
Setelah pasien tadi pergi, Vaska menghampiri Judith yang masih duduk dan menata berkas lainnya untuk keperluan pasien.
Tiba-tiba Vaska menarik gadis itu berdiri dan membawanya ke wastafel yang ada di dekat pintu.
“Judith kau belum mencuci tangan mu.” Vaska membuka kran air wastafel lalu mengambil sabun dan menuangkannya ke tangan Judith. “Sayang... kenapa ?” Judith mengikut saja saat pria itu mencuci bersih tangannya.
“Semua pasien yang datang ke sini adalah orang sakit dan mereka semua membawa virus. Kau harus rajin mencuci tangan untuk meminimalisir penyebaran virus penyakit.” Vaska mengeringkan tangan Judith di bawah alat pengering. “Ya, sayang.” Judith menatap intens Vaska selama beberapa detik sebelum kembali masuk ke tempat praktek.
Pasien yang tadi periksa sudah kembali ke rumah. Sesampainya di sana ia pun segera meminum obat yang diberikan oleh Vaska.
__ADS_1
“Ayah bagaimana dokter baru itu ?” sang istri mengikuti suaminya yang barusan masuk ke rumah ke dapur kemudian menghampirinya. “Bagus bu pelayanannya, semoga saja obatnya cocok.” meminum pil berwarna merah, kuning dan dua pil kecil lainnya.
“Apa kata dokter itu ?” sang istri beralih duduk di samping suaminya yang masih duduk. “uhuk... uhuk... Dokter Vaska bilang padaku aku terkena infeksi paru-paru dan berobat selama enam bulan tanpa putus.” pria itu menjelaskan pada istrinya. “Beruntung ada dokter di sini jadi tak perlu jauh-jauh mencari dokter. Semoga saja penyakit mu cepat sembuh.” sang istri menanggapi sambil melihat obat yang didapatkan suaminya.
Di rumah warga lain, tepatnya di rumah Albert. Anak lelaki itu bangun tidur, namun masih berada di kamarnya dan belum keluar dari sana.
“Albert bagaimana kondisi mu sekarang ?” sang ibu masuk ke kamar Albert untuk memeriksa kondisi putranya yang masih sakit. “Bintik merah di tubuhku sudah hilang, tapi aku masih merasakan tubuhku panas ibu.” Albert menjelaskan apa yang ia rasakan pada ibunya.
“Baiklah jika begitu makanlah ini dulu dan ibu akan mengambilkan obat penurun panas untuk mu.” sang ibu membawa sarapan pagi, menyerahkan itu pada Albert kemudian keluar dari kamar untuk mengambil obat pereda panas di kota obat.
__ADS_1
Malam hari di rumah pasien pertama Vaska yang tadi periksa.
“Nafasku sedikit longgar dari pada sebelumnya dan pusing kepala ku berkurang. Sepertinya obat dari dokter Vaska mujarab.” ucap pria itu setelah setelah meminum obatnya kembali.
Karena merasakan kondisi tubuhnya membaik maka ia pun menceritakan pengalamannya periksa ke dokter Vaska pada tetangga yang ada di sana juga kerabat dan saudaranya.
“Aku dengar dari Rocky dia merasa baikan setelah periksa pada dokter baru di sini.” seorang lelaki yang rumahnya berada tepat di samping Rocky bercerita pada salah satu keluarganya. “Jika begitu aku juga ingin mencobanya ke sana. Saat ini aku merasa sedang tidak badan juga.” jawab seorang lelaki segera berdiri dan tak menunda lagi rencananya untuk berobat.
“Kau mau kemana ?” tanya pria yang ternyata adalah kakaknya. “Ke dokter Vaska, kak.” berhenti sebentar dan berbalik untuk memberitahu kakaknya kemudian kembali berjalan menuju ke tempat praktik Vaska.
__ADS_1
“Sayang, sepertinya ada pasien lagi yang datang.” Judith yang mau menutup tempat praktek melihat seorang lelaki menuju ke sana. “Ya, Judith biarkan dia masuk jangan menutupnya dulu.” ucap Vaska dari dalam.