
Tidak perlu mengatakan apapun menurut Aisya, karna dengan Rasya mengkhitbah akhwat lain saja itu sudah cukup jelas bahwa memang bukan dirinya yang di harapkan untuk mendampingi hidup Rasya.
"Karna kamulah orangnya dek. Kamulah perempuan yang aku khitbah itu, Aisya putri !"
Deg..
Aisya semakin menatap dengan lekat manik mata yang juga tengah menatapnya. Tidak mungkin, Rasya orang yang telah mengkhitbahnya. Sudah jelas orang tuanya mengatakan nama pemuda itu adalah Faraz dan bukan Rasya.
Lelucon macam apa ini ? Kenapa mereka dengan seenaknya mempermainkan hati seseorang seperti ini ?
Aisya menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja Rasya katakan.
Ia memalingkan wajahnya kearah lain seraya mengusap air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Itulah kebenarannya Aisya. Akulah pria yang sudah mengkhitbahmu dan kamulah wanita yang aku khitbah itu. Maafkan aku harus menyembunyikan hal sebesar ini darimu, tapi jangan salah paham aku melakukannya juga demi kebaikanmu," jelas Rasya.
"Kebaikan yang bagaimana yang kamu maksud kak ? Apa dengan mempermainkan perasaan itu pantas disebut dengan kebaikan ? Siang malam aku menahan sakit hatiku karna dirimu, aku mencintaimu kak Rasya. Apa kau tau bagaimana aku menahan perihnya hati setelah mendengar kau mengkhitbah seorang wanita ? Apa kau juga tau bagaimana aku harus menerima dengan terpaksa pinangan dari lelaki yang sama sekali tidak aku kenal ? Kau sudah mempermainkan kehidupanmu kak, aku benci dirimu hiks hiks aku benci dirimu.."
"Jangan menangis dek, ku mohon ! Aku minta maaf untuk semuanya. Sejujurnya sejak awal aku mengetahui kalau kamu adalah Aisya ku, wanita yang sudah lama aku rindukan. Tapi karna kau sengaja menyembunyikan indetitasmu dariku, maka dari itulah aku mengikutinya dengan meminta bantuan pada Kia untuk membuatmu mengerti bagaimana hijrah yang sesungguhnya. Bahkan akulah yang meminta Ayah juga Bunda untuk tidak mengatakan yang sebenernya padamu. Aku pun sama Aisya, ana uhibbuka fillah dek," ucap Rasya berusaha menenangkan wanita yang tengah terisak itu.
Rasya yang tengah berusaha meyakinkan Aisya itu makin seperti orang yang keilangan akal. Berbeda dengan kedua orang tuanya yang tengah berdebat di ruang keluarga seraya menonton tv.
"Harusnya si Rasya itu langsung saja memeluknya. Pasti Aisya akan luluh," ucap Ustadz Aqil merasa greget dengan anaknya.
"Jangan macam-macam ya Bi, sudah ku pastikan anakku itu tidak akan seperti dirimu. Yang maen peluk anak orang sebelum jadi makhromnya," gerutu ustazah Bila mengingat bagaimana suaminya dulu saat mereka belum menikah.
"Tapi nyamankan mi, Abi peluk ?" Ucap ustad Aqil seraya menaik turunkan alisnya membuat ustazah Bila bersemu seraya mencubit pelan perut suaminya.
"Awww, sakit mi," ucapnya meringis seraya mengusap perutnya.
"Oh jadi Abi sama Umi pernah pelukan sebelum nikah. Baiklah, Abi bisa kenapa Rasya tidak ?" Ucap Rasya yang tiba-tiba muncul di belakang mereka seraya tangan yang ia lipat di dadanya.
"Aisya, ayo ke kamar dek !" Ucap Rasya sedikit berteriak berharap Aisya mendengarnya.
"Rasya, kau berani macam-macam Umi potong anu mu !" ancamnya membuat Rasya bergidik ngeri dan membalikan badannya seraya berkata,"Aku tidak segila Abi, Mi. Jadi tenang saja !" Ucap Rasya kembali menemui Aisya yang masih terlihat kecewa padanya.
__ADS_1
Bagaimana masa depanku kalau di potong ?
Ih, serem....
Rasya kembali mendudukan dirinya di depan Aisya. Namun kali ini ia tidak duduk sejajar di sofa, melainkan ia bersimpuh di lantai tepat di depan Aisya duduk saat ini.
"Kak apa yang kamu lakuin ?" Tanya Aisya tidak enak hati.
"Tidak ada. Hanya ingin menatapmu lebih dekat dan berharap kau tidak lagi marah padaku," jawabnya.
"Bangunlah kak, jangan seperti ini ! Bagaimana kalau orang tuamu melihatnya ?"
"Biar saja."
Jawaban macam apa itu, kenapa dia tidak mau mengerti sama sekali sih ? Gerutu Aisya begitu geram melihat tingkah pria yang satu ini.
"Bangun, atau aku pergi ?!" Ancamnya membuat Rasya langsung duduk kembali di sofa.
Hening tak ada percakapan di antara keduanya hingga beberapa menit. Aisya sendiri sejujurnya tidak tega jika harus marah dengannya seperti ini, tapi ia juga perlu melihat bagaimana usaha Rasya untuk meyakinkannya.
Kebenaran tentang Rasya yang juga mencintainya membuat dunianya yang gugur kembali bersemi. Apakah itu artinya Allah mendengar doa-doaku ? Allah telah mengabulkannya ?
"Maafkan aku Dek !" Ucap Rasya membuat Aisya menatapnya penuh iba.
Tatapan Rasya mendadak sendu, akankah Rasya pasrah dengan semua kekecewaan Aisya ?
Jika ia tau kalau Aisya akan marah seperti ini, dari awal ia tidak akan menyembunyikan apapun darinya. Penyesalan yang datang di akhir membuat Rasya bingung apa yang harus ia lakukan untuk membuat Aisya percaya, apa yang Rasya lakukan adalah demi kebaikannya dan bukan bermaksud mempermainkan perasaannya.
"Kalau aku memaafkanmu, apa setelah ini kau akan mempermainkanku lagi ?" Pertanyaan Aisya, Rasya menjawabnya dengan gelengan kepala.
Jawaban tanpa suara itu begitu mantap dan yakin Rasya berikan untuk tidak lagi mengecewakannya.
"Aku tidak bisa janji dek, karna setiap manusia tidak bisa luput akan salah juga lupa. Tapi aku ingin berusaha semampuku untuk tidak membuatmu kecewa atau menitikan air matamu. Aku ingin berusaha membuatmu selalu tersenyum bahagia hidup bersamaku. Aku tidak bisa menjanjikan kemewahan, tapi insya Allah aku mampu memberikan apa yang kamu butuhkan !" Ucap Rasya mantap membuat Aisya semakin yakin dengan pria itu.
"Percayalah Aisya, aku mengagumi dalam diamku sewaktu di kampus dulu. Hingga hari di mana aku harus menyaksikan sahabatku sendiri mengatakan perasaannya padamu di depan umum, membuatku harus mengubur dalam-dalam perasaanku, tapi nyatanya aku tidak melakukannya. Rindu yang aku pendam untukku hanya bisa aku katakan pada Kia dan menanyakan bagaimana keadaanmu padanya. Saat takdir membawamu kepesantren ini, aku semakin yakin jika dirimulah yang Allah takdirkan untukku. Saat itu aku hanya bisa mengucapkan dalam hati ahlan wa sahlan pujaan hati," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Aku memaafkanmu kak. Aku berharap kedepannya nanti tidak ada yang disembunyikan lagi, apapun itu !"
"Iya, sayang.."
Blus...
Wajah Aisya mendadak panas mendengar Rasya yang memanggilnya dengan kata sayang.
Senyumnya mengembang di bibir indahnya, masih beruntung tidak ada yang melihat senyumnya itu. Mungkin saja orang akan menertawainya jika melihat wajahnya yang mendadak merah.
"Kak, apa aku boleh mintak sesuatu padamu ?!"
"Na'am, katakanlah !"
"Aku hanya minta, halalkan aku besok pagi !"
**Huah, Aisya nih yang gak sabar....
Minta mahar yang mahal ya Is !🤣🤣
Wanita berhak meminta wkwkwk
Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya...
Biar Author makin semangat Upnya...
Sekali-kali atuh kasih Author Koin !!!
Happy Reading guys**...
__ADS_1
Bersambung