
Judith berada di dalam kerang raksasa. Ia melihat mutiara hitam berkilauan sebesar kelereng tepat di bagian tengah tubuh kerang raksasa.
“Aku harus mengambilnya sekarang.” Judith mengulurkan tangannya dan mengambil batu kehidupan itu kemudian segera menyimpannya dalam tas. “Tinggal mencari jalan keluar dari tubuh kerang raksasa saja.” menuju ke bibir kerang dan berusaha membuka cangkangnya.
Namun cangkang itu terasa berat seperti di lem saja dan sama sekali tak terbuka sedikitpun. Batu kehidupan yang ternyata juga merupakan sumber inti kehidupan kerang raksasa itu sendiri, mempunyai peran vital bagi kerang raksasa. Ibarat jantung yang merupakan pusat dari semua kehidupan, maka dengan diambilnya batu kehidupan itu membuat kerang raksasa merasakan sakit yang luar biasa.
“Argh...” Judith merasa kerang itu dagingnya semakin menebal dan lebih parahnya lagi seolah mengamuk akan meremukkan tubuhnya dengan dagingnya yang terasa lengket luar biasa.
“Berpikir... berpikir Judith.” Judith kembali berpikir bagaimana caranya dia keluar dari sana saat daging kerang mulai membelit tubuhnya. “Aku tidak tahu ini akan bekerja atau tidak.” mengeluarkan lemon dari dalam tasnya lalu menggigitnya dan memercikkan air perasaannya pada daging kerang.
Sebelum berangkat ia sudah menyiapkan berbagai bahan dan peralatan yang mungkin ia perlukan selama dalam pencarian. Judith menyiapkan beberapa lemon yang mungkin saja akan berguna untuknya. Secara kerang sensitif dengan bahan yang bersifat acid.
__ADS_1
Benar saja beberapa saat setelah Judith membersihkan perasan lemon ke kerang, daging yang tadi menebal dan hampir menelan Judith bulat-bulat tiba-tiba menipis, menipis dan terus menipis hingga akhirnya menjadi kering dan menyisakan cangkangnya saja.
“Aku tak menyangka ternyata perasan lemon ini mujarab juga.” Judith tersenyum lega. Ia pun mencoba membuka cangkang kerang dan berhasil ia buka dengan mudah.
Setelah ia berhasil keluar dari kerang raksasa, ia kembali berenang di sungai untuk mencari jalan keluar.
“Bagaimana dengan ular berkepala sepuluh tadi, apakah ia sudah pergi dari sini ?” Judith menoleh ke samping dan melihat ke sekitar mencari keberadaan ular raksasa tadi.
“bleb... bleb.” air di sekitar tempat Judith berada tiba-tiba kembali berak dan berguncang hebat. “Astaga dia kembali mengejar ku !” menoleh ke belakang dan melihat ular tadi mengejarnya dengan cepat.
“Pipa apa itu ?” Judith melihat sebuah pipa panjang yang berada di depannya dengan ukuran diameter 50 cm. “Aku akan bersembunyi di sana.” masuk ke pipa yang pas dengan seukuran tubuhnya.
__ADS_1
“bugh...bugh....!” ular tadi berhenti di depan pipa tempat Judith bersembunyi, mencoba untuk masuk. Karena tak bisa masuk ia pun mematuk-matuk pipa itu. “Tolong selamat kan aku Tuhan.” Judith terlihat gemetar di dalam pipa dan terus memanjatkan doa untuk keselamatan dirinya.
Karena tak keluar juga dari dalam pipa, maka ular raksasa yang marah tadi menyundul pipa tempat Judith berada dan melemparnya dengan kekuatan besar hingga keluar dari sungai.
“Argh... !” Judith berpegangan erat pada sisi pipa saat pipa itu melayang jauh tinggi di udara, bahkan melesat keluar dari area hutan.
“Argh...” Judith kembali berteriak kesakitan saat pipa mendarat ke tanah dengan keras.
“krak !” pipa pecah dan terbelah menjadi dua karena saking kuatnya benturan yang terjadi sehingga membuatnya pecah.
“Syukurlah aku berhasil keluar dari area hutan berbahaya dan tak ada yang mengejar ku lagi.” Judith melihat ke sekitar.
__ADS_1
“Aku harus kembali sekarang.” Judith berdiri dan melangkahkan kakinya. “Argh...” ia kembali merintih kesakitan dan merasakan sakit di pergelangan tangan kirinya. “Tangan ku retak, mungkin saja patah.” melihat tangannya yang tak bisa lagi ia gerakan.
Namun Meskipun begitu ia bahkan terus berjalan bahkan berlari menuju ke tempat ia memarkir motor sebelumnya. Dengan kondisi tangan yang patah, dan sekujur tubuh terluka Judith keluar dari sana, kembali menuju ke rumah Vaska.