Bloody Marriage Contract

Bloody Marriage Contract
Eps. 150 Korban Berikutnya


__ADS_3

Lima anak kecil tadi masuk lebih dalam lagi ke hutan. Di sana mereka berhenti saat menemukan pohon merambat di tengah hutan.


“Hey lihat... pohon ini berbuah.” Lucy berhenti di depan sebuah pohon yang mempunyai buah berwarna ungu sebesar biji kelereng. “Ya buah apa ini, hampir mirip dengan buah blueberry.” anak lain ikut mendekat dan melihatnya. “Ini bunga atau buah ?” Yona ikut mendekat dan melihatnya karena penasaran.


Yona pun memetik satu buahnya, dan Karena penasaran Ia pun mencoba untuk memakannya.


“hmm... ini buah bukan bunga. Rasanya manis asam mirip dengan strawberry.” Yona menyukainya dan memetik lagi satu. “Kalian coba saja.” menyarankan teman lainnya untuk ikut mencobanya juga.


“Emm... ya benar buah ini rasanya seperti strawberry.” anak lain ikut mencobanya, bahkan ngetiknya lagi setelah tahu rasanya enak.


Maka anak lainnya pun ikut memetik dan mencobanya. Terlihat ada beberapa pohon di sana dan mereka berlima sudah menghabiskan buah di satu pohon.


“Kita jadi lanjut main atau habiskan semua buah di pohon ini ?” Yona yang sudah kenyang berhenti makan, menatap satu per satu temannya yang masih menikmati buah tersebut. “Ya, kita hanya 15 menit saja makan buah ini. Ayo kita lanjutkan.” Lucy menghentikan memetik buah baru itu dan segera berjalan kembali.

__ADS_1


Di tengah jalan mereka berhenti saat menemukan dedaunan yang mirip dengan salah satu sayur yang biasa Ibu mereka masak.


“Kita namakan saja ini lobak ungu karena mirip seperti lobak.” Lucy mencabut sayuran yang ternyata mirip sekali dengan lobak hanya saja berwarna ungu.


“Kita mulai saja di sini. Aku sudah lelah berjalan lagi.” Yona meminta temannya untuk mulai bermain. “Yah, di sini saja. Aku juga lelah kembali berjalan.” timpal anak lain.


Mereka mengeluarkan alat memasak yang mereka bawa tadi dari rumah, berupa alat masak sederhana sebuah panci dan sejenis kuali untuk memasak.


“chop... chop...” mereka memotong sayuran ungu tadi dan juga beberapa jamur kemudian memasaknya. “Sszz...” salah satu dari mereka menyalahkan api untuk memasak.


“Rasanya sedikit asin.” ucap seorang anak setelah mencicipinya. “Ya tak masalah. Lain kali kita akan bawa gula.” Lucy menimpali dan menyantap masakan mereka.


“kuuuk...” tiba-tiba burung putih tadi muncul dan mendarat di tanah, di samping mereka.

__ADS_1


Burung itu memakan sayuran pada mangkuk bekas makan beberapa anak yang sudah selesai makan dan menaruhnya begitu saja di tanah.


“Oh apa kau mau ?” Lucy mengambilkan satu mangkuk dan mengisinya dengan sayuran kemudian memberikannya pada burung putih tadi. “kuuuk...” Matheos menyesap sayuran yang diberikan oleh Lucy padanya.


“Bagaimana rasanya, apa kau suka ? Aku akan mengambilkan mu lagi.” Lucy melihat kok yang diberikannya tadi kosong dan berniat untuk mengambilkan lagi.


“Kuuk...” Matheos terbang dan hinggap di bahu Lucy. Gadis itu pun membiarkannya karena merasa burung itu menggemaskan. “Slurp.”tanpa sepengetahuan Lucy Matheos mematuk lehernya dan menghisap darahnya.


“Kuuk...” Matheos kembali terbang dan hinggap di bahu Yona. “Ahh kau menyukai ku ya.” anak itu juga senang melihat Matheos hinggap di bahunya bahkan ia burung itu bermain-main di bahunya.


Tanpa Yona ketahui, Matheos pun mematuk lehernya dan menghisap darahnya.


“Kuuk...” Matheos merasa masih haus kemudian terbang dan hingga bahu anak lainnya. dan tentu saja ia menghisap darah mereka semua tanpa sepengetahuan mereka.

__ADS_1


“Kuuk...” setelah puas minum darah Ia pun kembali terbang dan menghilang di balik pepohonan. “Darah anak kecil memang terasa luar biasa.” Matheos tadi berubah ke wujud aslinya menatap dengan mata putihnya melihat lima anak tadi yang masih bermain.


__ADS_2