Bloody Marriage Contract

Bloody Marriage Contract
Eps. 153 Waspada


__ADS_3

Malam hari di tempat praktek Vaska. Pria itu sedang memeriksa pasien terakhir sebelum ia menutup tempat prakteknya.


“Selama beberapa hari ke depan jangan mengkonsumsi makanan pedas, asam ataupun bergas tuan agar lambung anda cepat pulih.” Vaska memberikan nasihat pada pasien nya yang menderita asam lambung.


“Baik dokter, aku memang penyuka makanan pedas. Terimakasih dokter Vaska.” pasien itu kemudian keluar dari ruang praktek dan menyerahkan resep obat yang diberikan oleh Vaska pada Judith.


“Tolong di tunggu sebentar, tuan.” Judith bawa resep itu dan mengambilkan obatnya kemudian menyerahkannya pada pasien. “Terima kasih, nona.” pasien tadi keluar dari tempat praktek Vaska menuju ke rumah.


Lima menit setelahnya, Judith merapikan ruangan kerjanya dan menutup tempat praktek.


“Judith tunggu dulu.” Vaska memanggil dan menahan gadisnya agar tidak keluar dulu. “Ya, sayang.” Judith berbalik kemudian menghampiri Vaska yang baru keluar dari ruang periksanya.


“Di luar ada vampir yang mengintai warga. Dan aku tak ingin dia datang kemari lalu mengincar Judith, seperti kasus Marvell dulu.” Vaska diam menatap Judith dengan penuh kecemasan.


“Ada apa ?” Judith lebih mendekat. “Tidak ada.” Vaska menyentuh pipi Jovi dengan lembut. Ia pun menarik dagu gadis itu mendekat dan mencium bibirnya.

__ADS_1


“Aku harus waspada dan siaga mulai dari sekarang. Aku tak ingin kejadian yang sama seperti dulu kembali terulang.”


“Mm... sayang apa yang kau lakukan ?” Jovi merasakan bibir pria itu terasa hangat dan ada sebuah energi hangat masuk ke tubuhnya. “Sayang, hentikan ini. Aku tak ingin kau kehabisan tenaga.” Judith mengakhiri ciuman karena pria itu memasang perisai pelindung padanya.


“Mmm...” Vaska tak mendengarkan perkataan Judith dan kembali mencium bibir tipis gadisnya sambil memasang perisai pelindung es di tubuh Judith.


Judith kembali menarik bibirnya dan mendorong tubuh Vaska sedikit.


“Ada apa sebenarnya ? Kenapa memasang perisai pelindung ?” Judith melihat muka Vaska yang kini menjadi pucat setelah mengalirkan energi pelindung pada dirinya. “Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin melindungi dirimu dari virus atau pun sejenisnya yang tak kasat mata.” tidak menceritakan jika ada vampir di daerah sini karena tak ingin membuat garisnya itu khawatir ataupun ketakutan.


“Muka mu pucat sayang, hisap darah ku sekarang.” Judith memegang kepala Vaska dan menyandarkannya ke leher nya. “Aah...” Judith merintih saat pria itu menghisap sedikit darahnya. “Hisap lagi aku tak ingin terjadi sesuatu padamu.” meminta Vaska yang berhenti untuk menghisap darahnya kembali.


“Judith... bagaimana denganmu nanti...”


“Aku tak apa, dengan istirahat cukup dan minum obat saat ini kondisi akan pulih.” Judith memaksa hingga akhirnya Vaska kembali menghisap darahnya.

__ADS_1


“Wajah mu sudah tidak pucat lagi sekarang.” Judith tersenyum lebar sembari mengusap wajah Vaska yang kini sudah tidak pucat lagi.


“Ups... !” Vaska menangkap Judith yang hampir jatuh karena berjalan sempoyongan. Ia pun kemudian menggendong Judith keluar dari tempat praktek dan membawanya ke kamar.


Keesokan paginya


Kesepuluh anak tadi pergi ke sekolah seperti biasanya.


“Kenny... Buddy... kenapa kalian bercucuran keringat seperti itu ?” ucap seorang anak lelaki yang juga merupakan teman sekelas Kenny dan Buddy saat melihat mereka berdua berkeringat hingga pakaian mereka hampir basah oleh keringat.


“Kami memang merasakan gerah.” Kenny mengambil buku yang ada di meja dan menjadikannya kipas untuk mengipasi tubuhnya yang masih terasa gerah.


Di kelas lain terlihat Yona yang pergi ke toilet.


“Kenapa muka ku tiba-tiba jadi merah seperti ini ?” Yona bercermin setelah membasuh mukanya dan melihat mukanya yang saat ini berubah merah seperti kepanasan.

__ADS_1


__ADS_2