
Suatu hal yang sudah tidak bisa lagi Aisya ungkapkan dengan kata-kata. Wajahnya yang mendadak panas dan juga detak jantung yang tiba-tiba tak beraturan. Helaan demi helaan nafas ia hembuskan dengan perlahan mencoba meredakan tubuhnya yang mendadak seperti terbakar api itu.
Ada banyak pertanyaan yang ingin Mona dan Icha tanyakan pada sahabat mereka ini, yang tiba-tiba saja mendadak merubah penampilan. Namun lebih anehnya lagi, Aisya seperti tengah memakai blus on yang tebal pada pipinya itu.
"Gak panas...."Ucap Mona dengan menempelkan tangannya di dahi Aisya.
"Waraskan lo ?" Sambung Icha.
"Hem, sangat waras," Jawabnya seraya menunjukan deretan gigi putihnya.
"Ada banyak pertanyaan yang mesti lo jawab Is !" Lanjut Mona.
Aisya hanya mengangguk, tanda ia siap menjawab semua pertanyaan dari kedua sahabatnya.
"Pertama, penampilan lo. Gue heran, kenapa hari ini lo mendadak jadi alim gini, apa ini ada hubungannya sama paper bag yang kak Rasya kasih buat lo ?" Tanya Mona penuh selidik.
"Kedua......"
"Satu-satu ogeb !" Pangkas Aisya memotong kalimat Icha.
"Tau tuh, Bambang....."Ledek Mona.
"Kalian tau gak...."
"Gak......"Jawab Aisya juga Mona bersamaan.
"Ihh, dengerin dulu kali !"
"Iya apa ?"
"Kalian itu...........sahabat gue, heheheh..."
Ck....Aisya dan Mona berdecak.
"Kirain apaan. Lanjut Is, lo harus jawab pertanyaan gue !" Desak Mona tidak sabar.
"Oke, sebenernya baju inilah yang kak Rasya kasih semalem. Awalnya gue ragu buat make beginian, secara lo tau kan siapa gue ? Gue gak pede tau gak harus make baju beginian di depan umum. Tapi setelah gue tanya sama Bunda, jawaban bunda itu bikin gue sadar Mon, Cha...mereka cuma punya satu anak dan itu Gue, secara Bunda sendiri pengen segala sesuatunya itu yang terbaik buat gue, dan salah satunya adalah ini. Gue gak mau kecewain orang tua gue dong, secara keluarga adalah nomor satu buat gue," Jelas Aisya panjang lebar.
Mona dan Icha mengangguk-angguk mendengar jawaban dari sahabatnya.
__ADS_1
"Kedua, gak mungkin dong lo masuk kampus tanpa banyak yang ngomongin penampilan lo hari ini ?" Tanya Icha kali ini.
"Iya, sebagian dari mereka banyak yang menghina gue sih. Tapi ya sudahlah, selagi gak cari gara-gara buat apa gue bales."
Icha kembali mengangguk.
"Ketiga, terus kenapa lo senyum-senyum gak jelas. Dan ya, lo kalau mec up itu beneran dikit dong Is. Malu tau gak, primadona kampus make blus on ketebelan !"
Aisya kembali tersenyum mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Entalah, mungkin ia sudah kelewat baper dengan ucapan Rasya.
"Gue, gue ketemu kak Rasya tadi. Dan dia kelihatan suka banget ngelihat gue dengan penampilan begini. Dia juga bilang kalau gue itu cantik," Jawab Aisya dengan senyum.
"Oh, lo salah mengartikan kalau Ais pake blus on ketebelan Mon," Ucap Icha yang mulai memahami.
"Maksud lo ?"
"Lo pasti baper sama kata-kata kak Rasya kan ? Wajah lo jadi mendadak panas dan berubah jadi merah gini," Tebak Icha yang langsung mendapat anggukan dari Aisya.
"Fix, lo bucin parah sama kak Rasya Is," Sambung Mona terkekeh.
Tidak terasa waktu istirahat pun tiba, seperti hari biasanya Aisya dan kedua sahabatnya selalu mengisi perutnya itu di kantin kampus.
"Eh primadona kampus ini mendadak jadi alim tauk.."
"Heleh, palingan cuma mau viral..."
"Iya tuh, dasar tukang nyari sensasi..."
Begitulah bisikan para mahasiswi yang memang kurang menyukai Aisya.
"Apa lo bilang, hah ?" Mona berdiri dari duduknya seraya menggebrak meja dengan keras.
Uhhhhh...pasti sakit ya Mon...hehehe...
"Udahlah Mon biarin aja, gue gak papa kok," Ucap Aisya menenangkan Mona untuk tidak mencari masalah.
"Tapi mereka itu udah kelewatan tau gak, Is. Perlu dikasih pelajaran....!" Ucap Mona sedikit emosi.
"Udahlah, lo tenang, duduk anteng, minum dulu, hembuskan nafas perlahan dan tatap kecantikan gue !" Sambung Icha.
__ADS_1
"Gaje....lo...."Ucap Mona kembali duduk di kursinya seraya menyeruput minumannya.
Orang lagi emosi juga perlu minum dong heheh...
"Ih, orang mau kasih solusi juga,"Ucap Icha menyebikan bibirnya.
Tidak ada yang menyadari, ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dengan tangan yang ia lipat di dada dan bahu menyender.
Lengkungan bibir tipisnya itu terlihat jelas. Andai saja ada yang melihatnya, seseorang yang sangat jarang tersenyum, bahkan hampir tidak pernah, sudah pasti yang melihatnya adalah orang yang beruntung dan ia akan terbawa suasana dengan senyum manisnya itu.
Aku bangga padamu yang bisa menahan amarah...
Tolong tetaplah begini, dan jangan berubah apapun yang terjadi...
Sungguh, aku menyukaimu yang sekarang !!
Mungkin juga...aku mulai mengagumimu...
Badgirl, tapi pemalu....
Bikin gemessssssssss......
****
Aaaaa kamu bisa aja, Author juga gemes sama kamu
hi hi hi.....
❣️Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya
Happy reading guys..
Bersambung❣️
__ADS_1