
Flash back On
Setelah melaksanakan shalat tahajudnya, Kia meraih ponselnya berfikir untuk menelfon Rasya di tengah malam. Karna Kia tau kebiasaan Rasya yang sudah pasti tidak akan langsung tidur setelah menyelesaikan shalat malamnya.
Mudah-mudahan diangkat ! Doa Kia dalam hati sebelum menekan panggilan kenomor kakaknya.
Panggilan terhubung...
Alhamdulilah...
"Hallo asalammualaikum bang.."
"Waalaikumsalam Ki, ada apa menelfon abang di tengah malam seperti ini ? Apa ada hal penting ?" Ucap Rasya dengan sederet pertanyaan.
"Na'am bang, ini sangat penting !" Jawab Kia.
"Iya ada hal penting apa ?"
"Begini bang......"
Kia menjelaskan panjang lebar memberitahukan kejadian yang baru saja ia lihat tadi pagi.
(Author sensor dulu, akan Author jelaskan di 2-3 bab menuju ending )
Awalnya Rasya kurang yakin dengan apa yang Kia katakan, tapi berhasil Kia yakinkan dengan bukti yang sudah ia kirim melalui pesan WhatsAppnya.
Setelah melihat bukti itu, Rasya menggeleng tidak percaya dengan seseorang itu.
Bukankah mereka terlihat akur, kalem juga tidak banyak tingkah. Tapi kenapa.....? Astagfirullah. Bathin Rasya bertanya seakan tidak percaya dengan apa yang sudah ia lihat dan dengar melalui bukti yang Kia kirimkan barusan.
"Hallo...hallo, abang....!" Panggil Kia di sebrang sana.
"Iya halo, abang masih disini. Bagaimana abang menjelaskan ini pada Aisya dek, abang yakin Aisya gak akan percaya gitu aja," ucap Rasya.
"Abang bener, lebih baik kita lihat dulu apa motif yang sebenarnya bang. Setelah itu kita beritahu Aisya yang sebenarnya. Untuk masalah umi Bila, abang gak usah khawatir ! Kia akan coba bantu untuk menasehati dan meluruskan jalan pikirannya. Umi Bila sudah termakan omongannya bang, jadi Kia yakin tidak semudah itu mengembalikan seperti semula," ucap Kia.
"Abang percayakan sama kamu dek, kalau ada apa-apa tolong cepet telfon abang !"
"Na'am bang. Kia tutup dulu telfonnya, asalammualaikum."
"Waalaikumsalam wr wb."
Flash back Off
***
__ADS_1
Di pesantren, Kia benar-benar berubah menjadi detektif dadakan.
Selain mematai-matai seseorang, ia pun harus waspada dengan wanita ketiga dalam hubungannya dengan Arkan yang akan di halalkan satu bulan mendatang.
Apa detektif harus seperti ini ? Gumam Kia seraya melihat kanan dan kiri takut ada yang melihat kalau ia tengah mengintai seseorang dari balik pohon.
Namun kedatangan Arkan yang mengejutkannya membuat tugasnya sebagai detektif dadakan hempas seketika
"Apaan sih bang, Kia lagi ada tugas penting," ucap Kia merasa sedikit kesal dengan Arkan yang tiba-tiba datang tanpa di undang dan pulang sendiri tanpa pamitan.
Arkan terkekeh merasa gemas dengan Kia yang mendadak cemberut karna ia berhasil membuatnya terkejut.
"Tugas penting apa sih, hem ? Kenapa ngelihatin mereka, bukannya disamperin !" Ucap Arkan dengan melirik arah tatapan Kia.
"Ish, dijelasin juga abang gak akan ngerti."
"Abang ngerti, kalau Kia yang cerita," godanya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Genit !"
Arkan terkekeh kecil."Ikut abang yuk !" Ajaknya.
"Kemana ?"
"Ketempat yang selama ini ingin Kia kunjungi," Jawab Arkan seraya menatapnya.
Arkan memgangguk."Mau gak ?"
"Maulah ! Mau, mau mau.." Jawab Kia antusias.
"Izin sama bunda ayah dulu ya ?!"
Kia mengangguk. Setelah mendapat izin dari kedua orang tuanya, mereka pergi menuju tempat yang selama ini Kia harapkan di khayalannya.
"Tapi bukan tempat sepi kan bang ?" Tanya Kia berjaga-jaga.
"Bukan, abang juga ngerti kali dek. Tenang saja, abang gak akan macem-macem sebelum halal. Sekarang cuma satu macem !" Jawab Arkan membuat Kia melotot tajam kearahnya."Becanda sayang, becanda," tambah Arkan lagi.
Baper adek, bang....
Mobil Arkan sampai di tempat yang mereka tuju. Semuanya sudah di desain rapi sesuai yang Kia harapkan selama ini.
"Masya Allah, ini abang yang siapin ?" Tanya Kia merasa tidak percaya melihat sesuatu yang nyata sama seperti yang ada dalam mimpinya itu. Taman yang penuh dengan rangkaian bunga dan banyak burung merpati yang berterbangan bebas di sana. Saat ini Kia berdiri tepat di bawah rangkaian bunga yang berbentuk hati, dan sebelah kanannya ada tangga dengan air yang mengalir dari atas melewati tangga itu.
Arkan mengangguk, kini Arkan berada di depan Kia seraya menatapnya dengan lekat
__ADS_1
"Kia. Abang bukanlah lelaki yang bisa romantis seperti orang-orang. Abang hanya lelaki biasa yang penuh kekurangan dan apa adanya. Sekali lagi abang katakan, abang mencintaimu Azkya anjani. Abang ingin menghabiskan sisa umur untuk hidup bersamamu, menyempurnakan separuh agama kita hanya bersamamu, menuju hingga ke jannah Allah hanya dengan kamu. Azkya, anna uhibukka filah, maukah kau menjadi calon makmumku ? Menemaniku hingga nafas terakhir memisahkan kita ?"
Kia terisak merasa terharu dengan perlakuan Arkan padanya. Inilah yang Kia inginkan, dilamar seseorang di bawah rangkaian bunga dengan kata-kata puitis yang mampu menghipnotis perasaannya.
Tanpa menjawab, Kia hanya memberi anggukan sebagai tanda ia menerima Arkan untuk menjadi calon imamnya, penyempurna separuh agamanya, pendamping hidup disisa umurnya hingga akhir hayat yang memisahkan.
"Ini untukmu ! Afwan abang belum bisa memakaikan, kita belum halal," ucap Arkan menyodorkan sebuah kotak berbentuk hati berwarna merah yang berisi cincin cantik dengan kilauan berlian di atasnya.
"Masya Allah, apa itu gak terlalu mahal bang ?" Tanya Kia terkejut melihat isi di dalam kotak itu yang sudah pasti harganya sangat fantastis.
"Demi pujaan hati, insya Allah gak," jawab Arkan tersenyum.
"Syukron bang, Kia akan memakainya saat di rumah. Karna sudah jelas peraturan di pesantren melarang memakai persiasan saat di asrama," jelas Kia dan Arkan hanya mengangguk mengerti.
***
Meninggalkan cerita Kia yang lagi berbunga-bunga karna Arkan, sepasang suami istri yang tak kalah bahagianya dengan kabar kehamilannya yang baru berusia 8 minggu itu.
"Alhamdulilah, janinnya sehat ibu. Perkembangannya juga baik. Usahakan ibu hamil tidak boleh setres dan terlalu lelah," ucap Dokter yang memeriksa kandungan Aisya.
"Insya Allah dokter," jawab Aisya dengan senyum.
"Dok, tapi kenapa istri saya sering kali mual setiap memakan sesuatu yang bahkan mengeluarkan semua isi perutnya setelah itu ?" Tanya Rasya yang merasa khawatir setiap kali Aisya memuntahkan isi perutnya.
Dokter itu tersenyum."Itu hal yang wajar pak, dan sudah menjadi hal biasa akan di rasakan setiap ibu hamil pada umumnya. Saya sarankan, jika ibu Aisya merasa tidak bisa memakan nasi, usahakan untuk meminum susu dan memakan buah. Karna itu pengganti nutrisi untuk si ibu dan perkembangan janin !" Saran Dokter pada Aisya dan juga Rasya.
"Baik dok. Emmm begini dok, itu....emmmm" Rasya merasa sangat malu untuk menanyakan hal ini yang sifatnya sangat privat.
Namun sebagai seorang dokter, ia memahami hal apa yang ingin Rasya tanyakan.
Lagi-lagi dokter itu hanya tersenyum dan berkata,"Boleh pak, asal tidak terlalu sering dan kasar. Karna bisa berakibat fatal pada janin jika itu sampai terjadi. Selain pendarahan, keguguran pun kerap sering terjadi karna masalah ini. Namun hal yang sangat baik untuk menjaganya, dengan bapak berpuasa kurang lebih sampai usia kandungan ibu Aisya 4 bulan," jelas dokter lagi.
Rasya menelan salivanya, tidak bisa dibayangkan bagaimana keadaan tongkat tumpulnya jika selama itu ia harus berlibur untuk mengasahnya.
Bukan hanya berkarat, tapi yang pasti dia akan berjamur sekaligus lumutan. Bathin Rasya menggerutu.
**Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian yakk
Happy Reading guys**..
__ADS_1
Bersambung