
Rasya tersenyum tipis, bahkan senyuman itu hampir tidak terlihat, setelah ia mendengarkan dengan seksama cerita Aishi.
Andai saja takdir segera mempertemukannya dengan wanita itu, hingga ia tak perlu lagi menerka-nerka siapa perempuan bercadar yang Aishi sebut sebagai uminya.
***
Di tempat lain, seseorang buru-buru datang kerumah sakit mengingat ia sudah ditunggu sejak tadi.
"Asalammualaikum," sapanya seraya membuka kenop pintu.
"Waalaikumsalam, dari mana saja sih kamu ?"
"Maaf kak Evan, Sya cuma pengen jalan-jalan sebentar," jawabnya seraya tertunduk.
Evan tersenyum, ia tau jika wanita yang ada di depannya saat ini begitu takut akan kemarahannya. Hingga ia tertunduk seperti itu dan tak berani menatapnya.
"Hei, aku gak marah cantik. Oh ya, mama barusan telfon, dan bilang kalau kita harus kesana sekarang !"
Isya pun mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya berjalan mengikuti Evan dari belakang.
Tidak ada percakapan di dalam mobil, hanya ada suara musik radio yang menemani keheningan diantara keduanya.
Hingga akhirnya mobil berhenti tepat di pelataran rumah megah milik keluarga Anggara.
"Asalammualaikum," sapa Evan dan Isya saat mulai masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam, akhirnya yang ditunggu datang juga," ucap Dinda yang tak lain adalah ibunda dari Evan.
"Kenapa mama tiba-tiba meminta kita dateng kemari ? Mencurigakan !"
"Hei, jangan seudzhon ! Dasar anak durhaka. Mama meminta kalian dateng karna ada hal yang pengen mama omongin," jawabnya.
"Apa ? Mencurigakan !" Ucap Evan dan langsung mendapat pelototan dari mamanya.
"He he he, becanda mama sayang. Katakan ! Apa yang ingin mama omongin," lanjut Evan lagi.
"Begini, kalian itu bertunangan sudah sangat lama, apa tidak sebaiknya sekarang kita tentukan tanggal pernikahan ?"
Deg....
"Iya, karna mama sudah sangat tidak sabar pengen menimang cucu," lanjut Dinda lagi dengan antusiasnya.
Seketika kepala Isya memutar, bayangan wajah seseorang bermunculan dalam memory ingatannya. Wajah yang samar-samar dan suara-suara yang semakin membuat kepalanya merasa sakit.
*Pikirkan saja, bagaimana caranya kalian memberikan kami seorang cucu.
Seorang anak, anak, anak, anak
Pikirkan saja, bagaimana caranya kalian memberikan kami seorang cucu*
"Astagfirullah, Isya. Isya kamu kenapa ?"
"Ke-kepala Isya, sa-sakit kak," jawabnya lirih kemudian ia terbaring tak sadarkan diri.
__ADS_1
Evan langsung mengambil peralatan medisnya kemudian memeriksa kondisi Isya saat ini. Semakin ia menekannya, semakin ingatan itu akan membuat Isya merasakan sakit kepala yang hebat, bahkan bisa saja keadaannya akan kembali seperti dulu.
Maafkan aku Isya, andai dulu aku tidak memaksamu untuk melakukan semua ini. Mungkin saat ini kau sudah bahagia bersama dengan keluargamu.
...^^^ Flashback ON^^^...
6 Tahun lalu, datanglah keluarga besar dari pesantren Nurul Huda ke rumah sakit dengan wajah panik bercampur air mata.
Dan ternyata, menantu dari ustadz Aqil Maulana itu mengalami kecelakaan hebat dalam kondisi sedang hamil tua.
Wajahnya rusak cukup parah, yang lebih mengerikan lagi benturan di kepalanya itu sampai membuatnya koma dan harus segera di operasi untuk mengeluarkan bayi dari dalam rahimnya.
Dan ya, dokter yang menangani pasien itu adalah Dr. Evan Dimas Anggara. Seorang dokter muda dan ahlinya di bidang bedah, Dokter Evan menangani Aisya dengan di bantu dokter Ayu sebagai dokter ahli kandungan.
Setelah berhasil mengeluarkan bayi yang berjenis kelamin perempuan itu, kondisi Aisya semakin parah. Ia mengalami pendarahan hebat dan membutuhkan transfusi darah yang lumayan banyak. Beruntung, persediaan darah di rumah sakit itu masih ada, hingga tak perlu lagi dokter Evan dan dokter Ayu meminta salah satu keluarga pasien mendonorkan darahnya.
Dokter Ayu memilih keluar terlebih dulu untuk memberitahu berita bahagia sekaligus sedih ini pada keluarga pasien.
Ceklek....
"Bagaimana keadaan anak dan istri saya dokter ? Apa mereka baik-baik saja ?" Tanya Rasya seraya mengguncang tubuh dokter itu.
"Selamat pak, putri anda telah lahir dengan sehat. Tapi......."
"Tapi apa dokter ?"
"Istri anda mengalami koma dengan luka yang cukup serius di bagian kepalanya. Dan luka di bagian wajahnya juga cukup parah," jelas sang Dokter.
"Lalu kapan istri saya akan sadar dok ?"
"Semuanya bagaimana kehendak Tuhan dan dari pasien sendiri pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan penanganan yang terbaik, tapi tetap kita harus berdoa memohon pada yang maha kuasa pemilik segala nyawa," ucap Dokter.
"Kalau gitu, saya izin permisi pak buk !" Lanjutnya lagi.
Rasya langsung mengadzani bayi mungil yang cantik dan sangat mirip dengan ibunya itu.
Tidak pernah ada hari yang ia lewatkan untuk datang ke rumah sakit menemani istri tercintanya yang masih tidur dengan nyenyak.
Rasya menjaga Aisya bergantian dengan kedua mertuanya, bahkan ayah Rama dan bunda Elsa rela harus bolak-balik jakarta-bandung demi bisa menemani putri mereka yang masih dalam keadaan koma itu.
Hari berganti minggu dan sudah hampir 1 bulan Aisya mengalami koma. Jangan ditanya lagi bagaimana penampakan Rasya saat ini, rambut yang mulai gondrong, baju kusut, bahkan mata yang jelas kurang tidur begitu terlihat.
"Aisya, sudah satu bulan kamu tidur di ranjang ini sayang. Apa kamu tidak merasa bosan dan merindukan tempat tidur kita, hem ? Mas saja rindu dek, bangunlah sayang ! Mas dan anak kita sangat-sangat membutuhkanmu."
Bunda Elsa menitikan air matanya seraya menggendong cucunya itu. Tiba-tiba saja bayi mungil dalam gendongannya menangis tanpa henti seperti ikut merasakan apa yang tengah kedua orang tuanya alami.
Oowek.....owekkk..owek...
"Aishi kenapa bund ?"
"Entahlah Sya, tiba-tiba saja Aishi nangis," jawab bunda Elsa.
Owek...owek...owek...
__ADS_1
Rasya beranjak dari duduknya mengambil alih Aishi dari gendongan ibu mertuanya."Cup-cup, sayang. Bun bisa bantu buatkan susu Aishi ?"
"Iya sya, tentu !"
Bunda Elsa segera membuatkan susu untuk cucunya dan mengambil beberapa peralatan yang masih tertinggal di mobil. Sementara Rasya sendiri, membaringkan Aishi di samping Aisya. Ajaib, bayi itu tiba-tiba menghentikan tangisnya setelah berada di samping sang ibu. Rasya tersenyum dengan penuh haru melihat anaknya yang ternyata begitu rindu dengan ibunya.
Ia menatap kedua wanita yang menjadi belahan jiwanya itu secara bergantian. Rasya menangis, ia berharap Allah menurunkan kekuasaannya untuk menyadarkan Aisya dari komanya. Kemudian ia menatap bayi mungil tak berdosa itu, terlihat bayinya begitu tenangnya berada di samping sang ibu. Rasya menewarang kedepan, bagaimana nasib sang anak ketika hidupnya tanpa ada ibu yang menjadi malaikat pemenuh segala kebutuhannya saat ia semakin bertumbuh besar nanti.
Aisya, mas tidak akan bisa menjadi sepertimu yang bisa menjadi pemenuh segala kebutuhan. Mas mohon bangunlah sayang ! Tidak melihatkah kamu bagaimana Aishi begitu membutuhkan ibunya ? Mas tidak akan sanggup menjadi ayah sekaligus ibu untuk Aishi sayang. Mas mohon bangunlah Aisya, bangun !
Setelah Rasya mengatakan keluh dan kesahnya pada sang istri, tiba-tiba saja tubuh Aisya mengalami kejang.
Tit.................
Suara di monitor sambil memperlihatkan grafis kerja organ tubuh seperti detak jantung.
Tapi sayangnya, grafis itu telah lurus tak bergelombang.
"Dokter ! Dokter....."panggil Rasya panik seraya menggendong Aishi yang kembali menangis.
Bunda Elsa berlari tergopoh-gopoh setelah mendengar teriakan Rasya.
"Ada apa Sya, ada apa ?"
"Aisya bund, Aisya kejang !"
"Astagfirullah, dokter....dokter, tolong anak saya dok !" Bunda Elsa pun ikut memanggil dokter dengan raut wajah yang sangat panik.
Dokter Evan itu berlari menghampiri ruang rawat Aisya dan langsung memeriksanya.
Ia mengambil alat pacu jantung dan di tempelkan pada tubuh Aisya. Beberapa kali ia lakukan, namun suara dan grafis di monitor itu tak kunjung berubah. Dan pada akhirnya, inilah hasil dari kerja kerasnya selama 1 bulan menangani pasien ini.
Dokter Evan keluar dari ruangan dengan raut wajah yang cukup prihatin.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter, bagaimana ?" Tanya Rasya seraya mengguncang tubuh dokter Evan.
"Ini takdir yang maha kuasa pak. Saya sudah melakukan penanganan yang semaksimal mungkin selama satu bulan ini, tapi takdir berkata lain. Pasien dinyatakan telah meninggal !"
Deg...
"Tidak mungkin dokter, ini tidak benar ! Aisya pasti masih hidup. Aisya..........!" Rasya berlari masuk kedalam dan melihat tubuh istrinya yang sudah ditutupi dengan kain.
"Aisya bangun sayang, bangun ! Hiks hiks, jangan tinggalkan mas dan Aishi sayang, bangun Aisya, mas mohon bangun ! Hiks hiks. Bunda, bunda adalah ibunya bunda pasti bisa bangunin Aisya bund, ayo bund bangunin Aisya !" Rasya beralih pada ibu mertuanya yang sedari tadi menangis seraya menggendong Aishi.
"Ayo bund, Rasya mohon bangunin Aisya ! Hiks hiks, Rasya mohon bund !" Ia terduduk bersimpuh di kaki ibu mertuanya.
Berharap istrinya akan bangun jika ibunya yang membangunkan. Tapi bunda Elsa tak kuasa, orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya terkapar tak bernyawa. Tapi inilah takdir Allah, Aisya adalah titipan yang bisa saja sewaktu-waktu akan di ambil oleh pemilik abadinya.
Lanjut nanti ya, masih flashback kok
VOTE nya jangan lupa !!
Bersambung
__ADS_1