
Burung putih bertanduk itu terlihat jinak dan diam saja saat anak-anak kecil di sana bergantian memegang nya.
“Aku baru pertama kali ini melihat seekor burung hantu seperti ini. Apa ini spesies baru ?” ucap Jonathan, anak lagi lainnya yang saat ini memegang burung putih itu. “Jika ini benar-benar spesies baru berarti kitalah penemunya dan mungkin saja kita akan terkenal karena nya.” tambah Jonathan tersenyum lebar dengan mata yang juga melebar.
“Ya benar, jika memang terbukti sebagai spesies baru, maka nama kita akan diabadikan dan dikenal oleh seluruh dunia.” timpal George, anak lelaki lainnya tak kalah semangat.
“kuuuk...” burung bertanduk itu bersiul sambil mengepakkan sayapnya yang membuat anak-anak kecil di sana semakin gemas saja melihatnya. “Aku akan bawa pulang dia dan pelihara di rumah.” ucap Kevin, anak lelaki lain. “kaaak...” tiba-tiba burung putih bertanduk tadi terbang dan hinggap di bahu Kevin.
“Dia lepas dari tangan mu, itu artinya dia tidak mau kau pelihara.” timpal Gilbert, anak lelaki lain tersenyum kecil dan mengambil burung putih bertanduk tadi dari bahu Kevin dengan cepat. “Hey kembalikan.” Kevin merebutnya kembali dari tangan Gilbert. “Auwh.... !” Gilbert berteriak kesakitan saat burung bertanduk putih itu mematuk ujung jari tangannya sampai berdarah.
__ADS_1
“Kalian berdua menyakiti burung itu sehingga dia marah dan mematuk mu.” Chloe, seorang anak gadis memperingatkan dua teman lelakinya itu agar berlaku lembut pada binatang.
Di saat mereka semua sedang ramai sendiri dan saling berebut untuk memegang burung bertanduk putih itu, tanpa sepengetahuan mereka burung tadi menghisap darah yang keluar dari jari Kevin hingga darah yang mengalir itu tak tersisa lagi.
“Begini saja... biar adil dan semuanya bisa menyentuh maka kita buatkan sangkar dan taruh di sini, di tempat yang aman dan sekaligus kita bisa melakukan penelitian apakah benar dia memang spesies baru. “phaaak...” setelah selesai membersihkan udara yang mengalir dari luka yang mengalah di jari Kevin burung putih bertanduk tadi kemudian terbang.
“Kalian sih bicara begitu, membuatnya takut dan jadi kabur dari kita.” ucap Mel berusaha meraih burung yang terbang melewati atas kepalanya, namun tak bisa menangkapnya. “Yah... penemuan berharga kita hilang sudah.” Gilbert terlihat kecewa melihat burung putih bertanduk tadi sudah hilang dari pandangan mereka dengan cepat.
Siang beranjak sore.
__ADS_1
Peter masuk ke dalam rumah dan melihat ke seisi rumah.
“Bagian dalam sudah bagus dan sesuai dengan apa yang diminta oleh tuan Vaska.” Peter melihat dinding bagian dalam yang tidak berwarna tosca muda. Ia pun kemudian kembali berkeliling ke setiap ruangan yang ada di sana kemudian keluar kembali.
“Tuan, rumah anda sudah selesai dan siap untuk ditempati.” Peter menghampiri Vaska yang sedang melihat di sisi barat rumah. “Ya Peter, kerja bagus. Aku suka dengan pekerjaannya yang rapi juga sesuai dengan yang ku desain.” Vaska menimpali dan terlihat puas sekali. “Jika begitu aku akan menarik kembali pasukan vampir, tuan.” Peter menghampiri pasukan vampir nya yang ada di sekitarnya.
“Kalian semua berkumpul sekarang.” Peter memanggil semua pasukan vampirnya karena memang pengerjaan pembangunan rumah sudah selesai. “Siap.” dalam hitungan detik semua pasukan vampir berkumpul di depan Peter.
“Terimakasih atas bantuan kalian semua. Sekarang kalian semua bisa kembali beristirahat.” Peter mengambil botol kaca dan membuka tutupnya. Dalam sekejap para pasukan vampir tadi berubah menjadi gelombang udara yang kemudian masuk secara berurutan ke dalam botol kaca.
__ADS_1
“Judith malam ini kita sudah bisa tidur dengan nyaman di rumah baru kita.” Vaska menghampiri Judith yang berada di sisi timur rumah sambil tersenyum kecil menatap rumah mewah di depannya.