
Tidak ingin membiarkan Zahra merebut perhatian suaminya, Aisya buru-buru melangkahkan kakinya menemui sang suami di kantor para asatidz.
"Asalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kenapa mas panggil Ais ?" Tanya Aisya menghampiri suaminya tanpa memperdulikan Zahra yang masih berdiri disana.
"Adek belum sarapan tadi kan, ayo sarapan bareng mas !"
Aisya melirik sekilas kearah Zahra dengan senyum yang sulit diartikan.
Kalau dia bisa mencari alasan untuk mendekati suamiku, kenapa aku tidak bisa mencegahnya ? Toh aku adalah istrinya, yang sudah pasti mas Rasya akan menuruti apa yang aku mau. Pikir Aisya tanpa mengalihkan tatapannya.
"Mas, aku pengen sarapan di luar. Agak bosen sama makanan rumahan," ucap Aisya seraya bergelayut manja pada suaminya.
"Baiklah, ayo !" Rasya mengajak istrinya untuk makan di tempat yang ia mau.
"Tapi kak, ini kan sudah ada makanan dari umi," ucap Zahra berusaha mencegah Rasya untuk tidak menuruti apa yang Aisya mau.
"Buat kamu saja. Afwan, saya permisi dulu. Asalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aisya tersenyum penuh kemenangan dengan sesekali menoleh kebelakang melihat raut wajah Zahra yang penuh dengan ekspresi kekesalan.
***
Suami istri yang tengah menikmati roti bakar di pinggir jalan itu terlihat sangat serasi dan sesekali tertawa merasa lucu dengan obrolan mereka.
Berbeda dengan Kia yang saat ini tengah dilanda kebingungan harus menjawab apa atas pertanyaan dari dua pria sekaligus.
"Bun, boleh Kia tanya sesuatu sama bunda ?" Tanya Kia dengan hati-hati karna takut bundanya akan memberikan banyak pertanyaan yang ia sendiri bingung dengan jawabannya.
Ustazah Qila yang tengah menyiapkan sarapan kemeja makan itu hanya mengangguk, kemudian duduk di samping anaknya seraya menatapnya dengan serius dan penuh tanya.
"Apa dulu bunda pernah diminta ta'aruf oleh 2 pria sekaligus dalam waktu bersamaan bund ?"
"Tidak nak, bunda dulu sangat mencintai ayahmu walau kami terpisah beberapa bulan dan waktu itu hampir saja ayahmu mau menikah dengan alm sepupu bunda yang di jakarta. Tapi jodoh berpihak pada kami hingga akhirnya takdir menyatukan ayah dan bunda dalam ikatan suci. Memangnya kenapa, apa ada masalah sayang ?" Tanya bunda Qila seraya mengelus pipi Kia yang tertutup niqab.
Kia terdiam. Apakah harus menceritakan masalah ini kepada bundanya ?
Bagaimana kalau bundanya tidak setuju dengan pilihannya nanti ?
Tapi walau bagaimanapun, orang tua berhak tau apa lagi mengenai lelaki yang akan mengajaknya berta'aruf.
"Bund, sebenarnya ada dua rejal yang ingin mengajak Kia ta'aruf. Tapi Kia bingung untuk memilih salah satu diantara mereka," jelas Kia menceritakan apa yang tengah ia pikirkan.
Bunda Qila mendengarkan dengan serius. Ia tersenyum dibalik niqabnya seraya berkata,"Pilihlah yang membuat hatimu tergerak sayang. Dan jangan lupa untuk meminta namanya dalam sepertiga malammu !"
__ADS_1
"Sudah Kia lakukan bund, tapi sampe sekarang belum ada petunjuk apapun."
"Kalau gitu ikuti kata hati, sekiranya hati Kia lebih tergerak dengan siapa diantara dua rejal itu. Bunda sama ayah tidak ingin memaksa nak, siapapun yang kamu sukai, insya Allah kami sebagai orang tua merestui kalian !"
"Kia masih bingung bund," ucapnya dengan serba salah.
"Kalau boleh tau siapa dua lelaki yang merebutkan putri bunda yang cantik ini, hem ?"
"Kak Reza dan abang Arkan bund. Keduanya sahabat abang Rasya," jawab Kia seraya menunduk malu. Bunda Qila tersenyum mengangguk, sejujurnya kalau boleh menyarankan, Bunda Qila sudah bisa menebak mana yang terbaik untuk anaknya diantara dua lelaki itu. Namun bunda Qila tidak ingin ikut campur untuk pilihan dan keputusan anaknya. Apapun yang membuat Kia bahagia, beliau pastilah setuju dan merestuinya.
"Pikirkan baik-baik sayang, pilihlah sesuai hatimu ! Jangan dengarkan apa pun kata orang yang tidak sama sekali menjalaninya !"
"Kalau menurut bunda siapa yang harus Kia pilih ?"
Bunda Qila kembali tersenyum."Bunda terserah Kia saja !"
"Bunda tidak ingin melihat anak bunda satu-satunya merasakan kecewa karna pilihan orang tua yang tidaklah tepat dengan hati sang anak.
Cukuplah bunda yang dulu mengalami, betapa kecewanya dengan Yahbi yang menentang hubungan bunda dengan ayahmu, Kia." Bathin bunda Qila menerawang mengingat kejadian masa lalu yang cukup membuatnya merasakan keterpurukan.
Kia hanya mengangguk. Semoga pilihanku adalah yang terbaik dan tepat, amiin.
Setelah mengobrol dengan sang bunda, Kia menyelesaikan sarapannya kemudian meraih ponselnya yang tengah ia charger di kamarnya.
Kiki
Asalammualaikum bang, Kia ingin bicara sesuatu dengan abang ! Apa abang Kan ada waktu ?
Abang Arkan
Na'am bisa dek, dimana ?
Kiki
Abang bisa kepesantren ? Sekalian temui bunda dan ayah Kia !
( Alhamdulilah, apa ini artinya Kiki akan menerimaku ? Bathin Arkan kemudian membalas kembali chat WhatsApp dari pujaan hatinya )
Abang Arkan
Insya Allah bisa, sore abang kesana !
***
Kia tidak berniat lagi membalas pesan dari Arkan, ia meletakkan kembali ponselnya di atas ranjang seraya berfikir sesuatu.
Bagaimana ini ?
Keputusan sudah ia bulatkan, ia meminta Rasya memberitahu Reza untuk datang kerumahnya sore nanti.
__ADS_1
***
Tepat di jam 4 sore, Arkan telah sampai di pesantren Nurul Huda dengan perasaan yang tak menentu, antara takut dan bahagia karna ada harapan untuk Kia bisa menerima ta'arufnya.
"Asalammualaikum," salam Arkan saat sudah berada di depan rumah Kia.
"Waalaikumsalam, masuk nak Arkan !" Pinta ayah Iqbal dan Arkan menganggukinya.
Ada hal yang tidak Arkan mengerti disini, bukan hanya dirinya yang mendatangi rumah Kia, tapi juga Reza yang ternyata sudah lebih dulu berada disana.
Keduanya sama-sama terdiam, bahkan tidak ada yang tau apa tujuan mereka mengundang untuk datang kerumahnya.
"Silahkan diminum nak Reza, nak Arkan !" Ucap Bunda Qila menyediakan jamuan untuk para tamunya.
"Na'am syukron ustazah," jawab keduanya dengan kompak. Bunda Qila mengangguk seraya tersenyum.
Beberapa menit kemudian, datanglah Kia yang akan menjadi penentu dari pilihannya itu.
Memilih salah satu diantara mereka yang akan menjadi calon suaminya nanti.
Kia hanya berharap, pilihannya adalah tepat dan yang terbaik. Dan untuk pria yang tidak dipilihnya bisa melapangkan hati menerima kenyataan bahwa mereka belumlah berjodoh.
"Asalammualaikum kak Reza, abang Kan," sapa Kia setelah mendudukan dirinya di samping sang bunda.
"Waalaikumsalam wr wb.."
"Kalian pasti bingung bukan, kenapa Kia mengundang abang Kan dan kak Reza dateng kerumah ?" Ucap Kia dan keduanya terlihat mengangguk.
Kia mengatur nafasnya perlahan mencoba menjelaskan apa tujuannya mengundang mereka.
"Begini, hari ini Kia sudah putuskan untuk menerima ta'aruf salah satu dari kalian !"
"Tunggu dulu, apa maksudnya salah satu dari kalian ?" Tanya Reza yang bingung dengan ucapan dari Azkya.
"Bukan cuma kak Reza yang meminta Kia untuk berta'aruf kak, tapi juga ada abang Arkan meminta hal yang sama," Kia menjelaskan dengan sejelas-jelasnya supaya keduanya tidak terjadi kesalahpahaman.
Sementara Arkan masih bersikap dengan tenang, seolah ia sudah memasrahkan semua takdir jodohnya pada yang maha kuasa.
Di terima atau tidaknya, Arkan akan melapangkan hati menerima kenyataan. Siapapun yang dipilih, pasti Kia sudah memantapkan hati dengan pilihannya adalah yang terbaik.
**Siapa yang akan Kia pilih ya ???
Tinggalkan
Vote
Like Komen kalian yakk
Happy Reading guys**..
__ADS_1
Bersambung