
Vaska bergerak dengan cepat di tengah udara dan beberapa kali menoleh ke belakang menatap pada sosok wanita yang menyelamatkan dirinya.
“Siapa sebenarnya dia ? Kenapa dia malah melindungi ku dan menyerang ayahnya sendiri ?” Vaska berharap wanita tadi tidak terluka karena membantunya.
Ia pun akhirnya menghilang dari sana dan kembali ke rumah.
Di dalam hutan terlihat para Matheos mengejar Vaska.
“Kemana dia pergi ?” Matheos yang mengikuti Vaska kehilangan jejaknya dan ia pun kembali ke tengah hutan.
“Lily... !” Raja Alfonso menatap tajam putrinya dengan penuh angkara murka. “Kenapa kau melindungi penyusup itu ?” membelokkan serangannya ke arah pepohonan yang ada di sekitar putrinya agar tidak melukai Putri Lily. “Apa hubunganmu dengan penyusup itu ?” mencecar pertanyaan dengan masih mengepalkan tangannya penuh amarah.
Putri Lily menggelengkan kepala menatap ayahnya dan tidak menjawabnya.
__ADS_1
“Jangan bilang kau tertarik pada penyusup itu !” Raja Alfonso mulai punya pikiran negatif pada putrinya.
“Tidak ayah... bagaimana bisa aku tertarik pada vampir berusia jauh lebih muda dariku ?” Putri Lily kembali menggelengkan kepalanya. “Jangan lukai dia ayah. Jika ayah sampai melukai dia, lebih baik ayah bunuh aku saja.” jelasnya menambahkan.
Raja Alfonso telah semakin marah mendengar jawaban dari putrinya yang tidak mau mengaku dan tetap melindungi vampir penyusup itu.
“Aku akan mengurung mu lagi selama 300 tahun jika kau tidak mau menjelaskan semuanya padaku !” Raja Alfonso tak bisa lagi mentolerir amarahnya. “Ikut aku... !” Pria itu kemudian menyeret putrinya masuk ke suatu tempat dan memberinya hukuman hingga putrinya itu mau mengaku.
“Baik, tuan.” Peter bersiap dan berjaga di luar. Sedangkan Vaska masuk ke rumah dan langsung menuju ke kamarnya.
“Judith, kau sudah tidur.” Vaska sampai di kamar dan melihat Judith dan memastikan keadaannya yang ternyata sudah tidur duluan. “Untung lah kau baik-baik saja dan tidak melihat ku terluka.” menatap Judith sambil menahan rasa sakitnya.
“Hiss...” Vaska kemudian keluar kamar dan menuju ke ruangan lain di mana di sana terdapat obat juga peralatan medis. “Aku tak ingin membuat Judith khawatir padaku.” menyuntikkan sendri obat penahan rasa sakit ke tubuhnya. Agar proses penyembuhannya lebih cepat maka ia pun masuk ke sebuah peti mati dan tidur di sana.
__ADS_1
Keesokan pagi harinya
Vaska membuka mata di saat ya merasa tubuhnya sudah baikan dan semua lukanya sudah pulih.
“Aku harus segera keluar dari sini sebelum Judith mengetahui aku ada di sini.” Vaska segera keluar dari peti mati lalu keluar dari ruangan itu menuju ke kamarnya.
Tepat di saat yang bersamaan Judith juga barusan bangun dari tidur dan juga keluar untuk mencari Vaska.
“Sayang kau dari mana ?” Judith berpapasan Vaska tepat di depan pintu. “Aku dari belakang.” jawab Vaska singkat. “Bagaimana dengan semalam, apa kau terluka ?” Judith menyentuh pipi Vaska. “Aku belum mendapatkan penawar yang kucari.” menatap intens Judith.
“Judith tangan mu terasa panas.” Vaska menyentuh tangan gadisnya saat merasakan wajahnya terasa panas. “Astaga Judith kau...” terkejut saat melihat wajah gadisnya yang memerah.
Ia beralih memegang tangan Judith dan lebih terkejut lagi saat melihat ada bintik merah di sana.
__ADS_1