
Aisya benar-benar tidak mengerti dengan bundanya yang tiba-tiba saja menyuruhnya melakukan hal yang amat jorok menurut Aisya.
Segera Aisya masuk kedalam kamar mandi, dan melakukan sesuai dengan yang bunda Elsa arahkan.
"Bund, apa bunda masih disana ?" Tanya Aisya dari dalam kamar mandi.
"Iya sayang, bunda masih disini. Apa sudah selesai ?"
Selesai apaan, bahkan gue gak ngerti makenya gimana. Lagian beda apa sih, kecil banget. Bathin Aisya menggerutu.
"Aisya !" Panggil bunda lagi.
"Aisya gak ngerti cara makenya bund," jawabnya sedikit merasa kesal.
Bunda Elsa tersenyum."Celupkan benda itu yang strips kebawah bagian putihnya sampai di bawah garis batas MAX !" Titah bunda dengan suara yang sengaja ia kencangkan supaya Aisya mendengarnya di dalam sana.
Aisya melakukan sesuai apa yang bunda Elsa arahkan."Terus bagaimana lagi bund ?" Tanya Aisya lagi sesudah melakukan hal yang pertama.
"Tunggu kurang lebih 5 menit !" Jawab bunda Elsa merasa sangat tidak sabar menunggu hasilnya.
Aisya menurut, ia masih berada di dalam kamar mandi menunggu sampai 5 menit benda yang entah apa gunanya.
Setelah 5 menit, ia keluar dari dalam kamar mandi seraya memberikan benda kecil itu pada bundanya.
"Kalau sudah kayak gini, terus gimana ?" Tanya Aisya setelah keluar dari kamar mandi seraya menyodorkan benda kecil yang sudah ia eksekusi sebelumnya pada sang bunda.
Bunda Elsa langsung menerima benda itu. Matanya berkaca-kaca setelah melihat benda yang sering orang bilang adalah Tespek.
Aisya panik sekaligus bingung dengan bundanya yang tiba-tiba menangis tanpa sebab.
"Bunda kenapa ?" Tanya Aisya. Bukannya menjawab pertanyaan dari anaknya, bunda Elsa langsung berhambur memeluk Aisya seraya terisak.
Aisya mematung. Ia masih tak mengerti kenapa sang ibu menangis tersedu-sedu dengan memeluknya begitu erat.
Beberapa menit setelah itu, bunda Elsa melepas pelukannya dan terlihat menyeka sisa air yang masih menggenang di pelupuk matanya. Ia menangkup kedua pipi putrinya seraya tersenyum, menuntun Aisya untuk keluar kamar menemui Rasya dan juga ayahnya yang tengah berbincang di teras rumah, terlihat kedua lelaki itu baru saja menyelesaikan olahraganya.
"Rasya, ayah....!" Panggil bunda Elsa yang masih berdiri di ambang pintu masuk.
Kedua lelaki itu menoleh kearahnya. Bunda Elsa memahami pasti mereka meminta penjelasan kenapa ia memanggilnya, hal itu sudah terlihat jelas dari tatapan mata mereka.
"Ada hal yang sangat penting ingin bunda sampaikan," ucap bunda Elsa.
Rasya melirik kearah Aisya yang berdiri di samping ibu mertuanya, meminta penjelasan atas hal penting apa yang ingin bunda sampaikan itu. Aisya hanya mengangkat kedua bahunya tanda ia sendiri tidak tau apapun.
"Kita bicara di dalam saja !" Ucap ayah yang tentunya sangat disetujui semua orang.
__ADS_1
"Memangnya ada apa sih bund ? Sejak bunda nyuruh Ais pake benda apa itu namanya, tes...tes...ah entahlah Aisya lupa. Bunda nangis tanpa sebab, dan sekarang hal penting apa yang ingin bunda sampaikan ?" Tanya Aisya semakin penasaran.
Ayah dan Rasya mengangguk, ia juga sama penasarannya seperti Aisya saat ini. Mereka menatap bunda yang sedari tadi hanya tersenyum tanpa tau apa sebabnya.
Bunda Elsa merogoh kantung bajunya mengeluarkan benda kecil yang tadi Aisya sudah gunakan.
"Kalian lihat ini baik-baik," bunda Elsa menunjukan alat itu pada Rasya, Aisya dan juga ayah.
"Dua garis merah !" Jawab mereka dengan kompak. Bunda Elsa mengangguk."Kalian tau apa arti dari dua garis merah ini ?"
Baik Rasya, Aisya atau pun ayah semuanya menggeleng tidak tau.
"Memangnya apa bund arti dari dua garis merah ?" Tanya Aisya yang hampir saja pingsan karna rasa penasarannya.
"Itu artinya kalian berdua sebentar lagi akan menjadi orangtua," jawab bunda Elsa antusias memberitahu mereka tentang arti dari dua garis merah yang ada pada alat bernama tespek itu.
"Ma-maksud bunda, Aisya......."
"Iya sayang, kamu Hamil !" Pangkas bunda seketika.
Air mata Aisya luruh begitu saja, orang yang pertama kali ia peluk kali ini bukanlah kedua orang tuanya, tapi orang yang telah menyandang status sebagai suaminya.
Ia menangis tersedu dalam dekapan Rasya, penantian, kesabaran, juga masalah yang selama ini di hadapi seketika dibayar tunai dengan kabar yang begitu sangat membahagiakan ini.
Alhamdulilah, Alhamdulilah, Alhamdulilah..
Terima kasih ya Allah, telah memberikan kepercayaan kepada kami dengan menitipkan anugrah terindah berupa malaikat kecil yang masih bertumbung kembang dalam perut istriku.
Rasya pun ikut menitikan air dari sudut matanya, air kebahagiaan itu kini ia rasakan bersama dengan istri juga kedua mertuanya.
Ia melepaskan pelukan istrinya seketika berjongkok dengan wajahnya yang berada tepat di depan perut Aisya.
Tangannya meraba pelan bagian perut Aisya yang masih terlihat rata itu.
Cup...
"Selamat datang di rahim ibu nak !" Gumam Rasya setelah mencium perut Aisya yang tertutup dengan kain.
Bunda Elsa menangis dalam dekapan ayah Rama, ia merasa terharu dengan perlakuan menantunya yang sudah pasti ia akan menyayangi juga menjaga Aisya dengan sebaik-baiknya.
Hal sama yang Aisya rasakan, ia mengusap pelan rambut Rasya yang masih setia berjongkok seraya mengelus perutnya.
"Mas...."
Rasya mendongakkan kepalanya menatap manik mata yang sedari tadi mengeluarkan cairan bening.
__ADS_1
Rasya mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya, ia berdiri seraya menggenggam kedua tangan Aisya dan meletakkan di dadanya.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah bersabar menghadapi berbagai ujian hidup bersamaku. Mas bahagia Aisya, mas bahagia..."
Tes
Tes
Tes...
Cairan itu kembali tumpah mengenai tangan Aisya yang saat ini tengah di kecup mesra oleh suaminya.
Aisya mengangguk."Terima kasih juga karna berkat mas, Aisya bisa melalui ini. Anna uhibbuka Zauji."
"Ana 'uhibbuki zaujati watiflana ( Aku cinta istriku dan anak kita )"
"Bunda akan telfon umi mertuamu nak, dia berhak tau kabar bahagia ini !" Ucap bunda sebelum berlalu pergi mengambil ponselnya.
Namun seketika kata 'Jangan' yang Rasya lontarkan membuat bunda Elsa menghentikan langkahnya dan berbalik menatap menantunya meminta penjelasan.
"Lebih kita tidak memberitahu umi dan abi dulu bund, Rasya sendiri yang akan memberitahunya nanti saat kembali kepesantren," ucap Rasya menjelaskan kenapa ia melarang ibu mertuanya untuk memberitahu orang pesantren termasuk kedua orang tuanya.
Bunda Elsa mengangguk mengerti, mungkin yang dimaksud Rasya adalah berbicara langsung akan lebih baik dari pada harus melalui telfon.
Sebenarnya ada hal lain yang Rasya tidak bisa menjelaskan kenapa ia melarang ibu mertuanya.
Rasya meminta Aisya untuk tetap beristirahat di dalam kamarnya karna sore nanti mereka baru akan memeriksakan kandungan Aisya ke rumah sakit.
"Mas, kenapa mas melarang bunda memberitahu umi kabar ini ? Bukankah lebih baik umi tau mas ? Karna beliaulah yang sangat tidak sabar melihat menantunya hamil," ucap Aisya merasa bingung dengan suaminya.
"Ada sesuatu yang tidak kamu mengerti dek, bahkan jika kamu tau, sangat sulit pasti untuk mempercayainya," jawab Rasya.
Terima kasih Kia, sekarang aku mengerti kenapa umi selama ini bersikap dingin dengan istriku....
Next flashback, Kia ya...
Harap sabar...!!!!
**Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian yakk
__ADS_1
Happy Reading guys**
Bersambung