
Vaska masih terkejut dengan apa yang dilihatnya setelah mendengar penjelasan dari pasien.
“Vampir jenis apa ini... aku tak pernah melihat ini sebelumnya. Di tambah reaksi setelah darah terhisap muncul penyakit seperti ini.” Vaska kembali menatap pasien dan melihat kondisinya. “Jika ini adalah kegiatan vampir Kenapa tidak menghisap langsung seperti vampir pada umumnya ?”
“Dokter jadi apakah penyakit putraku ?” Grace bertanya karena saat melihat dokter masih memeriksa putranya dan ia khawatir penyakit Kevin serius. “Ini tidak seserius itu.” Vaska seolah bisa membaca ketakutan Grace. “Putra ibu akan membaik setelah minum obat nanti.” Vaska menambahkan.
Vaska yang masih penasaran dengan burung yang disebutkan oleh pasien, mencoba mengorek informasi darinya.
“Kau bilang sebelumnya terkena patukan burung. Burung seperti apa yang kau maksud, apa kau bisa menjelaskan ciri-cirinya padaku ?” Vaska duduk dan bicara pada Kevin sambil menulis resep obat.
“Aku juga baru pertama kali melihat burung seperti itu dokter. Burung hantu putih bertanduk.” Kevin menceritakan ciri-ciri burung itu pada Vaska. “Jika begitu jauhi burung itu. Jangan mendekat ataupun bermain dengannya lagi.” Vaska mengingatkan Kevin. “Baik dokter.” Kevin menjawab singkat meskipun ia sendiri sebenarnya bingung kenapa dokter memintanya mendekati burung tersebut.
“Selama tiga hari ke depan usahakan bintik merah ini tidak terkena air ataupun udara. Perbanyak makan daging merah dan kacang.”Vaska menambahkan. “Baik, dokter Vaska terima kasih.” Kevin dan ibunya menjawab secara bersamaan.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian keluar dari ruang praktek lalu menyerahkan resep dari dokter pada asistennya.
“Tolong ditunggu sebentar.” Judith menerima resep obat dan mengabaikan obat sesuai yang tertulis di resep. “Ini nyonya. Semoga lekas sembuh.” menyerahkan obat pada ibunya pasien.
“Terimakasih.” Grace menerima obat kemudian keluar dari praktik pengobatan dan segera kembali ke rumah.
Setelah pasien tadi pergi, Judith memanggil pasien lainnya yang masih duduk menunggu di ruang tunggu agar segera masuk.
Di lain tempat di siang hari setelah pulang sekolah. Beberapa anak terlihat berkumpul di depan sebuah salah satu rumah. Ada sekitar lima belas anak di sana, sepuluh anak lelaki dan lima anak perempuan.
“Ya baiklah. Ayo kita ajak Kevin.” Buddy, anak lelaki lain bermaksud mengajak Kevin saat melewati rumahnya. “Jangan, dia masih sakit dan belum masuk sekolah juga sampai hari ini.” Noël melarang mengajak anak sakit bermain dia khawatirkan kondisinya akan semakin parah saja nanti.
Mereka pun tak jadi mengajak Kevin dan segera pergi ke tengah hutan.
__ADS_1
“Kita main di sini saja.” Buddy berhenti di tengah hutan.
Anak lelaki berkumpul dengan anak lelaki lainnya dan mereka bermain sendiri sedangkan anak perempuan berkumpul dengan anak perempuan dan juga bermain sendiri.
“Kita main masak-masakan gimana ?” Lucy, seorang anak gadis berusia 9 tahun bertanya sekaligus mengajak temannya. “Baiklah kali ini kita akan bereksperimen membuat masakan baru. Jadi kita harus mencari bahannya sekarang.” timpal Yona yang setuju dengan ajakan dari Lucy.
Kelima anak kecil tadi kemudian berjalan bersama dan masuk ke hutan lebih dalam lagi untuk mencari sesuatu yang bisa mereka gunakan sebagai bahan.
“Lihat, aku menemukan jamur di sini.” seorang anak berhenti dan menunjukkan banyak jamur yang tumbuh di sebuah pohon tumbang pada teman lainnya. “Ya benar, aku akan memetiknya.” Lucy mendekat dan memetik beberapa jamur yang ada di sana.
“kuuuk...” beberapa anak menoleh ke atas saat mendengar suara kicauan burung yang terdengar aneh. “Hewan apa itu ?” Yona melihat sosok burung hantu putih bersih bertanduk.
“Hey ayo jalan, kita harus mencari bahan lagi.” Lucy memanggil Yona yang berhenti di tengah jalan. “Ya...” jawab anak itu kemudian segera berlari mengejar temannya yang sudah jauh di depannya.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan mereka sosok burung tadi terbang mengikuti mereka.