
Kandungan Aisya yang saat ini berusia 3 bulan, sangat dimanjakan oleh umi Bila hingga Rasya merasa sangat kuwalahan menghadapi keinginan istrinya yang begitu sering. Walaupun begitu, Rasya tidak pernah mengeluh apa lagi sampai menolak keinginan istrinya. Karna menurutnya yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan sang istri dan pertumbuhan calon buah hati mereka.
Sampai saat ini, Aisya masih belum melihat Mona yang bertindak untuk membuat Rasya benci padanya.
Apa Mona berubah pikiran ? Pikir Aisya.
"Mikirin apa ?" Tanya Rasya yang tiba-tiba menghampiri istrinya seraya mengecup keningnya.
Aisya menggeleng, namun Rasya tau kalau Aisya tengah memikirkan sesuatu yang tidak mau ia ceritakan.
"Katakan ! Mas akan bantu," ucapnya lagi. Aisya menatap suaminya dengan lekat, menggenggam kedua tangan suaminya dan mengelus jari jemarinya dengan lembut.
"Sejauh ini Mona tidak melakukan apapun mas, apa itu artinya Mona berubah pikiran ya ?"
"Semoga saja sayang. Tapi waspada dan berhati-hati tetap perlu kita lakukan, walau bagaimanapun kita gak bisa membaca bagaimana pikiran seseorang yang terkadang gampang berubah," jelas Rasya dan Aisya mengangguk setuju.
Pastikan musuh terburukmu tidak hidup di antara dua telinga dan pikiranmu sendiri.
Seperti itulah pepatah mengatakan, namun Aisya tidak bisa mengabaikan begitu saja dengan tantangannya waktu itu. Ia sangat paham, jika saja Mona tidak mengalah untuknya, sudah pasti ia akan lebih dulu merebut sesuatu yang ia sukai. Tapi sayangnya, Mona yang dulu telah sirna. Kini tinggalah Mona yang angkuh dan picik yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau.
Di satu sisi, diam tanpa tindakan belum tentu karna berubah pikiran. Bisa saja seseorang itu tengah menyiapkan strategi untuk melawan musuhnya. Menyusun rencana yang sangat rapi dan juga matang.
***
Merelakan seseorang yang sangat berarti dalam hidup adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Ada perasaan sedih yang teramat dalam dan disertai rasa kesepian. Semua perasaan yang rumit itu seakan mengisyaratkan bahwa kita sedang merasa kehilangan.
"Terima kasih sudah datang ke hidupku dan membuatku bahagia, terima kasih sudah mencintaiku dan menerima cintaku. Tapi yang terpenting, terima kasih sudah menyadarkanku bahwa ada waktu di mana akhirnya aku dan kamu bisa merelakan sebuah kepergian. Dan waktu itu telah tiba mas Rasya, takdir dan cinta kita ternyata hanya sampai disini. Di mana aku harus pergi jauh darimu dan tidak akan pernah kembali sampai waktu yang akan membuatmu menyusulku di sana. Maafkan aku yang tidak bisa menjaganya, tidak bisa membiarkanmu melihat hingga ia lahir. Semoga Allah selalu memberikanmu kebahagiaan untuk suamiku, anna uhibbuka fillah Zauji, dunia wal akhirat."
__ADS_1
"Astagfirullahaladzhim," Rasya terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin yang sudah membanjiri dahinya.
Ia mengusap kasar wajahnya kemudian beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Jarum jam tepat berada di angka satu dini hari, Rasya menunaikan shalat malamnya setelah ia kembali dari kamar mandi.
Hatinya gelisah, pikirannya juga kalut di racuni dengan rasa takut.
"Ya Allah ya rabb yang maha pengasih lagi maha penyayang. Jangan jadikan aku orang serakah yang begitu takut akan hambamu yang sangat aku cintai. Tapi jangan biarkan pula aku merasakan kehilangan mereka. Berikanlah waktu dan kesempatan yang panjang untuk hidup kami, baru saja kami merasakan kebahagiaan karna hadirnya malaikat kecil di rahim Aisya. Aku mohon jangan kau renggut secepat itu ! Aku hanya bisa memohon dan memasrahkan segalanya, tetapi tetap engkaulah yang maha berkuasa pemegang teguh alam semesta dan isinya."
Usai menyelesaikan shalat tahajudnya, Rasya melirik kearah ranjang. Terlihat wajah cantik itu tengah terlelap dengan nyenyaknya.
Rasya beranjak dari duduknya menuju ranjang.
Cup...
Ia mengecup cukup lama kening istrinya seolah rasa takutnya itu akan terjadi.
Ia membaringkan tubuhnya di samping sang istri dan ikut terlelap sambil memeluknya.
***
Di kamar asrama santriwati, lebih tepatnya di kamar Icha dan Mona, hawa dingin begitu terasa sejak satu bulan yang lalu. Walaupun berada di dalam satu kamar, Icha saat ini merasa sangat jijik bahkan tidak sudi untuk mengobrol atau sekedar bertanya pada Mona.
Hal itu sangat sulit Icha lakukan, karna setiap harinya teman dekat di asrama hanyalah Mona di saat Kia tidak menginap di sana. Tapi ketika mengingat perlakukan Mona pada Aisya, Icha begitu sangat benci dengan sikap Mona itu. Bahkan sampai saat ini, Mona tidak ada merasa bersalah sedikit pun pada Aisya. Yang ada malah ia semakin menantang Aisya sebelum keinginannya itu terpenuhi.
Gue kangen Mona yang dulu, yang baik hati dan tidak berlaku picik seperti ini. Kapan lo sadar dan nyerah Mon ? Gue sedih ngeliat sikap lo yang berubah kayak gini. Gumam Icha dalam hati menerawang jauh ke arah jendela.
__ADS_1
Tiba-tiba Mona masuk seraya menelfon seseorang. Icha tidak perduli dan tidak mau tau lagi urusan Mona kali ini. Namun jika saja semua itu ada hubungannya dengan Aisya, Icha tidak akan segan-segan untuk melawannya.
"Gue gak mau tau, pokoknya apa yang gue suruh harus lo lakuin secepatnya !" Ucap Mona pada seseorang yang ia telfon.
"Jangan bilang lo ngerencanain sesuatu untuk Aisya ?" Tanya Icha akhirnya membuka suara setelah sekian lama.
"Bukan urusan lo !"
"Oh, jelas urusan gue dong, karna Aisya adalah sahabat gue. Apapun yang berhubungan dengan Aisya gue wajib tau dan wajib membuat perhitungan dengan orang yang ingin mencelakai sahabat gue," jawab Icha dengan tegas.
"Ck, belagu digedein, buktiin dong !" Tantang Mona kemudian pergi meninggalkan Icha.
Icha mengepalkan tangannya dengan kuat, ia semakin geram dengan sikap Mona yang berubah itu. Entah sampai kapan semua ini akan berakhir dengan damai. Tapi hal yang pasti, Icha perlu memperingatkan Aisya dan Rasya untuk lebih berhati-hati dan waspada, karna saat ini Mona sudah pasti merencanakan sesuatu untuk Aisya dengan sangat matang.
***
Di suasana lain, Mona menyeringai lebar setelah melihat isi pesan dari seseorang.
Gue sudah siapkan rencana ini dengan matang Aisya. Jangan lo kita gue diem selama sebulan ini karna gue ingin berdamai sama lo. Ck, jangan mimpi, karna hal itu gak akan pernah terjadi. Yang gue mau, menikah dengan kak Rasya tanpa berbagi dengan siapapun. Kalau lo nganggap gue mau jadi istri kedua, lo salah besar karna niat gue merebut apa yang harusnya jadi milik gue dari dulu. Sudah gue pastikan, setelah ini hidup lo bakalan tenang tanpa ada yang ganggu !
**Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian yak
__ADS_1
Happy Reading guys**
Bersambung