
Raja Alfonso baru mengetahui ternyata setelah kejadian bencana alam itu sebagian dari mereka selamat dan melanjutkan keturunan mereka hingga sekarang ini.
“Jika ada laporan mengenai Vampir itu segera laporkan padaku.” Raja Alfonso menerima laporannya dan terlihat berpikir. “Baik yang mulia.” Darwin pun segera mundur setelah selesai menyampaikan laporannya.
Di balik pohon berjarak lima meter, terlihat seorang Matheos wanita yang berambut hitam panjang, bertanduk dengan kedua mata merah mendengar semua ucapan mereka.
“Jadi ada vampir jenis lain di sini ?” wanita itu juga baru mengetahuinya. “Seandainya saja dulu ayah tidak menemukan aku terdampar di pulau kosong, aku pasti akan tetap bersama putraku dan suamiku.” wanita itu terlihat bersedih teringat kembali masa lalunya.
“Sayang, semoga saja kau merawat semua putra kita dengan baik.” ia pun segera menghilang dan pergi dari sana sebelum Raja Alfonso marah padanya karena ia ketahuan mencuri dengar pembicaraan mereka.
Tiga hari berlalu dan para korban Matheos yang sudah deh sebenarnya kini mulai merasakan badan mereka meriang.
“Argh... ada apa dengan wajahku ?” seorang anak perempuan berteriak histeris saat bercermin dan melihat wajahnya penuh dengan bintik-bintik merah.
__ADS_1
Sontak saja semua keluarga yang ada di rumah itu segera berlari ke kamar sang anak.
“Ada apa Jane ?” sang ayah menghampiri putrinya yang masih berdiri di depan cermin dengan memegang wajah. “Lihat ayah, muka ku berubah seperti ini setelah bangun tidur.”Jane menunjukkan mukanya yang penuh dengan bintik merah pada sang ayah.
“Setelah ini ayah akan mengantarmu ke dokter saja untuk periksa.” sang ayah melihat bintik merah di wajah putrinya. “Bersiaplah sekarang.” sang ayah kemudian keluar dari sana dan bersiap untuk mengantar putrinya.
Di rumah Vaska
“Jika nanti sepi pasien aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat.” Vaska yang merasa lelah dan perlu refreshing beberapa saat mengajak Judith liburan sebentar. “Ya sayang, apa kau lelah ? Tutup saja sehari atau dua hari tempat praktek ini.” Judith memberikan saran.
“Tidak, jika aku libur maka kasihan pasien yang sedang sakit parah dan perlu penanganan cepat.” Vaska karena masih peduli padahal kesehatan para warga di sana.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke tempat praktek.
__ADS_1
“Masih 30 menit lagi baru buka tapi kenapa di luar pasien sudah banyak yang menunggu ?” Judith menatap ke arah luar dan terlihat ada sekitar 20 pasien. “Buka saja sekarang tak apa, mungkin mereka sakit serius dan butuh penanganan secepatnya.” Vaska khawatir jika pasien yang menunggunya di luar itu merupakan korban dari Matheos.
Vaska masuk ke ruangan prakteknya lewat pintu belakang sedangkan Judith lewat pintu depan dan segera membukanya.
“Nona tolong putri ku.” seorang lelaki segera masuk setelah Judith membuka pintu kaca dan mendaftarkan putrinya. “Baik tuan, ini nomor antrian anda.” Judith menyerahkan nomor antrian pada pasien dan memintanya untuk menunggu dulu di ruang tunggu.
Ia pun segera memberikan nomor antrian pada pasien berikutnya yang kebanyakan dari mereka adalah seorang anak-anak.
“Kenapa belakangan ini banyak sekali pasien anak-anak yang mengalami sakit ?” Judith merasa aneh dengan meningkatnya jumlah pasien anak-anak belakangan ini.
Di dalam ruang periksa, terlihat Vaska sedang memeriksa pasiennya dan mencoba mencari bekas gigitan di leher pasien seorang anak lelaki.
“Ya ini adalah gigitan dari Matheos. Aku sudah memperingatkan mereka tapi tetap saja mereka rakus dan menyakiti anak-anak ini.”
__ADS_1