
Bunda Qila tau kalau putrinya itu masih bingung dengan pilihannya. Ia mengelus pelan jari jemari Kia seraya tersenyum di balik niqabnya.
"Ikuti kata hatimu nak ! Insya Allah pilihan sesuai hati itu adalah yang terbaik," ucap bunda Qila kembali memberi beberapa patah kata untuk meyakinkan anak gadisnya.
"Iya sayang, ayah dan bundamu merestui siapapun yang kamu pilih nantinya," sambung ayah Iqbal yang membuat Kia bertambah yakin dengan pilihannya.
Kia mengangguk. Dengan menegakkan sedikit kepalanya, ia menatap kedua lelaki yang memiliki tujuan sama itu.
"Kia harap, siapapun yang Kia pilih tidaklah akan sombong dengan kemenangannya. Dan siapapun yang tidak Kia pilih, harap mengikhlaskan dengan lapang, bahwa kita belumlah berjodoh. Dan yakinlah, Allah telah menyiapkan jodoh yang jauh lebih baik dari Kia. Bismillahirrahmanirrahim, Kia menerima ta'aruf dari abang Arkan !" Ucap Kia dengan kalimat yang cukup tegas.
"Alhamdulilah, terima kasihnya Kiki sudah mau menerima abang," ucap Arkan merasa bersyukur.
Kia mengangguk, tatapannya kini beralih menatap Reza yang sedikit redup raut wajahnya."Kia minta maaf kak Reza, Kia yakin Allah telah menyiapkan jodoh untuk kak Reza yang jauh lebih baik dari Kia," ucap Kia merasa bersalah dan berharap Reza mau menerima dan mengerti dengan keputusannya.
Reza tersenyum dan memgangguk."Insya Allah saya ikhlas, semoga kalian bahagia hingga menuju halal," jawab Reza seraya mendoakan.
"Terima kasih kak, dan maaf !"
"Tidak masalah. Kalau gitu, saya permisi. Asalammualaikum."
"Waalaikumsalam wr wb.."
"Jadi kapan nak Arkan akan mengkhitbah Kia secara resmi ?" Tanya ayah Iqbal.
"Insyaallah satu minggu lagi ustadz, saya akan mengkhitbah Kia secara resmi," jawabnya dengan mantap.
Ayah Iqbal mengangguk. Dia mengenal Arkan sedari kecil saat dirinya masih menjadi santri di pesantren ini. Sudah pasti apa yang di ucapkannya bukanlah hal yang main-main.
Bunda Qila sendiri tersenyum mengangguk kepada anaknya. Yang ternyata pilihannya dengan pilihan Kia adalah sama. Arkan adalah anak yang baik serta tidak neko-neko seperti kebanyakan orang pada umumnya. Selain pintar lulusan Al-Azhar, beliau juga anak yang shaleh dan teladan di pesantren orang tuanya mau pun pesantren abdiannya dahulu.
"Afwan ustadz, ustazah, boleh saya berbicara dengan Kiki sebentar ? Hanya di teras rumah saja," ucap Arkan meminta izin.
"Na'am, silahkan ! Dan tolong jangan pulang dulu, kita makan malam bersama, atau bila perlu menginaplah sesekali di pesantren Kan !" pinta ayah Iqbal.
"Insyaallah ustadz, saya akan izin dengan abi dan umi dulu. Ayo dek, ada yang ingin abang bicarakan !"
Kia mengangguk, kemudian mengikuti langkah Arkan di belakangnya.
"Abang mau ngomong apa ?"
__ADS_1
"Ah, tidak. Cuma mau bilang makasih sudah mau menerima ta'aruf abang. Kiki gak terpaksa kan ?" Tanya Arkan mengingat bukan hanya dirinya yang mengajukan ta'aruf pada Kia. Arkan hanya takut, pilihan hati Kia sebenarnya pada Reza, namun dengan terpaksa ia harus menolak Reza dan lebih menerima ta'aruf dari dirinya.
"Kok abang ngomong gitu ? Abang gak senwng Kiki terima ta'arufnya ?"
"Aih, kok jadi sensi sih dek. Abang cuma nanya sayang."
Blus...
Baru pertama kalinya ia mendengar seseorang memanggil namanya dengan kata sayang.
Wajah Kia mendadak panas seketika, jantungnya berdegub dengan kencang, andai saja tidak ada orang di sana, sudah pasti ia akan berjingkrak-jingkrak kegirangan saking bahagianya.
Astagfirullah, gak pernah pacaran jadi baper kan. Duh, abang Arkan bisa aja gombalnya yak...belajar dari mana coba ? Bathin Kia seraya tersenyum-senyum di balik cadarnya.
"Cie bersemu..." ledek Arkan.
"Apaan sih bang, udah deh jangan ngeledekin !"
"Iya deh, gak lagi. Ki, minggu depan abang akan khitbah kamu !"
"Iya, Kiki udah denger bang. Kan abang barusan bilang ke ayah," jawab Kia.
"Ah, iya ya..abang jadi gagal fokus kalau ngobrol sama kamu he he," ucapnya seraya terkekeh.
Tapi Kia justru bersyukur melihat Arkan yang apa adanya tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain hanya demi pujian dari seseorang.
Kia yakin dengan pilihan Kia bang, kalau abang Arkanlah jodoh yang sudah Allah siapkan untuk Kia.
***
Bunga yang telah layu menjadi mekar seketika melihat bagaimana bahagianya Kia saat Arkan akan mengkhitbahnya tidak lama lagi. Ditambah dengan kata-kata Arkan yang paling bisa membuat Kia merasa tersenyum baper dengan dunianya sendiri. Jatuh cinta membuat dunia serasa milik berdua, aku dan kamu hanya Arkan dan Azkya.
Lalu bagaimana dengan nasib pernikahan Rasya dan Aisya ?
Ah, dua sejoli ini tengah memperjuangkan pernikahannya dari bibit-bibit pelakor. Bahkan pelakor itu telah mengusik kehidupannya dengan masuk melalui Umi Bila dan Abi Aqil.
Lalu siapa pelakor yang dimaksud sebenarnya ? Untuk saat ini masih rahasia, biarlah Aisya dan Rasya berjuang memperkuatkan pondasi cintanya dari seseorang yang berusaha menghancurkannya.
Waktu terus berlalu, Aisya yang merasa ada perubahan dalam bentuk tubuhnya itu merasa sangat kesal dengan suaminya yang selalu memaksanya untuk makan dengan banyak.
__ADS_1
"Ini semua itu gara-gara mas, berat badan Aisya jadinya nambahkan. Badan Aisya jadi bengkak huaaaaaaaa ayah bunda, mas Rasya jahat," teriaknya seraya menangis.
Rasya yang tengah membersihkan dirinya di kamar mandi dengan terburu-buru menyudahinya karna mendengar suara Aisya yang berteriak.
Dengan membenarkan sedikit handuknya, Rasya berkata,"Kenapa sayang, apa ada masalah ?"
"Lihat !" Pinta Aisya pada suaminya untuk melihat angka di timbangan digital yang sudah ia naikinya saat itu.
"65, lalu masalahnya dimana ?"
"Ih, mas gak peka juga deh. Berat badan Ais nambah 7kg mas. Bayangin 7kg dalam waktu sebulan, ini semua gara-gara mas yang selalu nyuruh Aisya supaya makan dengan banyak," gerutunya dengan kesal.
Rasya terkekeh kecil semakin gemas dengan tingkah istrinya yang akhir-akhir ini selalu marah-marah karna hal yang menurutnya sangat sepele. Ia mengacak-acak pelan rambut istrinya yang tertutup dengan hijab itu."Tambah semok, bukan bengkak sayang," ucap Rasya mengedipkan sebelah matanya.
"Semok apaan, semok itu 60an mas. Ini 65, astagfirullah, baju Aisya pasti banyak yang gak muat," gerutunya lagi.
"Ya sudah iya, terus mas harus gimana ?"
"Ya mas harus tanggung jawablah, turunin lagi berat badan Aisya kayak sebelumnya diangka 57 !"
Dia yang punya badan, kenapa harus aku yang nuruninnya ?
"Ya kalau itu mah adek sendiri yang harus usaha nurunin berat badan !"
"Gak gak bisalah, mas yang udah buat Aisya jadi bengkak. Jadi mas juga yang harus tanggung jawab buat ngempesinnya !"
"Iya, iya. Tapi......."
Rasya memajukan badannya mendekati sang istri yang sedari tadi terus mengomel karna berat badannya yang tiba-tiba naik drastis.
"Tapi benerin dulu bajunya, itu baju adek kebalik ha ha ha..." bisik Rasya seraya tertawa.
**Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian yakk
__ADS_1
Happy Reading guys**..
Bersambung