
Setelah kepergian Succubus dari hadapan Vaska dan Judith, mereka berdua pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari Selachipmorpha.
Jalanan yang tadinya tertutup oleh Succubus kini terbuka kembali dan terlihat hamparan salju di depan mereka.
“Saljunya terlihat semakin tebal.” Judith melihat jalanan yang semakin lama semakin tebal saljunya yang terlihat menumpuk di beberapa ruas jalan. “Brr...” gadis itu kembali merasakan dingin datang menyergap tubuhnya.
“Apa kau tak apa ?” Vaska melihat ke samping dan melihat gadisnya kembali gemetar terkena dinginnya udara saat ini. “Ya, sayang tak apa.” jawabnya singkat.
Vaska bisa merasakan tangan Judith yang sangat ini dingin sekali, sedingin es. Ia pun menggenggam tangan Judith dan mengalirkan energi hangat pada gadisnya.
“Terimakasih, sayang.” Judith terima kasih pada kekasihnya saat ia mulai merasakan hangat di saat angin yang berhembus semakin kencang dan dingin saja. “Apakah letaknya masih jauh ?” Judith bertanya pada Vaska setelah beberapa saat mereka berjalan dan tak menemukan apapun di depan ataupun sekitar mereka.
__ADS_1
“Mungkin sebentar lagi kita akan menemukannya.” balas Vaska singkat dan terus berjalan untuk mencari Laut Tisza. “Apakah itu gunung ?” Judith melihat sesosok benda yang menjulang tinggi di tengah dinginnya kabut yang ada saat ini.
“Mungkin saja itu adalah sebuah gunung.” Vaska yang tidak tahu apa ada gunung di sana tak berani memberikan jawaban pasti. “Kita akan mengetahui itu setelah melewati kabut tebal ini.” lanjut Vaska dan terus berjalan.
Mereka terus berjalan dan menapakkan kaki di atas salju yang semakin lama semakin tebal. Mereka pun akhirnya berhasil menembus kabut tebal.
“Ternyata itu memang gunung.” Judith Berhenti sebentar saat melihat sebuah gunung yang terhampar dan menjulang tinggi di depan mereka. “Ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Kita masih belum menemukan Laut Tisza.” Vaska menarik tangan Judith dan mengajaknya berjalan kembali.
Mereka terus berjalan hingga kemudian Vaska berhenti karena merasa ada yang aneh.
“Sayang ada apa ?” Judith ikut berhenti saat pria itu berhenti. “Tunggu dulu ! Aku merasa tanah yang kita pijak saat ini terasa berbeda.” Vaska Menjelaskan hal itu pada Judith. “Aneh ? Aku tidak bisa membedakannya.” timpal Judith yang tak merasakan ada keanehan di sana.
__ADS_1
Vaska kemudian berjongkok untuk memeriksanya.
“tuk-tuk.” Vaska mencoba mengetuk tanah yang dipijaknya saat ini menggunakan jemarinya. Terdengar suara yang berbeda seperti saat ia mengetuk sebuah gelas. “tuk-tuk.” kembali mengetuk dengan lebih keras untuk membuktikan dugaan nya.
“krak...” tiba-tiba tanah di sekitar tempat Vaska mengetuk tadi retak. Ia pun mencoba melihat retakan nya dan benar saja dari dalam ratakan itu terlihat arus air kecil di dalamnya.
“Judith, mundur.” Vaska seketika berteriak dan meminta gadisnya untuk mundur dari tempat mereka berpijak saat ini.
“Kraak.” saat Judith mundur terdengar suara retakan yang lebih keras dan timbul apakah yang lebih besar di depan mereka berada saat ini.
“brassz...” dalam hitungan detik saja kembali muncul ratakan di sekitar takkan tadi yang jumlahnya bertambah semakin banyak. “Argh....!” Judith berteriak saat semua lapisan tanah di sekitarnya berada pecah yang memperlihatkan sebuah aliran air di bawahnya dan Judith tercebur di sana.
__ADS_1