
Keesokan harinya Judith di pagi hari kembali bekerja seperti biasa. Dia duduk di tempatnya mengerjakan pekerjaan adminnya.
Saat dia bagus mengerjakan tugas beberapa staf lainnya ada di ruangan menatap ke arahnya.
“Aku merasa banyak yang melihatku, atau cuma perasaanku saja ?”batin Judith sambil mengetik dan mengentry data-data laporan.
Gadis itu kemudian berhenti mengetik sebentar dan menatap ke depan.
“Kenapa mereka menatapku seperti itu, atau aku hanya salah mengartikan saja tatapan mereka ?”batin Judith merasa ada yang aneh dengan temannya di ruangan.
“Judith ada apa kemarin CEO memanggilmu untuk menemuinya di ruangan ?”tanya salah satu staf memberanikan diri untuk bertanya padanya.
Judith seketika terlihat terkejut dengan pertanyaan dadakan dari temannya itu.
“Ah-ya... tuan Vaska hanya menanyai masalah pekerjaanku saja kenapa belum selesai.”jawab Judith berbohong karena dia tak mau hubungan pernikahan kontraknya dengan lelaki itu sampai terungkap.
Tapi mendengar jawaban dari Judith, temannya itu seolah tak percaya pada apa yang dia ucapkan.
“Kau yakin tidak ada affair dengan CEO ?”ucap temannya itu kembali bertanya seolah menghakimi.
“Te-tentu saja tidak, mana mungkin CEO seperti tuan Vaska mau mendekatiku apalagi menjalin hubungan denganku ? Aku hanya gadis biasa.”jawab Judith kembali menyangkal dan sedikit berkeringat dingin.
“Iya juga... selera CEO memang tinggi.”balas wanita itu dan percaya pada apa yang diucapkan oleh Judith.
“huft... untung saja dia percaya pada apa yang ku ucapkan, jika tidak aku sudah tak tahu lagi harus bicara apa.”batin Judith menghembuskan nafas panjang dan merasa lega.
Namun meskipun dia merasa lega temannya tidak curiga padanya, masih ada yang mengganggu di pikirannya.
“Aku merasa setiap kali aku mencium aroma harum mawar di rumah tuan Vaska, setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Apa aku pingsan atau apa. Aku jika tidak tahu apa yang tuan Vaska lakukan padaku saat itu.”batin Judith teringat pada malam-malam sebelumnya saat bersama lelaki itu.
“Atau aroma parfum itu sebenarnya adalah bius ? Tapi aku tak melihat tuan Vaska membawa apapun.”batin gadis itu kembali mengingat.
Judith kemudian berpikir apakah dia bisa menjaga kesadarannya agar tetap sadar setelah mencium aroma mawar itu.
“Jika begitu aku harus mencari sesuatu yang bisa membuatku tetap sadar.”batin Judith dan dia pun menggunakan fasilitas wi-fi di kantor untuk mencari informasi segala hal yang berkaitan dengan penahan kesadaran.
Sore hari terlihat gadis itu pulang dan keluar dari tempat kerja. Di tengah jalan dia berhenti di sebuah apotek untuk membeli obat penahan kesadaran.
__ADS_1
“Apakah obat jenis ini tersedia di sini ?”ucap Judith pada apoteker sambil menunjukkan gambar obat yang dia browsing tadi di kantor.
“Ada... mau berapa nona ?”jawab petugas apoteker sambil mengembalikan ponsel milik Judith.
“Tiga botol.”jawab gadis itu singkat.
Petugas apoteker kemudian mengambilkan tiga botol obat penahan kesadaran dan menyerahkannya pada Judith.
“Terimakasih.”ucap Judith menerima obat yang dibeli dan segera membayarnya.
Gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah.
Beberapa jam setelahnya, Judith sudah bersiap dan selesai berganti baju. Tak lupa dia memasukkan satu botol obat penahan kesadaran yang barusan dia beli ke dalam tasnya setelah meminum satu pil.
“Aku sudah siap sekarang. Aku harap obat ini bekerja dengan baik.”gumam Judith kemudian segera berjalan keluar rumah dan mengunci pintu rumahnya.
“tap... tap... tap...”Judith berjalan dan berhenti di depan gerbang rumah Vaska.
Penjaga pintu gerbang segera membukakan gerbang untuknya dan membiarkan gadis itu masuk seperti biasanya.
Judith masuk ke rumah Vaska dia berhenti di ruang tamu dan menatap kesukaan ini namun tak mendapat lelaki itu ada di sana. Dia pun kembali berjalan semakin masuk dan melihat asap mengepul di depannya.
“Tuan Vaska...”jawab gadis itu menyapa dan berhenti di depan Vaska yang mengenakan tuksedo. Tak biasanya lelaki itu perbaikan rapi seperti itu karena saat ini dia selalu mengalahkan piyama saat Judith sana.
“puff....”Vaska membuang puntung rokoknya ke lantai dan menginjaknya.
“Ayo ikutlah dengan ku.”ucap lelaki itu berjalan memimpin.
Judith mengikuti Vaska berjalan tanpa bertanya padanya mau diajak ke mana dia.
“Ganti baju dulu.”ucap lelaki itu masuk ke ruang ganti. Dia kemudian membuka lemari yang berisi pakaian seksi dan gaun wanita lalu memilih salah satu dan mengambilnya.
“Ini pakailah ini, warnanya senada dengan tuksedo ku.”ucap Vaska menyerahkan daun berwarna hitam pada Judith.
Lelaki kemudian berjalan keluar dan menunggunya di depan pintu setelah menutup pintu kamar.
“kriek...”tiga menit setelahnya Judith keluar dari kamar dengan mengenakan gaun bernuansa hitam yang membuatnya terlihat seksi dan sangat cantik sekali malam itu.
__ADS_1
Vaska terlihat menatap gadis itu selama beberapa menit.
“Ahem.... ayo tak ke belakang sekarang.”ucap Vaska berdehem sambil mengulurkan tangannya.
Judith merasa tersanjung dan menyambut uluran tangan Vaska lalu mengikutinya berjalan menuju ke sebuah ruangan.
Saat masuk ke ruangan berkarpet merah dengan lampu temaram Judith berhenti terlihat takut.
“klik...”Vaska menekan sebuah tombol dan seketika alunan musik lembut mengalun setelahnya.
Vaska kembali menghampiri dan membungkuk di depan Judith sambil mengulurkan tangan.
“Will you dance with me ?”ucap Vaska menunggu jawaban dari Judith.
“Tuan Vaska biasanya terlihat menawan tapi malam ini terlihat lebih menawan dari hari biasanya.”batin Judith menatap wajah tampan lelaki itu yang membuat jantungnya pada lebih kencang dari biasanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Judith, Vaska segera meraih pinggang Judith dan menggenggam jemarinya.
Vaska bergerak berirama mengikuti alunan musik yang melantun dan berdansa waltz bersama Judith.
“Tuan... aku-aku tidak bisa berdansa.”ucap Judith yang kesulitan mengikuti gerakan kaki Vaska.
“Ikuti saja gerakan ku. Aku akan memelankan gerakan ku dan kau bisa mengikutinya juga menghafalnya.”balas Vaska terus menari mengikuti alunan musik dan membuat gerakannya lebih pelan.
Judith mengikuti gerakan Vaska dan mencoba mengingatnya.
“Apa kau sudah hafal ?”ucap lelaki itu bertanya dan Judith hanya mengangguk saja.
Di tengah dansa kembali aroma harum mawar tercium di ruangan itu.
“Aroma ini...”batin Judith setelah menghirup sedikit aroma wangi itu dan mencoba menahan nafasnya selama beberapa hitungan.
Gadis itu ternyata masih sadar namun dia berpura-pura meminjamkan matanya agar tidak ketahuan jika dia belum pingsan.
Vaska segera mencium leher Judith dan menggigit leher gadis itu.
“Argh...”Judith merintih kesakitan saat merasakan ada yang menusuk area lehernya. Dia pun membuka mata dan menyentuh wajah Vaska sambil menarik tubuhnya mundur.
__ADS_1
Judith terkejut melihat apa yang dilihatnya saat ini. Dia melihat Vaska bukanlah Vaska. Lelaki itu matanya berubah merah dan terlihat gigi depannya menjadi bertaring.
BERSAMBUNG....