Bloody Marriage Contract

Bloody Marriage Contract
Eps. 61 Sebuah Mimpi


__ADS_3

Beberapa hari berlalu kondisi Vaska dari hari ke hari semakin membaik.


“kriek...” Pablo menghampiri sebuah peti mati yang ia taruh di ruangan yang bersandar pada dinding dan membukanya. “Tuan, bagaimana kondisi anda hari ini ?” melihat Vaska yang masih tertidur dalam setelan tuksedo hitam dengan sebuah mawar merah di saku depan.


Tak ada respon.


“Untung saja pil jewish bekerja dengan baik. Dan kondisi anda sudah pulih 50%.” Pablo mengecek kondisi Vaska dengan melihat detak jantungnya dan denyut nadinya. “Tuan minumlah pil nya, mungkin beberapa hari lagi anda akan pulih.” Pablo mengeluarkan satu butir pil jewish dan meletakkannya pada bibir Vaska.


Dengan bantuan energi dari Pablo pil yang ada di bibir Vaska terdorong masuk hanya dengan menyentuhnya saja.


“Pangeran semoga kau segera sadar.” Pablo menutup kembali peti mati dan pergi dari sana untuk kembali berpatroli.


Para Hemisphere rutin berpatroli di daerah perbatasan yang dilakukan setiap harinya dan bergantian jaga dengan anggota Hemisphere lainnya.


“Judith...” sesaat setelah Pablo menutup peti mati, Vaska membuka mata selama empat menit, dua kali lebih lama dari biasanya. Namun ia kembali memejamkan mata karena pengaruh yang barusan ditelannya.

__ADS_1


Di Versailles


Di istana Raja Ernesto, pria yang masih terlihat seperti pria berusia 35 tahunan meskipun usianya mencapai ribuan tahun itu setiap hari tertunduk dan menjelaskan kondisi putranya setelah ia memberikan hukuman padanya.


“Bagaimana Vaska di sana ? Apa dia baik-baik saja ?” Raja Ernesto duduk di singgasana dengan tertunduk, betapa ia merasa menjadi seorang ayah yang gagal karena tak bisa melindungi putranya sendiri.


“Lapor yang mulia !” ucap seorang pengawal kepercayaan utusan Raja Ernesto menghadap dan memberi salam hormat di hadapannya.


“Bangkitlah Diego !” Raja Ernesto duduk tegak menghadap pengawal kepercayaannya dan menyembunyikan rasa kalut dan kesedihannya dari pengawalnya itu. “Laporan apa yang kau bawa padaku ?” menatap pengawalnya dan tak sabar ingin segera mendengarnya. “Apa kau membawa kabar tentang Pangeran Vaska ?”


“Apa kau bilang ? Apa kau yakin ?” Raja Ernesto senang hingga ia bangkit dari tempat duduknya dan berdiri. “Maksud mu sudah ada seseorang yang menyelamatkan dia ?” tanyanya antusias. “Benar yang mulia kemungkinan besar seperti itu.”


Tampak terbersit ketengan di muka Raja Ernesto setelah mendengar laporan dari pengawal kepercayaannya.


“Bagus, cari keberadaannya. Apa dia ada di tempat nya.”

__ADS_1


“Baik yang mulia.” balas Diego kembali memberi hormat kemudian undur diri dan keluar dari istana untuk mencari informasi kembali tentang keberadaan Vaska.


Di rumah Judith di malam hari.


“Tuan Vaska...” gadis itu mengigau dan terus memanggil nama pria itu dalam tidurnya.


Judith masih merasa bersalah karena gagal membangkitkan Vaska dan ia merasa punya beban moral karenanya hingga rasa masalah itu masuk ke alam bawah sadarnya. Dan setiap malam gadis itu memikirkan Vaska selalu.


“Judith tolong aku... aku haus...”


“Oh tuan Vaska... kemari lah aku akan memberikan darahku padamu.” Judith menyingkap rambutnya dan menunjukkan lehernya pada Vaska.


“Argh....” rintihnya saat pria itu mencium lehernya dan menghisap darahnya.


“Tuan Vaska.... tidak jangan pergi lagi, kumohon.” Judith berteriak saat Vaska tiba-tiba menghilang setelah puas menghisap darahnya. “Oh... aku hanya bermimpi saja rupanya.”

__ADS_1


Gadis itu bangun dari tidurnya karena ingin menahan pria itu agar tidak pergi dari sisinya.


__ADS_2