
Setelah mendengar dari cerita sang adik, niat yang sudah Rasya mantapkan untuk tidak memberitahu Aisya saat ini seakan goyah karna rasa bersalah.
Ketidaktegaannya akan sakit hati yang Aisya rasakan saat ini membuat Rasya kembali berfikir ulang.
Bagaimana nanti kalau ia tiba-tiba putus asa dan kembali lagi menjadi dirinya yang dulu ?
Rasya melakukan semua ini demi kebaikannya juga, bukan tanpa alasan mencintai wanita dengan dua nama sekaligus. Rasya tau siapa dirinya, dan tujuannya yang tiba-tiba memasuki pesantren tempat dimana ia tinggal sekarang.
Melihat kegigihannya Rasya terharu, tapi niat yang dari awal ia jalani tidaklah benar. Maka sebisa mungkin Rasya meluruskan walau dengan cara sedikit menyakiti hatinya.
Rasya melangkahkan kakinya berminat kerumah Kia menanyakan sesuatu. Di tengah perjalanannya, ia melihat Aisya berjalan dengan menunduk tidak semangat.
Rasya melebarkan langkahnya untuk bisa dekat dengan Aisya."Asalammualaikum.." sapa Rasya setelah berhasil mengejar langkah Aisya dan berjalan tepat di belakangnya.
Aisya sendiri menghentikan langkahnya setelah suara itu menyapanya."Waalaikumsalam.." Jawab Aisya tanpa membalikan badannya.
"Mau kemana Mbak ?" Tanya Rasya berbasa-basi.
"Mau ke asrama Mas," jawabnya singkat dan berniat mengakhiri percakapan mereka.
"Menjaga pandangan wajib mbk, tapi tidak harus menunduk terus seperti itu. Apa lehernya tidak sakit ?"
"(....)"
"Dan bagaimana Mbak tau kalau itu saya tanpa melihat siapa yang menyapa Mbak ?" Ucap Rasya lagi.
Dengan jengah dan tak bersemangat meladeni Rasya yang terlalu banyak bertanya, Aisya memutar badannya untuk bisa berhadapan dengan seseorang yang menyapanya itu.
Deg....
Rasya terkejut melihat bagian mata Aisya yang terlihat bengkak juga sembab. Rasa bersalah kian menyelimutinya.
Ya Allah dek, maafkan aku yang membuatku harus seperti ini...
"Afwan Mas, saya sedikit lelah. Saya rasa pertanyaan Mas-nya tidak terlalu penting untuk saya jawab. Kalau gitu saya awalan, asalammualaikum.." ucap Aisya mengakhirnya sebelum kembali melangkahkan kakinya menuju asrama.
"Waalaikumsalam wr wb.." jawab Rasya dengan lirih seraya menatap punggung Aisya yang semakin menjauh.
Hati Rasya ikut merasakan sakit melihat pujaan hatinya menangisi dirinya yang dikira telah mengkhitbah wanita lain.
Tahan. Semuanya harus ia tahan walau sesak, walaupun tidak tega melihat Aisya sedih, tapi semua akan indah pada waktunya.
Ia kembali melangkahkan kakinya menuju rumah Kia, yang tak lain dan tak bukan adalah rumah dari paman juga bibiknya, ustadz Iqbal dan ustazah Qila.
Sementara di Asrama Aisya, ia hanya terdiam duduk di tepi ranjangnya berusaha mencairkan suasana hatinya yang tengah berkecamuk itu.
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuatnya beranjak dan membukakannya.
"Asalammualaikum Teh.." sapa salah satu santriwati.
"Waalaikumsalam, ada apa ?"
"Afwan teh, saya diminta Umi untuk memanggil teh Putri !"
Aisya mengangguk, sebelum ia mengucapkan,"Terima kasih audah memberitahu."
"Sama-sama teh. Kalau gitu saya permisi, asalammualaikum."
"Waalaikumsalam wr wb.."
Aisya segera mengganti pakaiannya yang terlihat sedikit basah terutama bagian niqabnya. Setelah kembali berpakaian rapi, ia keluar dari kamar asramanya dan berjalan menuju rumah Umi Bul-bul.
"Asalammualaikum Umi.."
"Waalaikumsalam, sini nak masuk !" Pinta Umi yang kebetulan tengah duduk di ruang tamu.
Aisya mengangguk. Ia melangkah maju dan duduk di sebelah Umi Bul-bul.
"Ini, bicaralah pada orang tuamu !" Titahnya seraya memberikan ponsel yang sedari tadi ia genggam pada Aisya.
Tanpa menjawab, Aisya hanya mengangguk dan menerima ponsel itu dari tangan Umi. Umi Bul-bul yang mengerti dengan keadaan segera meninggalkan Aisya untuk lebih leluasa berbicara dengan orang tuanya.
"Waalaikumsalam. Bagaimana kabarmu sayang ? Bunda sama Ayah sangat merindukanmu."
"Alhamdulilah kabar Putri baik Bund. Putri juga sangat merindukan kalian berdua, kapan akan sambangi Putri ?" Tanyanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Aisya begitu rindu dengan sang Bunda, dimana hanya Bundalah tempat ia berbagi keluh dan kesah selain kedua sahabatnya saat di kampus.
Ingin rasanya ia menumpahkan segala isi dalam hatinya saat ini pada sang Bunda. Tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan saat di telfon.
"Hei, jangan sedih dong cantik. Bunda sama Ayah akan sambangi Putri besok, sekaligus ada hal yang mau kami sampaikan sama kamu nak."
"Apa itu Bund ?" Tanya Putri penasaran.
"Bunda tidak bisa mengatakannya hanya di telfon saja sayang. Besok akan Bunda beritahu," jawabnya.
"Baiklah Bund, Putri tunggu kedatangan kalian !"
"Iya sayang, belajar yang rajin ya nak. Besok mau dibawakan apa ?"
"Boleh Putri minta ajak kedua sahabat Putri besok Bund ? Putri kangen banget sama mereka."
__ADS_1
"Boleh sayang, nanti Bunda telfon sahabat-sahabat kamu itu ya. Ya sudah Bunda tutup dulu telfonnya, asalammualaikum..."
"Waalaikumsalam wr wb.." Putri mengakhiri panggilan telfonnya.
"Sudah selesai nak ?" Tanya Umi yang tiba-tiba muncul dari dalam.
"Na'am Umi, sudah."
"Put, boleh Umi mengatakan sesuatu ?" Putri menganggukan kepala sebagai jawabannya.
"Tidak baik mencintai hamba Allah secara berlebihan nak. Sepatutnya rasa yang begitu besar itu diberikan pada sang maha pencipta juga utusannya. Pasrahkan semuanya pada Allah, niscahaya kebaikan akan datang kepadamu tanpa harus dikejar. Begitu pun dalam mencintai lawan jenis, cukup menikung namanya disetiap shalat malamnya Putri. Dan apapun yang akan kita lakukan, niatkan dari awal hanya karna Allah ta'ala, bukan karna hal lain. Apa Putri mengerti apa yang Umi ucapkan nak ?"
"Na'am Umi, insyaallah Putri mengerti. Terima kasih sudah menasehati Putri. Kalau gitu Putri keasrama dulu Umi, sebentar lagi ada hafalan dengan Ustazah Ainun."
"Iya nak, silahkan !"
"Asalammualaikum..."
"Waalaikumsalam wr wb..."
Putri kembali keasrama dengan memikirkan apa yang baru saja Umi Bul-bul katakan. Ucapannya sama persis dengan apa yang Kia ucapkan tadi pagi. Apa sesungguhnya aku telah salah melangkah ? Pikir Putri merasa bersalah dengan apa yang selama ini lakukan.
***
Rasya yang sudah duduk berhadapan dengan sang Adik sepupunya itu merasa bingung harus bicara mulai dari mana.
"Kenapa sih Bang, Kia masih banyak tugas dari kampus tauk. Kalau bukan karna Abang, Kia juga gak mau pulang," Ucap Kia kesal dengan kakaknya yang sedari tadi hanya diam.
"Apa Abang jujur saja dengan Putri ya Dek ?"
"Jangan Bang, Abang mau usahanya sia-sia ? Lagian alasan apa Abang mau jujur sekarang ?"
"Abang tidak tega melihatnya sedih seperti itu Dek, Abang merasa bersalah. Dan hal yang paling Abang takutkan, Putri akan berpaling dan mencintai pria lain secara kamu tau begitu banyak yang mengagumi Putri, bahkan sahabat Abang sendiri, Arkan."
"Apa ? Abang Kan juga suka sama Putri ?"
**❣️ Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian yak !!!
Happy Reading guys...
__ADS_1
Kasih Vote yang banyak ya, biar Author makin semangat Up nya**....!!
Bersambung Bung Bung ❣️