahakan jangan siang dek ! Abang takut Aisya melihatnya dan malah membuatnya kepikiran. Gak baik ibu hamil mikir yang berat-berat.


Kia menganga dan membulatkan matanya seraya mengerjap-ngerjapkanya berkali-kali.


Kia mengulang membaca chat kakaknya hingga 3 kali, memastikan bahwa tulisan yang ia baca itu tidaklah salah.


Buru-buru ia membalas pesan Rasya dengan menanyakan apakah yang diucapkannya adalah benar ?


Abang Rasya


Alhamdulilah, atas izin Allah kami diberikan kepercayaan dengan hadirnya si utun di rahim Aisya. Abang minta jangan kasih tau siapapun sebelum abang kembali kepesantren !


Masya Allah, alhamdulilah akhirnya Kia bentar lagi punya keponakan. Semoga nanti comel kayak aku hi hi. Gumamnya seraya membayangkan jika anak Rasya telah lahir nanti.


Kia yang mendapatkan kabar bahagia ini rasanya begitu gatal ingin memberitahu umi Bila yang tentu pernyataannya selama ini tentang Aisya adalah salah besar.


Tapi mengingat lagi chat dari Rasya yang melarangnya, ia mengurungkan untuk membeberkan kabar ini.


***


Di suasana lain, Mona dan Icha yang baru saja selesai mencuci pakaian segera menghampiri Zahra yang tengah duduk termenung.


"Asalammualaikum," sapa mereka.


"Waalaikumsalam."


"Lo kenapa Za ?" Tanya Icha.


"Gak papa, kangen aja sama kak Rasya," jawabnya.


"Sadar woy, kak Rasya udah jadi milik Aisya. Jangan jadi pelakor lo, dosa !" Jawab Icha merasa kesal dengan Zahra yang beraninya ingin menjadi pelakor dalam hubungan sahabatnya itu.


"Bukan urusan kamu, asalammualaikum," ucap Zahra ketus dan pergi meninggalkan Mona dan Icha.


"Woy gue belum selesai ngomong !"


"Udahlah Cha biarin aja !"

__ADS_1


"Ya gak bisa gitu dong Mon, dia itu mau ngerusak rumah tangga sahabat kita, Aisya. Kita sebagai sahabatnya gak boleh diem aja !" Ucap Icha merasa tidak setuju jika ia harus membiarkan hal itu terjadi.


Mona hanya mengangkat kedua bahunya. Ia merasa pasrah dengan apa yang akan Icha lakukan pada Zahra.


Mona dan Icha kembali ke asrama, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Kia yang baru saja pulang dari rumah Rasya.


"Asalammualaikum," sapa Kia.


"Waalaikumsalam," jawab mereka.


"Dari mana mau kemana ?" Tanya Icha pada Kia.


"Dari rumah abang, mau pulang. Kalian mau kemana ?"


"Kita mau ke asrama. Oh ya, lo udah beberapa hari ini kok gak tidur lagi di asrama, kenapa ?" Tanya Icha.


"Iya, apa karna gak ada Aisya lo jadi males sama kita ?" Sambung Mona.


"Eh. Bukan, bukan kayak gitu. Aku cuma kangen aja sama kasur, he he," jawab Aisya seraya terkekeh.


Tapi gak ada salahnya kan. Bathin Kia bermonolog memikirkan sesuatu.


"Nanti malem insyaallah deh, aku tidur di asrama."


"Seriusan ?" Tanya Mona.


"Iya, emangnya kenapa ? Kok kaget gitu ?" Tanya Kia penuh selidik.


"Ya gak sih, gak papa. Kamar kita bakalan rame lagi pastinya kalau ada lo," jawab Mona membuat Kia mengangguk.


"Waalaikumsalam."


Kia pulang ke peraduannya, sementara Mona dan Icha juga kembali ke kandangnya.


Kia memikirkan sesuatu hal yang ia curigai saat ini. Tapi apa mungkin ?


Kia menduga, jika dalang dari semua masalah rumah tangga Rasya dan Aisya bukan hanya dari satu orang.


Apa semua itu hanya tameng untuk menutupi kejahatannya ? Tapi kenapa, dan apa sebabnya ?


Sesampainya di rumah, Kia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan mata yang menatap langit-langit kamarnya.


Ck, tugas seorang detektif ternyata lebih sulit dari pengacara. Gumamnya berdecak kemudian memejamkan matanya terlelap, mengistirahatkan sejenak tubuhnya yang merasa lelah karna aktifitasnya hari ini.


***


Rasya sendiri merasa kuwalahan menuruti kemauan Aisya yang orang sering menyebutnya dengan Ngidam.


Bagaimana tidak, Aisya yang tiba-tiba menginginkan makan buah mangga itu meminta suaminya memanjat pohon mangga milik tetangga bundanya dengan syarat Rasya harus mengambilnya tanpa izin dari si pemilik.


"Sayang walau bagaimanapun itu namanya nyuri, mas gak mau ah ! Apa jadinya anak kita nanti," tolak Rasya berharap istrinya akan mengerti.


Namun bukan Aisya namanya jika ia tidak berhasil membuat Rasya menuruti apa yang ia mau. Dengan mewek bombay ala nyonya Rasya, Aisya berhasil membuat suaminya yang persis seperti maling berjalan mengendap-endap demi bisa mengambil mangga milik tetangganya.

__ADS_1


Kalau bukan istri, sudah ku lempar kau ke gunung berapi. Gerutu Rasya mencoba sabar dengan keinginan istrinya yang setiap hari selalu ada saja yang ingin ia makan, bahkan keinginannya itu sangatlah aneh menurutnya.


"Ayah kemana ya mas ?" Tanya Aisya setelah Rasya berhasil membawa 2 buah mangga di tangannya.


"Ayah di ruang kerjanya."


Setelah mendengar suaminya mengatakan jika Ayahnya berada di ruang khusus untuk kerja, Aisya langsung meluncur ketempat itu.


"Ayah..." panggil Aisya dan seketika ayah Rama menoleh ke arah pintu.


"Ada apa sayang, apa kamu menginginkan sesuatu nak ?" Tanya ayah Rama dengan lembut menghampiri anaknya yang masih berdiam diri di depan pintu.


Aisya mengangguk. Tapi ia tidak berani mengatakan keinginannya itu pada ayahnya.


Aisya takut ayahnya akan marah dan menolaknya.


"Katakan sayang, apa yang kamu mau ?" Ucap ayah Rama mengelus lembut pucuk kepala Aisya seraya mengecupnya pelan.


"Apa ayah akan melakukan apa yang Aisya mau ?" Tanya Aisya lebih dulu sebelum ia mengatakan apa yang diinginkannya dari sang ayah.


Ayah Rama mengangguk."Apapun demi putri dan cucu ayah, ayah akan melakukan !"


Aisya tersenyum senang, ia menarik tangan ayahnya seketika untuk mengikuti langkah kakinya yang ternyata membawa ayah rama ke meja makan.


Aisya mengambil piring dan pisau dari dapur lalu memberikannya pada ayah Rama.


Rasya yang mau mengambil air minum seketika heran melihat ayah mertunya memegang pisau dan piring dengan mengerikan.


"Ayah harus ngapain, Aisya ?" Tanyanya heran dengan piring dan pisau di tangannya.


"Ayah kupas mangga ini dan memakannya dengan saling suap antara ayah, bunda dan mas Rasya !"


Uhuk...uhuk....


Rasya tersedak mendengar namanya di sebut untuk ikut andil memakan buah mangga yang sudah pasti rasanya masam warbiasah itu.


"Sayang, bukannya adek yang mau mangga itu ?" Tanya Rasya dengan melirik mangga yang tergeletak tak berdaya di atas meja.


Aisya mengangguk."Tapi kalian bertiga yang makan, Aisya cuma pengen ngeliat kalian bertiga suap-suapan mangga itu !"


"Nak, itu mangga muda dan pasti rasanya masam sekali," ucap Ayah bergidik ngeri serta menelan salivanya membayangkan bertapa kecutnya pelem ijo yang orang jawa sering menyebutnya ****** pelem heheheh kebalik gak yak ?


Sementara para maid di rumah itu hanya cekikikan melihat ekspresi ayah Rama dengan menantunya yang begitu ketakutan dengan benda kecil berwarna ijo yang tergeletak tak berdaya setelah dibabat habis dari pohonnya oleh Rasya.


**Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian yakk


Happy Reading guys**

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2