Bloody Marriage Contract

Bloody Marriage Contract
Eps. 220 Menuju Ke Versailles


__ADS_3

Sore hari mereka berdua tiba di rumah setelah melakukan perjalanan panjang.


“Tuan... nona kalian sudah datang....” Peter mendengar suara mobil berhenti dan segera keluar rumah untuk menyambut kedatangan mereka. “Ya, Peter kami benar-benar merasa sudah cukup bersenang-senang di sana.” Vaska menimpali dengan tersenyum lebar sambil menggandeng tangan Judith masuk ke rumah.


“Tuan terlihat senang sekali. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum lebar seperti itu.” Peter bisa ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh tuannya.


Pria itu kemudian segera mengambil koper dan barang bawaan tuan yang masuk ke rumah.


Keesokan paginya Vaska membuka tempat praktek pengobatannya seperti biasa.


“Nona seminggu tidak buka, kemana ?” tanya seorang pasien begitu tempat praktek itu dibuka.


“Oh aku dan dokter Vaska pergi ke suatu tempat.” Judith menimpali sembari memberikan nomor antrian pada para pasien yang datang. “Apa nona benar menikah dengan dokter Vaska ?” lanjut kasihan tadi bertanya karena masih penasaran.


Judith hanya mengangguk saja sembari tersenyum kecil dengan tersipu.


“Selamat nona atas pernikahannya dengan dokter Vaska.” pasien tadi menjabat tangan Judith. “Terimakasih.” Judith menjabat tangan pasien dan tersenyum lebar. Para pasien lain pun akhirnya mengetahui ikut mengucapkan selamat atas pernikahan Judith dan dokter Vaska.

__ADS_1


Di dalam ruang periksa beberapa pasiennya sudah bertemu dengan Vaska juga mengucapkan selamat padanya.


“Dokter selamat atas pernikahannya dengan nona Judith.” ucap sekarang pasien sudah selesai menjalani pemeriksaan.


“Bagaimana pasien ini bisa tahu kabar pernikahan ku ?” Vaska cukup terkejut mendengar ucapan selamat dari pasiennya. “Terimaksih tuan.” Vaska menimpali ucapan selamat dari pasien dengan senyum lebar.


Berapa waktu berlalu


Terlihat di kamar Vaska duduk di tepi tempat tidur setelah melihat Judith tidur.


“Kenapa belakangan ini aku selalu terpikirkan pada Ayah ? Apakah terjadi sesuatu padanya ?” Vaska beberapa kali kembali teringat pada ayahnya dan hal itu mengganggu pikirannya. “Apa minggu ini aku coba ke sana saja bersama Judith.” entah Kenapa ada dorongan yang kuat dalam dirinya untuk melihat ayahnya secepatnya.


Pagi harinya


Vaska bangun lebih dulu. Ia melihat istrinya yang masih tertidur.


“Apa dia mau jika aku mengajaknya menemui ayah ?” Vaska ragu apakah Judith benar-benar mau ikut dengannya ke istana Versailles.

__ADS_1


“Sayang, ada apa ?” Judith tiba-tiba terbangun saat merasa sisi kirinya kosong. “Weekend ini aku akan ke Versailles. Apa kau mau ikut bersama ku ?” Vaska langsung saja menyampaikan maksudnya.


Judith yang barusan bangun dan belum genap 100% nyawanya, terdiam agak lama.


“Jika kau takut pada ayah serta keluargaku tak apa aku akan pergi ke sana sendiri.” Vaska menambahkan karena ia mengira istrinya itu tak mau pergi bersamanya. “Tidak. Tentu saja aku mau ikut denganmu.”


“Kau tidak takut atau benci pada keluargaku ?” Vaska menegaskan kembali pertanyaannya. “Tidak, sayang. Kita sekarang sudah menjadi suami istri. Jadi bagaimanapun perlakuan orang tua mu pada ku, aku tak akan memasukkannya dalam hati.”


Di akhir pekan terlihat Vaska dan Judith sudah bersiap keluar dari kamar.


“Peter kami akan ke Versailles sebentar. tolong jaga rumah ini.” Vaksa menghampiri pelayannya yang ada di lorong.


“Baik, tuan.” jawab Peter singkat.


“Ayo kita berangkat sekarang.” Vaska beralih menatap Judith untuk mengajaknya segera bergegas.


“Ya, sayang.” Judith senyum kecil sembari memegang lengan Vaska.

__ADS_1


Mereka kemudian segera melakukan perjalanan menuju ke Versailles untuk menemui keluarga Vaska.


__ADS_2