
"Dia sahabat kamu neng, kalau umi tidak salah namanya adalah Mona !"
Deg...
Mo-mona, tidak mungkin !
"Ha ha ha, gak mungkinlah umi. Mona itu adalah sahabat baik Ais, jadi mana mungkin dia seperti yang kalian bicarakan barusan," elak Aisya merasa sangat tidak percaya dan begitu mustahil baginya jika Monalah orang itu.
"Sayang, tapi memang seperti itulah kenyataannya," ucap Rasya mencoba meyakinkan istrinya.
"Mas juga gak usah ngada-ngada deh, mas kan tau Mona dan Icha itu sahabat deket Ais. Bahkan kami bertiga sudah seperti saudara kandung kok," ucap Aisya lagi.
"Afwan neng, tapi nyatanya memanglah seperti itu. Mona memang mengatakan segala hal yang membuat umi termakan omongannya dan membenci menantu umi sendiri," jelas umi.
Kali ini Aisya terdiam. Ia mencerna kembali apa yang umi dan juga Rasya katakan.
Tapi apakah benar Mona adalah orang yang ingin menghancurkan rumah tangganya ? Tapi kenapa, apa alasannya dia melakukan semua itu ?
"Lalu apa buktinya kalau Mona adalah orangnya ?" Tanya Aisya kali ini meminta bukti untuk benar-benar memastikan ucapan suami serta ibu mertuanya.
"Berikan ponsel mas !" Pinta Rasya meminta ponselnya yang saat ini ada pada Aisya.
Aisya mengambil ponsel suaminya dari dalam kantung baju dan memberikannya pada Rasya.
Terlihat Rasya sedang mengutak-atik ponsel miliknya, lebih tepatnya sedang membuka pesan WhatsAppnya dengan Kia.
"Lihatlah ini !" Titah Rasya memberikan ponselnya dan video yang Kia kirim pada Aisya.
Viedo diputar !
Terlihat dan terdengar dengan jelas seseorang yang memang sangat ia kenal tengah menelfon seraya merencakan sesuatu untuk Aisya dengan alasan ingin menjadi istri kedua Rasya.
Aisya terkejut tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, tanpa sadar Aisya menjatuhkan ponsel milik suaminya. Namun dengan sigap, Rasya berhasil menangkap ponselnya itu.
Aisya menitikan air mata seraya terduduk lemas. Bagaimana mungkin, seseorang yang ia anggap sahabat bahkan saudara itu nyatanya tengah merencanakan hal kotor hanya untuk sebuah rasa obsesinya pada sang suami.
Kenangan, kebersamaan dalam suka maupun duka seketika hadir dalam bayangan Aisya.
__ADS_1
Mengingat merekalah yang selalu ada disaat ia sedih dan susah, disaat senang maupun bahagia. Ketiganya saling silih berganti menasehati dan meminjamkan bahu untuk bersandar dan mencurahkan setiap hal bahkan setiap menit kejadian yang mereka alami setiap harinya.
"Kenapa Mona, kenapa kamu mengkhianati aku ? Apa salahku Mon, hiks hiks..." Ucapnya lirih dan menangis betapa salahnya ia menilai seseorang.
Pepatah memang benar, hubungan pertemanan itu terkadang rumit. Ada kalanya kita menemui perdebatan dan perselisihan dengan sahabat. Serta merta masalah kecil itu kerap kali jadi berat.
Hubungan yang dulunya adem ayem, jadi dingin. Tak heran jika suatu waktu salah satu dari kita mulai berubah. Lebih parahnya lagi, kita saling menghindar hingga menjauh satu sama lain atau bahkan pura-bura baik namun di belakangnya sangat membenci.
Karna Author juga pernah mengalami hal tersebut😊. Tanpa sebab yang jelas, sahabat Kita pergi meninggalkan kita Sosok yang dulu kita kenal baik, berubah drastis jadi benci, egois, sombong, munafik, mengkhianati, hingga menjelekkan kita dari belakang. Saat tahu teman berubah, pasti rasanya sangat sedih. Pasalnya sulit menemukan sahabat dekat yang dapat dipercaya. Saat hati sudah klop dengan seseorang yang bisa disebut sahabat itu, namun justru pedihnya pengkhianatan yang ia lakukan akan lebih membuat kita sakit.
Rasya menenangkan istrinya yang tengah menangis itu. Ia membantu Aisya berdiri kemudian memeluknya dengan erat.
"Kenapa Mona jahat sama aku mas," ucapnya seraya sesenggukan di pelukan suaminya.
"Awalnya mas sangat tidak percaya dengan bukti itu sayang, sama seperti kamu. Tapi setelah Kia menjelaskan dan berani bersumpah atas nama Allah, mas percaya. Terlebih lagi hari ini Kia akan menunjukkan bukti selanjutnya pada kita, maka dari itu Kia dan Arkan meminta kita untuk segera pulang ke pesantren," jelas Rasya pada akhirnya menceritakan semuanya pada sang istri.
Aisya melepaskan pelukan suaminya, sedikit mendongakkan kepalanya menatap wajah Rasya yang lebih tinggi darinya.
"Aisya mau menemui Mona sekarang juga mas !"
"Jangan ! Kalau adek menemui Mona sekarang, berarti usaha Kia sia-sia dong ? Sebenernya, Kia ingin menunjukan bukti kalau Mona melakukannya tidak sendiri, tapi ada orang lain yang membantunya," jelas Rasya.
"Mikirin apa ?" Tanya Rasya membuat Aisya terkejut. Aisya menggeleng pelan.
"Kita harus kerumah bunda Qila mas !" Ucapan Aisya kali ini diangguki oleh suaminya.
Mereka berpamitan pada umi dan tak lupa memintanya untuk tetap beristirahat di kamar.
Aisya dan Rasya menemui Kia di rumahnya yang ternyata tengah mengobrol dengan Arkan dan juga bunda Qila.
"Asalammualaikum," salam Aisya dan Rasya saat sudah sampai di depan rumah Kia.
"Waalaikumsalam."
"Masya Allah Ais, aku kangen banget sama kamu !" Ucap Kia heboh dan berhambur memeluk sahabatnya sekaligus kakak iparnya itu.
"Gimana keponakan ku ? Apa utun baik-baik saja di dalam sini, hem ?" Tanya Kia setelah melepaskan pelukannya, kemudian mengelus perut Aisya yang masih rata.
__ADS_1
"Alhamdulilah dia baik, walaupun agak rewel he he," jawab Aisya terkekeh.
"Jadi kamu hamil neng ?" Tanya bunda Qila dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Aisya.
"MasyaAllah, alhamdulilah. Umimu pasti seneng dengernya," ucap bunda Qila yang ikut bahagia dengan kabar kehamilan keponakannya itu.
"Kita belum memberitahu umi bund, rencana 2 hari lagi Aisya mau buat kejutan ini di hari milad umi," jelas Aisya.
"Masya Allah iya, bunda hampir lupa kalau 2 hari lagi adalah ulang tahun umi kalian. Ya sudah bunda tinggal dulu ya, masih banyak kerjaan," ucap bunda Qila dan terlihat semuanya hanya mengangguk seraya tersenyum.
"Abang udah cerita semuanya Is ?" Tanya Kia menatap sahabatnya dengan sendu. Aisya mengangguk pelan dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Sabar. Bahkan aku sendiri tidak menyangka dengan Mona yang teganya merencanakan hal kotor ini pada sahabatnya sendiri."
"Dek, lalu apa yang ingin kamu tunjukin ke abang ?" Tanya Rasya semakin tidak sabar untuk melihatnya.
"Sebenarnya, kia belum melakukan apapun bang. Karna Kia rasa, kali ini yang akan melalukannya adalah Aisya namun dengan pantauan dan arahan dari kita," jelas Kia menceritakan rencananya yang sudah ia susun dengan Arkan secara rapi.
"Tidak berat kan dek ? Abang takut hal ini berpengaruh dengan kehamilan Aisya," ucap Rasya sedikit khawatir.
"Ente tenang aja Sya, mbak Aisya cuma perlu menelfon nomor seseorang dengan gaya bicara anak jakarta, yang lo lo gue gue itu !" Sambung Arkan menjelaskan dan disusul anggukan kepala oleh Kia.
"Yaps, yang dikatakan abang Arkan bener bang. Jadi gini.....
❤️Percaya boleh saja, tapi janganlah sepenuhnya memberikan kepercayaan pada seseorang ! Karna pengkhianat tidak memandang sahabat atau saudara sekalipun !❤️
**Wehhh penasaran kan ???
Sabar yak !!
Vote
Like
Komen sebanyak-banyaknya pokoknya !!!
Happy reading guys
__ADS_1
Bersambung**