
Flashback Aisya On
Kehamilan Aisya saat ini sudah berada di trimester terakhir. Perutnya yang semakin bulan bertambah besar membuat Aisya sedikit susah gerak.
Keinginan dan kebutuhannya tetap tidak berubah, hal itu membuat berat badannya naik drastis.
"Sayang, apa tidak berat ?" Tanya Rasya datang dengan teh hangat yang ada di tangannya.
"Maksudnya mas ?"
"Perut adek semakin besar, berat badannya juga naik, memangnya adek sendiri gak ngerasa berat ?" Pertanyaan Rasya langsung mendapat gelengan dari Aisya.
"Aisya punya kenikmatan tersendiri dengan perut yang semakin besar ini mas," jawab Aisya tersenyum seraya mengelus perut besarnya.
"Semoga saja, anak kita lahir dengan selamat ya sayang ? Kamu juga sehat dan baik-baik aja," ucap Rasya tersenyum dan ikut mengelus perut istrinya.
"Mas, bagaimana kalau ternyata takdir berkata lain ? Mas harus memilih antara aku dan anak kita ?"
Deg...
Pertanyaan Aisya sontak membuat Rasya terkejut dengan menggelengkan kepalanya. Pertanyaan macam apa itu ? Tentu saja aku tidak akan bisa memilih diantara dua kehidupan yang sudah menjadi bagian nafasku.
"Gak sayang, jangan ngomong ngelantur gitu ah, mas gak suka. Insyaallah dan yakin kamu serta anak kita akan baik-baik saja," ucap Rasya mencoba mengingatkan Aisya untuk tidak berfikir yang macem-macem hingga mengakibatkan setres.
Aisya mengangguk. Aku sendiri tidak tau mas, kenapa aku merasa akan jauh dari kalian. Kenapa aku merasa mendengar dan melihat kalian tapi aku tidak bisa menggapainya.
***
Keesokan harinya, Aisya yang baru saja bangun tidur itu tiba-tiba saja ingin memakan ketoprak yang ada di sebrang jalan pesantren.
"Huh, apa mungkin akan seenak itu ?" Gumamnya seraya membayangkan nikmatnya memakan ketoprak.
Dengan cepat ia beranjak dari ranjang menyambar dompet dan keluar dari kamarnya.
Rumah terlihat sepi karna Rasya dan abinya tengah ada kajian di kampung sebelah, sementara umi Bila di jam seperti ini sudah pasti berada di asrama.
Langkah Aisya semakin cepat, ia merasa tidak sabar untuk bisa sampai di penjual ketoprak yang biasa nongkrong di sebrang jalan.
***
Di tempat lain, seseorang tengah bersiap untuk melajukan mobilnya seraya menunggu sesuatu. Setelah mendapat telfon, ia langsung tancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Di waktu yang sama dan tempat yang sama, Aisya tengah menyebrang jalan. Dari arah kanan, mobil melaju dengan cepat hingga Aisya tidak bisa menghindar sama sekali saking terkejutnya melihat laju mobil dengan kecepatan tinggi.
Brakkkkkkkkkk.......
Tubuh Aisya terpental jauh, mamang ketoprak itu berlari tergopoh-gopoh seraya berteriak meminta tolong. Ia melirik sekilas kearah mobil yang menabrak Aisya, beruntung mamang ketoprak itu berhasil menghafal plat mobil tersebut.
Umi Bila menangis seraya memeluk tubuh menantunya yang sudah berlumuran darah.
Dengan cepat ia membawa Aisya ke rumah sakit dengan di bantu Arkan, ustad Iqbal dan beberapa para pengajar lainnya termasuk Kia dan Icha, sahabat Aisya.
"Suster...suster tolong anak saya sus !" Umi Bila berteriak memanggil suster untuk segera menangani kondisi Aisya yang terlihat cukup parah itu.
Suster datang dengan membawa brankar dan mulai menarik brankar itu masuk keruang IGD.
"Hiks, hiks...ya Allah Aisya," umi Bila menangis di pelukan sahabat sekaligus adik iparnya, Qila.
"Doakan yang terbaik untuk Aisya dan bayinya Bil, semoga keduanya baik-baik saja," ucap ustazah Qila berusaha menenangkan umi Bila.
Umi Bila mengangguk dan terlihat berkali-kali menyeka air matanya. Setelah sedikit tenang, ia merogoh ponselnya dari dalam tasnya.
__ADS_1
"Asalammualaikum Umi, apa Aisya baik-baik saja mi ? Rasya punya perasaan yang gak enak," Rasya langsung bertanya tentang keadaan istrinya tanpa berbasa-basi lagi.
"Ra-rasya, hiks hiks...."
"Umi, umi kenapa nangis ? Semuanya baik bukan ? Ada apa mi ?" Tanya Rasya panik.
"A-aisya Sya, Aisya ada di rumah sakit sekarang !"
Jedarrrr.....
Rasya langsung menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia berlari sekencang mungkin tanpa memperdulikan ponselnya.
Abi Aqil yang bingung ada apa dengan Rasya segera mengambil ponsel yang tergeletak di lantai. Beruntung panggilan masih terhubung sehingga Abi Aqil tau kenapa Rasya berlari terlihat panik.
***
"Umi...." panggil Rasya lirih saat sudah sampai di depan ruangan Aisya di rawat.
"Rasya...." Umi Bila berhambur memeluk anaknya seraya terisak.
"A-aisya kenapa umi ? Aisya kenapa ?"
"A-aisya korban tabrak lari Sya."
"Astagfirullahaladzhim," gumam Rasya lirih mengusap wajahnya yang sudah panas dengan sudut mata yang mengeluarkan air.
Hampir dua jam Aisya berada di ruangan Operasi, namun Dokter tak kunjung keluar dari ruangan itu. Rasya dan yang lainnya semakin panik. Apakah Aisya terluka sangat parah ?
Oek....oek....
Suara tangis bayi sudah terdengar, apa itu artinya Aisya sudah melahirkan ?
Rasya berucap syukur seraya terus berdoa semoga keduanya dalam keadaan baik.
Ceklek...
Dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang sangat mengkhawatirkan. Ia menghela nafasnya dengan panjang seraya menatap Rasya dengan lekat. Dokter sudah pasti tau jika lelaki yang tengah berdiri di hadapannya saat ini adalah suami dari pasien.
"Bagaimana keadaan anak dan istri saya dokter ? Apa mereka baik-baik saja ?" Tanya Rasya seraya mengguncang tubuh dokter itu.
"Selamat pak, putri anda telah lahir dengan sehat. Tapi......."
"Tapi apa dokter ?"
"Istri anda mengalami koma dengan luka yang cukup serius di bagian kepalanya. Dan luka di bagian wajahnya juga cukup parah," jelas sang Dokter.
"Astagfirullah," gumam semuanya turut prihatin.
"Lalu kapan istri saya akan sadar dok ?"
"Semuanya bagaimana kehendak Tuhan dan dari pasien sendiri pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan penanganan yang terbaik, tapi tetap kita harus berdoa memohon pada yang maha kuasa pemilik segala nyawa," ucap Dokter.
"Kalau gitu, saya izin permisi pak buk !" Lanjutnya lagi.
***
Satu bulan kemudian pasca tragedi itu, Aisya belum juga sadar dari komanya.
Hal itu membuat Rasya murka dan berniat mencari siapa yang sudah menabrak istrinya itu.
Rasya mendatangai orang yang tepat, ia bertanya dengan mamang ketoprak bagaimana asal mula semua itu terjadi.
__ADS_1
"Saya rasa semua itu adalah unsur kesengajaan ustadz, karna mobil itu melaju dengan cepat tanpa memperdulikan seseorang yang tengah menyebrang jalan," jelas mamang ketoprak.
"Apa mamang lihat berapa plat mobil itu ?" Tanya Rasya.
"Ada ustadz, saya melihatnya sebentar !"
Mamang itu mengeluarkan ponsel dan menunjukan plat mobil yang sudah ia catat di ponselnya.
Rasya langsung kekantor polisi meminta bantuan untuk melacak dan mencari keberadaan mobil dengan plat yang disebutkan. Usahanya berhasil, setelah beradu mulut dan sedikit menekannya, orang itu mengakui jika ada seseorang yang sudah menyuruhnya dan membayarnya dengan mahal.
Rasya tercengang dan semakin tidak percaya, apakah ini rencana yang sudah selama ini ia susun ?
Rasya pulang ke pesantren dengan menahan amarahnya dengan seseorang.
Keberuntungan tengah berpihak padanya kali ini, seseorang yang ia cari sedang berjalan dengan santainya.
"Tunggu......" Panggil Rasya membuat seseorang itu menghentikan langkahnya.
"Kenapa kak, kangen sama gue ya ?"
Plakkkkkk
Tanpa aba-aba dan basa-basi, Rasya langsung menampar Mona dengan begitu kerasnya.
"Aku gak nyangka sama kamu Mona, apa dengan begini aku mau menjadikanmu istriku ? Cuih, bahkan dalam mimpi pun aku tidak sudi memiliki istri yang picik seperti mu. Apa kau puas sekarang sudah membuat Aisya koma, apa lau puas sekarang, hah ?"
"Ha ha ha, aku cukup puas kak Rasya, tapi akan lebih puas kalau kamu menjadi suamiku ha ha ha."
"Ck, dalam mimpimu !"
"Tangkap dia pak, karna dia adalah dalang dibalik semua kejadian itu !" Ucap seseorang yang datang dengan beberapa polisi.
"Eh, apa apaan ini ? Gue gak mau dipenjara, lepasin gue.....ahhhhh, awas lo kak Rasya gue bakal buat lo nyesel dan bertekuk lutut di hadapan gue ! Lepasin !" Ucap Mona terus memberontak saat polisi sudah memborgolnya.
***
Sementara di rumah sakit, semuanya menangis setelah Dokter mengatakan kalau alat bantu yang ada di tubuh Aisya harus segera di lepas karna Aisya saat ini di nyatakan telah meninggal.
"Gak mungkin Dokter, saya mohon alat itu jangan di lepas dari tubuh istri saya ! Sayang mas mohon bangun Aisya, bangun ! Hiks hiks...jangan tinggalkan mas Aisya, mas mohon ! Bagaimana mas dan anak kita bisa hidup tanpa kamu sayang, hiks hiks mas mohon bangun sayang !!!!!!" Rasya terus menangis menggoyang-goyangkan tubuh Aisya berharap dengan cara ini istrinya itu akan bangun dari tidurnya.
Flashback Off
Semakin sesak rasanya jika harus mengingat kejadian itu.
Mas akan berusaha ikhlas sayang, tapi jangan minta mas untuk mencari penggantimu.
Mas dan Aishi selalu mencintaimu, selalu menunggumu. An'a antazrik zaujati, syurga bersamamu sayang !
***
Ini cerita Author persingkat !!!!
Sebenarnya ini belum tamat, ada kelanjutannya nanti. Akan author buat novel sendiri khusus season 2 Rasya dan Aisya, tapi entah kapan akan publis Author belum tau pasti. Tapi yang jelas sampai akhir bulan Agustus, Author hiatus dulu dari dunia pernovelan. Karna sibuk-sibuknya pelatihan kenaikan pangkat mahasiswa perguruan, mohon di mengerti !!!
Pokoknya akan Author woro-woro kalau udah publis !
Aisya sebenarnya meninggal atau gak ya ???
Akan ada di season 2 nya nanti.
Sampai ketemu di lain waktu guys...
__ADS_1
Babay***.......