Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

Melihat bayangan awan biru dari dalam air yang tenang membuat seseorang begitu betah berlama-lama di sana.


Setidaknya teriknya matahari bisa tertutup pohon rindang yang berada tepat di pinggiran sungai.


Aisya siap untuk jatuh cinta, berarti juga siap merasakan yang namanya patah hati. Sebab nggak semua perjalanan cinta itu berakhir menyenangkan bukan ? Ada pula yang harus merasakan sakit hati karena, ditolak, diselingkuhi, disepelekan hingga diputusin atau bahkan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Namun karena terlanjur sayang, akhirnya yang didapatkan Aisya hanya rasa kecewa dan patah hati. Ketika dia pergi atau meninggalkannya, yang mencintai dan menunggu cintanya pun akan merasakan sepi dan sedih.


Saat tengah mengalami patah hati, janganlah sampai terlalu larut dalam waktu yang lama. Sebab terkadang harapan berbanding terbalik dengan kenyataan.


Semuanya tidak ada yang abadi, jika ada senang pasti ada sedih. Yakin bahwa kehidupan dapat berputar, di sungai yang begitu tenang ini Aisya meratapi hatinya yang tengah terluka juga berusaha melupakan Rasya dan segera Move On dari segala rasa untuk-nya.


Kenapa begitu sulit untuk mendapatkan dirimu kak Rasya ?


Jangankan untuk mendapatkan perasaan cinta, perhatianmu saja sulit aku raih. Apa yang tidak aku miliki dari wanita impianmu ? Aku mulai berhijrah pun sama sekali tidak kau lirik, bagaimana jika aku menyerah cukup sampai di sini dan kembali menjadi seorang Aisya yang dulu ? Apa hanya kebencian yang akan kau berikan untukku kak ? Tapi setidaknya dengan kau benci aku tidak berharap padamu, berharap dan yakin bahwa kaulah yang telah Allah kirim untuk menuntunku kejalan yang benar. Tapi nyatanya ekpetasiku tidak sesuai dengan realita, bahkan kau bukanlah jodoh yang Allah kirim untukku.


Tes..


Tes..


Buliran cair berwarna bening itu menetes dari pelupuk mata Aisya. Apakah patah hati itu sesakit dan sesesak ini rasanya ? Jika ku tau akan seperti ini rasanya, aku memilih menjadi Aisya yang dulu, tanpa harus mengenal apa itu cinta dan dicintai seseorang tanpa mencintainya.


"Masalah tidak akan selesai dengan menangis sendirian di sini," ucap seseorang menghampiri Aisya. Aisya yang mendengar suara itu langsung mengusap sisa air matanya sebelum menoleh melihat siapa yang datang.


"Kia...kapan kau datang ?" Tanya Aisya segera beranjak dari duduknya.


Kia tidak menjawab apa yang Aisya tanyakan, ia langaung berhambur memeluk perempuan yang akan menjadi kakak iparnya itu. Namun sayangnya, saat ini hal itu masih disembunyikan rapat oleh Rasya dan keluarga.


"Asalammualaikum saudariku, aku sampe tadi malam. Kamu apa kabar Ais ?" Tanya Kia setelah melepaskan pelukannya.


"Waalaikumsalam, alhamdulilah kabarku baik.." jawab Aisya tersenyum di balik niqabnya.


"Tapi di sini yang tidak baik kan ?" Tebak Kia seraya menoel sedikit dada Aisya.


Mata Aisya kembali berkaca-kaca menatap Kia menahan betapa sesak dan sakitnya hati saat ini. Ia kembali berhambur memeluk Kia seraya terisak."Hiks hiks, Kia..kenapa aku harus jatuh cinta pada seseorang yang tidak mencintaiku ? Hatiku rasanya sakiiittttttt amattttt sakittt, kak Rasya telah mengkhitbah wanita lain tadi malam. Lalu aku ? Aku sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk bisa bersanding dengannya hiks hiks.." Kia terdiam mendengarkan keluh kesah Aisya dengan rasa iba seraya mengusap punggung yang tengah memeluknya itu.


Kasihan memang. Tapi mau bagaimana lagi, Kia sudah berjanji pada seluruh keluarga untuk merahasiakan indetitas wanita yang telah Rasya khitbah. Yang tak lain juga tak bukan adalah Aisya sendiri.

__ADS_1


Maafkan Kia, Ais ! Gumamnya dalam hati.


Kia melepaskan pelukannya. Ia menggenggam kedua tangan Aisya seraya berkata,"Jangan terlalu sedih karna cinta yang bukan ditakdirkan untuk kita Ais. Yakinlah Allah telah menyiapkan jodoh terbaik untukmu, bahkan akan jauh lebih baik dari Abang," ucap Kia mendramatis keadaan.


"Tapi aku mencintai Kak Rasya, Kia. Aku mencintainya begitu saja saat pertama kali melihat wajahnya. Aku...aku...Ahhhhh....." Aisya tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata bagaimana ia begitu mencintai pria shaleh itu.


Kia mengerti bagaimana perasaan Aisya saat ini. Namun karna ada hal yang tidak bisa ia uangkapkan secara jujur, Kia hanya bisa memberi masukan pada sahabatnya itu untuk lebih mendekatkan diri pada sang pencipta.


"Lakukanlah semuanya dengan niat karna Allah ta'ala, Is. Insya Allah kebaikan akan berpihak pada kita sesuai niat yang sudah kita awali."


Aisya mengusap kembali air matanya."Maksudnya ?" Tanya Aisya yang kurang memahami bahasa isyarat dari Kia.


"Begini. Jika niat awalmu berhijrah hanya untuk mendapatkan cinta dari Abang, aku rasa niatmu itu sudah salah Is. Tapi niatkan hijrah dan perubahanmu karna Allah semata sang pencipta alam. Maka selain kita berubah menjadi baik dengan benar, insya Allah keinginan dan niat kita selanjutnya akan terkabul yaitu dengan cara menikungnya di sepertiga malam. Istiqharah lebih tepatnya !"


Aisya terdiam memikirkan sejenak apa yang sudah ia lalui selama ini. Dan ternyata benar apa yang Kia katakan, bahwa niatnya selama ini berhijrah hanya untuk memantaskan diri untuk bisa bersanding dengan Rasya tanpa tau niat yang benar sesungguhnya.


"Ya Allah ampunilah hambamu yang terlalu berlebihan mencintai hamba-Nya."


"Mulai sekarang ubahlah tujuanmu dan niatkan hanya karna Allah ta'ala, maka insya Allah keberuntungan juga rezeki akan mengalir dengan sendirinya tapi pastinya dengan diiringi doa dan usaha," ucap Kia membuat Aisya memganggukkan kepala.


Sementara di rumah ustadz Aqil, Rasya tengah menatap suasana pesantren dari jendela kamarnya.


Memikirkan apakah yang ia lakukan ini adalah benar ?


Bukan tanpa alasan Rasya menyembunyikan semuanya, hanya ingin melihat dirinya bisa berubah menjadi lebih baik dengan niat yang benar tentunya.


Semoga saja Kia bisa mengatasinya


Suara terikan seseorang membuat Rasya keluar dari kamarnya, melihat siapa yang datang kerumahnya itu.


"Waalaikumsalam. Dek jangan teri....."Kalimatnya harus terpangkas karna Kia langsung menarik tangan Rasya dan mendudukannya di sofa ruang keluarga.


"Bang..."


"Hem..." jawab Rasya dengan deheman namun matanya menatap Kia lekat seolah meminta jawaban apa yang ingin ia bicarakan.

__ADS_1


"Kalau Kia berhasil membuat Putri berubah seperti yang Abang mau, mau kasih Kia apa ?"


"Kia maunya apa ?"


Kia terdiam, terlihat tengah memikirkan sesuatu.


Aha....


"Astagfirullah dek, kira-kira dong !" Tegur Rasya seraya mengelus dadanya karna terkejut. Sementara Kia hanya terkekeh tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Udah mirip Bila ya, Kia. Suka bertingkah sesuka hati dengan gaya absurdnya, wajarlah ibu sama anak.


"Kia gak mau muluk-muluk Bang, Kia cuma mau Abang jujur pada Putri ketika dia sudah berubah seperti yang Abang mau. Kia kasihan Bang, asal Abang tau aja tadi dia nangis-nangis di tepi sungai. Ya Allah sepertinya dia begitu frustasi mendengar Abang mengkhitbah seseorang tadi malem."


"Ya Allah....


Apa segitunya dirimu sakit hati Dek ?


Maafkan aku yang tidak bisa jujur untuk sekarang..." Gumam Rasya bermonolog dalam hatinya merasa bersalah.


Pilih mana, antara Rasya jujur secepatnya atau menunggu Aisya benar-benar menjadi wanita shalehah seperti yang Rasya inginkan ?


Dan tentunya yang akan bekerja keras di sini adalah Azkya ya...dengan arahan dari sang kakak.


**❣️Tinggalkan


Vote


Like


Komen


Kalian ya !!!


Happy Reading Guys**...

__ADS_1


Bersambung❣️


__ADS_2