
Judith bingung harus mencari Vaska ke mana. Ia ingin menuju ke dunia vampir tapi ia tidak tahu jalan menuju ke sana.
“Tuan... maafkan aku tak bisa memenuhi permintaan terakhir mu.” Judith terus berlari menuju ke rumah Vaksa karena menurutnya ia akan bisa menemukan jalan menuju ke dunia vampir melalui rumah pria itu.
Sesampainya di sana ia segera masuk ke rumah.
“Halo... apa ada orang di sini ?”panggil Judith saat sudah berada di dalam rumah dan memanggil para pelayan yang biasanya ada di rumah itu.
Hening, tak ada jawaban. Ia pun terus berlari hingga ke belakang. “Kenapa sama sekali tak ada orang di sini ? Ke mana mereka semua?” tidak menemukan adanya tanda kehidupan di sana sama sekali. “Tidak aku harus menemukan tuan dan membangkitkan nya.” terus mencari ke setiap ruangan. “Bagaimana jika tuan saat ini haus ? Dia butuh darah ku sekarang.”
Judith berhenti di kamar Vaska dan masuk ke sana, kosong tak ada siapa pun. Ia tak menyerah begitu saja dengan masuk ke setiap ruangan yang ada di rumah. “Dimana aku harus mencari mu, tuan ?” Judith keluar rumah dan masuk ke setiap jalanan yang ia temukan di sekitar rumah Vaska.
Ia terus berlari untuk mencari Vaksa karena sangat mengkhawatirkan sekali kondisi pria itu.
__ADS_1
“Argh.... !” Judith merinti kesakitan dan berhenti sebentar saat merasa kakinya menginjak sesuatu.
Benar saja kakinya berdarah terkena serpihan batu tajam. Ia pun duduk sebentar dan membersihkan lukanya. Masih terasa perih Ia pun menyukai ujung bajunya dan mengikatnya di kaki nya terluka.
“Aku harus menemukan tuan Vaska. Mungkin saja ia ada di sini.” Judith kembali berjalan dengan kakinya yang masih terluka dan terasa perih setiap kali ayah menggerakkannya, namun ia terus memaksanya.
Hingga sore hari, gadis itu benar-benar kehabisan tenaga setelah mencari jauh hingga kebagian pelosok dan tetap tidak menemukan Vaska.
“Tuan Vaska... kau di mana ?” Judith berbalik dan menuju ke rumah untuk beristirahat dan merawat lukanya.
“Tuan Vaska... kau dimana ? Aku harap kau baik-baik saja di sana. Maafkan aku yang lemah ini dan tak bisa menjagamu.” ucapnya dengan penuh sesal dan air mata kembali berderai dari kedua pelupuk matanya yang mengalir dengan deras.
Dua jam lamanya gadis itu menangis di tempat tidur. Hingga ia lupa untuk makan dan berganti baju. Ia pun tertidur pulas dengan pipi yang masih basah.
__ADS_1
Pagi harinya gadis itu bangun.
“Oh hari apa ini ?” Judith duduk dan menatap kalender yang ada di meja. “Astaga hari ini cuti kerjaku sudah habis dan aku waktunya masuk kerja.” pekiknya teringat pada pekerjaannya.
Ia pun segera membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat kerja. “kruuk.” suara perutnya yang lapar. “Kurasa aku belum makan sama sekali sejak kemarin siang.”
Judith mengambil roti panggang dan segelas susu untuk mengganjal perutnya yang terasa perih melilit, namun ia pun hanya makan sepotong saja karena tidak nafsu makan.
“Apa mungkin tuan Vaska ada di kantor ?” gumam Judith bersemangat setelah selesai bersiap. Ia pun segera berangkat ke kantor.
Sesampainya di kantor ia masuk ke ruangannya. Di sana sudah ada Manajer Abel yang duduk di kursi Vaska.
“Manajer Abel selamat pagi.” sapanya. “Apa anda melihat tuan Vaska di ruangannya ?”
__ADS_1
“Tuan Vaska ? Siapa yang kau cari itu ?”balasnya sambil menautkan kedua alisnya.