
Vaska menatap Judith yang terkulai lemas dan sama sekali tak bereaksi.
“Judith, ku mohon bangunlah. Ada sesuatu yang ingin sekali ku sampaikan padamu.” Vaska berdiri sambil menggendong tubuh gadis kecilnya dan menatapnya dengan intens.
“Judith kumohon bangunlah...” Vaska mengalirkan energi kehidupan pada Judith dengan mencium bibirnya.
“Tuan Vaska...” Judith akhirnya membuka mata setelah mendapatkan sedikit energi kehidupan dari Vaska. Ia tersenyum kecil menatap pria itu dan menyentuh pipi Vaska.
Judith melihat ada kelopak mawar yang berguguran dari saku baju Vaska, jatuh ke atas tubuhnya.
“Jadi... kelopak mawar yang selama ini ada di tempat tidurku adalah kelopak mawar milik tuan Vaska ?” Judith hafal dan yakin sekali karena keduanya berjenis sama. “Judith itu tak penting sekarang. Kau harus tetap sadar. Kau harus mendengarkan sesuatu dariku.” Vaska terus berlari keluar dari kantor menuju ke mobilnya.
__ADS_1
“Terimakasih tuan Vaska, aku sudah tidak kuat lagi.” Judith memejamkan mata sambil tersenyum lebar. “Judith... ! Tidaaak... ! Bangun Judith.... !” Vaska berteriak histeris saat gadis kecilnya itu kembali tak sadarkan diri.
Ia pun segera membaringkan tubuh Judith di kursi belakang dan kemudian mengemudikan mobil dengan cepat menuju ke rumah sakit terdekat.
Tak lama kemudian mobil berhenti di depan sebuah rumah sakit. Vaska keluar dari mobil dengan membopong tubuh Judith dan berlari dengan cepat masuk ke rumah sakit.
“Tolong segera tangani gadis ini.” Vaska menghampiri petugas medis yang ada di depan rumah sakit sambil membopong Judith. “Baik tuan.” petugas medis segera membawa Judith dan membawa ke ruang UGD.
Dengan berat hati, Vaska pun keluar dari ruangan tempat Judith dirawat dan menunggu di luar dengan cemas.
“Pasien kehilangan banyak sekali darah. Lakukan transfusi darah sekarang.” ucap dokter pada perawat yang ada di sampingnya setelah memeriksa kondisi Judith. “Bawakan lima kantung darah.” tambah dokter saat perawat mulai bergerak. “Baik dokter.” perawat segera keluar dari ruangan dan menuju ke bank darah untuk mengambil kantong darah.
__ADS_1
“Bagaimana kondisi pasien ?” Vaska ketika berdiri saat melihat perawat yang kembali dengan membawa lima kantong darah. “Kami sedang berusaha semaksimal mungkin, tuan.” perawat berhenti sebentar untuk menjelaskan namun segera masuk kembali ke ruangan.
“Semoga saja Judith tidak apa-apa dan bisa di selamatkan.” Vaska berulang kali menatap pintu ruangan tempat Judith dirawat yang masih tertutup dengan cemas. “Jika sampai terjadi apa-apa pada Judith, maka aku akan buat perhitungan denganmu Marvell !” Vaska mengepalkan tangannya menatap kosong ke depan.
Satu jam kemudian pintu ruangan tempat Judith di rawat terbuka.
“Dokter, bagaimana kondisi pasien sekarang ini ?” Vaska segera berhambur masuk ke ruangan itu saat melihat pintu terbuka. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tuan. Kondisi pasien masih kritis karena kehilangan banyak darah. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan nya.”Dokter menjelaskan kondisi pasien yang sebenarnya meskipun itu menyakitkan atau membuat penunggu pasien kecewa karenanya.
“Tolong dokter berikan penanganan yang terbaik untuk pasien. Untuk urusan biaya berapapun aku akan membayarnya.” Vaska tak rela dokter berkata seperti itu. “Kami sudah berusaha yang terbaik, tuan. Jika pasien bisa melewati masa kritis dalam 24 jam maka pasien akan baik-baik saja. juga lebih dari itu kami tak bisa melakukan apapun lagi.” Dokter menggeleng dan juga terlihat sedih. Ia pun keluar dari ruangan itu bersama petugas medis lainnya.
“Judith... ini pasti tidak benar.” Vaska menghampiri Judith yang masih terbaring lemah dan memegang erat tangannya.
__ADS_1