
Keesokan harinya Judith masuk kerja seperti biasanya. Namun kali ini dia berangkat seorang diri saja tidak bersama Vaska.
“Lihat... gadis itu kan istri kontraknya CEO ?” ucap orang gadis yang berjalan di lorong dan bertemu dengan Judith. “Kemarin dia terlihat cantik dan anggun, sekarang dia kembali lagi ke penampilan aslinya. Culun.” berkata dengan bibir mengerucut kemudian tersenyum merendahkan.
“Mungkin CEO sudah memutus kontraknya. Habis dekil begitu. Pasti sudah bosan dengannya.” timpal seorang gadis lain yang juga menatap Judith dengan tertawa merendahkan.
“Mereka tak ada lelahnya membicarakan diriku.” Judith hanya melihat mereka saja dan mendengarkan saja apa yang mereka ucapkan sambil dan matanya terlihat sedih.
Dari arah depan dua gadis tadi. Seorang lelaki menghentikan langkah mereka sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Ternyata kalian masih saja membicarakan Judith. Apa kalian mau aku pecat dari sini ?” ucapnya dengan nada yang bergetar dan tatapan membunuh.
“Maaf... maafkan kami, CEO. Kami berjanji tidak akan mengulanginya kembali.” jawab dua gadis tadi dengan gemetar ketakutan setengah mati. Mereka pun segera berjalan cepat dan meninggalkan Vaska.
Judith menatap Vaska dan mata mereka saling berpandangan.
“Terima kasih tuan Vaska kau selalu membantuku di saat seperti ini” kemudian berlalu masuk ke kantor Vaska.
__ADS_1
“Kenapa dia segera pergi setelah melihatku ? Apa dia menghindari ku ?” entah kenapa Vaska tak bisa menafsirkan tatapan mata Judith padanya.
Ia bermaksud menyusul gadis itu dan masuk ke ruangannya, namun langkahnya terhenti.
“CEO... !” panggil Andrew dari Departemen marketing berlari dengan terengah-engah.
“Ada apa ?” Vaska berbalik menatap Andrew sambil menautkan kedua alisnya.
“CEO ada jadwal meeting. Lima menit lagi akan dimulai. Tapi manajer Abel tidak ada di tempat. Dan tidak diketahui keberadaannya.” ucapnya dengan berkeringat dingin sambil menatap jam yang melingkar di tangan.
Ia pun kemudian berjalan terburu-buru mengikuti Andrew menuju ke ruang meeting.
“Aku seperti mendengar suara CEO di luar ruangan ? Tapi dia tak ada di sana ?” Judith berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan keluar ruangan dan tak ada siapapun di sana.
“Aneh sekali. Ah sudahlah mungkin dia ada meeting mendadak atau sejenisnya.” Judith kembali masuk ke ruangannya dan mengerjakan tugasnya.
Hingga sore hari barulah Vaska masuk ke ruangannya.
__ADS_1
“Huff...” pria itu duduk dan menyandarkan bahunya ke sofa yang empuk setelah meng-handle meeting yang hampir kacau dan menguras tenaga serta pikirannya.
“Judith aku haus.” ucapnya tanpa menoleh.
“Baik tuan.” Judith keluar dari ruangannya dan menghampiri Vaska yang ada di sebelah ruangannya.
“Apa di sini ?” Judith menoleh menatap ke sekitar untuk melihat ada seseorang yang lewat atau tidak. “Apa CEO yakin ?” menegaskan kembali.
“Ha...” Vaska tertawa kecil. Karena gadis itu pasti telah salah paham padanya. “Bukan itu yang ku minta. Moccacino saja.”
“Baik tuan Vaska.” Judith merasa lega karena yang pria itu minta bukan darahnya. Ia pun segera masuk ke dapur dan membuatkan secangkir moccacino.
Judith segera memberikan moccacino pesanan Vaska lalu kembali ke ruangannya.
“drrt... drtt...” suara ponsel Milik Judith yang bergetar dari tadi. Ia pun segera mengangkat telepon degan panik karena telepon itu dari rumah sakit tempat ibunya dirawat.
“Halo...” Judith menjawab dengan perasaan cemas. Ia kemudian mendengarkan penjelasan dari petugas medis yang menelepon nya yang membuatnya gemetar.
__ADS_1