
Pagi sekali, sebelum Evan memeriksa kondisi Aisya, ia lebih dulu pergi ke ruang CCTV untuk menonaktifkan CCTV yang ada di sekitar kamar rawat Aisya.
Oke cantik, akhirnya setelah sekian lama aku menunggumu, sekarang kita dipertemukan di sini. Ya walaupun kau sudah bersuami, tapi aku akan merebut mu kembali ! Salah siapa sudah membuatku tergila-gila padamu. Bathin Evan menyeringai setelah berhasil menonaktifkan CCTV.
Evan kembali melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Aisya. Terlihat Rasya tengah tertidur pulas setelah menyelesaikan shalat subuhnya.
Maafkan aku Isya, sejujurnya ini bukan keinginanku. Profesiku menjadi taruhannya, jika dalam sebulan kedepan aku tidak membawa calon istri ke hadapan mama dan papa.
Evan menggendong tubuh Aisya dan membawanya ke kamar sebelah. Sementara pasien yang ada di kamar itu pun di pindahkan keruang rawat Aisya, bahkan evan sudah menyiapkan cadar untuk pasien wanita itu.
Rencana yang sempurna. Setelah Evan tau bahwa pasien yang di tanganinya adalah Isya teman masa kecilnya, rencana untuk membantu penyembuhan Aisya sudah ia tekadkan. Namun di sisi lain, ia juga mempunyai tujuan khusus selain ingin melihat teman masa kecilnya itu sembuh.
( Bisa di bilang pasien yang di tukar ! 😂 )
Aman, oke saatnya kembali menyalakan CCTV
Di rasa semuanya beres, Evan dengan langkah santainya kembali menuju ruangan Aisya. Namun kali ini ia mengetuk pintu terlebih dahulu, berharap suami Aisya akan terbangun karna suaranya.
Tok..
Tok..
"Astagfirullah," Rasya mengucek matanya dan melirik jam dinding.
"Ya Allah, aku ketiduran sampai sesiang ini," gumamnya kemudian beranjak dari sofa dan menghampiri ranjang istrinya.
"Permisi pak, saya mau cek pasien sebentar !"
"Silahkan dok !"
"Apa ada perkembangan baik dok ?" Tanya Rasya setelah melihat Evan menyelesaikan pemeriksaannya.
Evan menghela nafasnya kemudian menggeleng."Belum ada pak, kondisinya masih sama. Saya permisi dulu, mau cek pasien kamar sebelah, kalau ada apa-apa panggil saja !"
Rasya mengangguk. Ia menatap manik mata istrinya penuh harap. Rasya tidak sanggup melihat wajah Aisya yang hancur akibat kecelakaan itu, rasanya semakin sakit jika ia melihatnya. Ia mengecup kening sang istri seraya menitikan air mata.
"Aisya, sudah satu bulan kamu tidur di ranjang ini sayang. Apa kamu tidak merasa bosan dan merindukan tempat tidur kita, hem ? Mas saja rindu dek, bangunlah sayang ! Mas dan anak kita sangat-sangat membutuhkanmu."
__ADS_1
Bunda Elsa yang baru saja sampai itu langsung menitikan air mata seraya menggendong cucunya. Tiba-tiba saja bayi mungil dalam gendongannya menangis tanpa henti seperti ikut merasakan apa yang tengah kedua orang tuanya alami.
Oowek.....owekkk..owek...
"Bunda. Aishi kenapa bund ?"
"Entahlah Sya, tiba-tiba saja Aishi nangis," jawab bunda Elsa.
Owek...owek...owek...
Rasya beranjak dari duduknya mengambil alih Aishi dari gendongan ibu mertuanya."Cup-cup, sayang. Bun bisa bantu buatkan susu Aishi ?"
"Iya sya, tentu !"
Bunda Elsa segera membuatkan susu untuk cucunya dan mengambil beberapa peralatan yang masih tertinggal di mobil. Sementara Rasya sendiri, membaringkan Aishi di samping Aisya. Ajaib, bayi itu tiba-tiba menghentikan tangisnya setelah berada di samping sang ibu. Rasya tersenyum dengan penuh haru melihat anaknya yang ternyata begitu rindu dengan ibunya.
Ia menatap kedua wanita yang menjadi belahan jiwanya itu secara bergantian. Rasya menangis, ia berharap Allah menurunkan kekuasaannya untuk menyadarkan Aisya dari komanya. Kemudian ia menatap bayi mungil tak berdosa itu, terlihat bayinya begitu tenangnya berada di samping sang ibu. Rasya menewarang kedepan, bagaimana nasib sang anak ketika hidupnya tanpa ada ibu yang menjadi malaikat pemenuh segala kebutuhannya saat ia semakin bertumbuh besar nanti.
'Aisya, mas tidak akan bisa menjadi sepertimu yang bisa menjadi pemenuh segala kebutuhan. Mas mohon bangunlah sayang ! Tidak melihatkah kamu bagaimana Aishi begitu membutuhkan ibunya ? Mas tidak akan sanggup menjadi ayah sekaligus ibu untuk Aishi sayang. Mas mohon bangunlah Aisya, bangun !'
Setelah Rasya mengatakan keluh dan kesahnya pada sang istri, tiba-tiba saja tubuh Aisya mengalami kejang.
Suara di monitor sambil memperlihatkan grafis kerja organ tubuh seperti detak jantung.
Tapi sayangnya, grafis itu telah lurus tak bergelombang.
"Dokter ! Dokter....."panggil Rasya panik seraya menggendong Aishi yang kembali menangis.
Bunda Elsa berlari tergopoh-gopoh setelah mendengar teriakan Rasya.
"Ada apa Sya, ada apa ?"
"Aisya bund, Aisya kejang !"
"Astagfirullah, dokter....dokter, tolong anak saya dok !" Bunda Elsa pun ikut memanggil dokter dengan raut wajah yang sangat panik.
Dokter Evan itu berlari menghampiri ruang rawat Aisya dan langsung memeriksanya.
__ADS_1
Ia mengambil alat pacu jantung dan di tempelkan pada tubuh Aisya. Beberapa kali ia lakukan, namun suara dan grafis di monitor itu tak kunjung berubah. Dan pada akhirnya, inilah hasil dari kerja kerasnya selama 1 bulan menangani pasien ini.
Dokter Evan keluar dari ruangan dengan raut wajah yang cukup prihatin.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter, bagaimana ?" Tanya Rasya seraya mengguncang tubuh dokter Evan.
"Ini takdir yang maha kuasa pak. Saya sudah melakukan penanganan yang semaksimal mungkin selama satu bulan ini, tapi takdir berkata lain. Pasien dinyatakan telah meninggal !"
Deg...
"Tidak mungkin dokter, ini tidak benar ! Aisya pasti masih hidup. Aisya..........!" Rasya berlari masuk kedalam dan melihat tubuh istrinya yang sudah ditutupi dengan kain.
"Aisya bangun sayang, bangun ! Hiks hiks, jangan tinggalkan mas dan Aishi sayang, bangun Aisya, mas mohon bangun ! Hiks hiks. Bunda, bunda adalah ibunya bunda pasti bisa bangunin Aisya bund, ayo bund bangunin Aisya !" Rasya beralih pada ibu mertuanya yang sedari tadi menangis seraya menggendong Aishi.
"Ayo bund, Rasya mohon bangunin Aisya ! Hiks hiks, Rasya mohon bund !" Ia terduduk bersimpuh di kaki ibu mertuanya.
Berharap istrinya akan bangun jika ibunya yang membangunkan. Tapi bunda Elsa tak kuasa, orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya terkapar tak bernyawa. Tapi inilah takdir Allah, Aisya adalah titipan yang bisa saja sewaktu-waktu akan di ambil oleh pemilik abadinya.
"Dokter saya mohon pasang kembali alat itu dok, istri saya belum meninggal dokter, dia masih hidup !" Rasya beralih menatap dokter Evan seraya mengguncang tubuhnya penuh permohonan.
"Maafkan saya pak, sejujurnya selama ini pun saya sudah menyalahi kode etik kedokteran. Dan mungkin sebentar lagi saya akan mendapat teguran dari pemerintah pusat. Saya melakukannya hanya karna pasien keluarga besar Kyai Farhan, dan beliau adalah guru abdian papa saya. Sekali lagi saya minta maaf pak, inilah takdirnya. Mohon di ikhlaskan !"
"Rasya, bunda mohon ikhlaskan nak ! Kasihan Aisya Sya, hiks hiks."
"Apa bunda tidak sayang Aisya ? Rasya yakin Aisya masih hidup bund, percaya sama Rasya !"
"Rasya, orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya terbaring tak bernyawa nak. Tapi bunda bisa apa ? Aisya hanyalah titipan Allah yang di titipkan pada kami, hiks hiks bunda merasa kehilangan Sya. Aisya adalah anak kami satu-satunya," Setegar-tegarnya seorang ibu, nyatanya dialah orang yang paling rapuh jika hal itu berhubungan dengan darah dagingnya.
Tapi semua nyawa ada pemilik abadinya, manusia hanyalah titipan atau tempat menitipkan. Wajar saja jika sang pemilik sewaktui waktu mengambilnya, ikhlas tidak ikhlas, terima atau tidak, semua itu tidak berpengaruh jika yang pencipta sudah berkehendak.
**Maaf ya Author kemarin sibuk, baru bisa up hari ini.
Sibuk nyari gambar beruang, iklannya naga, isinya susu sapi. Yang harganya lagi menggemparkan Indonesia itu loh🤣🤣🤣.
Suka atau tidak dengan jalan ceritanya, tolong komen yang sewajar dan sepantasnya saja oke** !
***Happy Reading guys
__ADS_1
Bersambung***