
Marvell sudah menghisap habis darah lima orang gadis dan membuat mereka semua menjadi mayat kering seketika.
“Darah kualitas rendah !” Marvell berdiri dari tempat duduknya setelah selesai minum dan menyepak tubuh seorang gadis yang berada di dekat kakinya dan menghambat jalannya.
“Pelayan, buang tubuh mereka segera !” Marvell memberikan perintah pada pelayan di rumahnya. “Baik, tuan.” jawab seorang pria dengan mata yang juga separuh merah datang menghampirinya kemudian membawa mayat lima gadis tadi lalu membawanya keluar dari rumah.
Pelayan itu tidak menyimpan tubuh mereka dalam peti ataupun mengebumikan jasad mereka dengan layak namun ia melemparnya ke kandang singa.
“Zoro ini makanan mu hari ini !” pelayan tadi melempar lima jasad wanita tadi ke kandang singa. Dan tentu saja singa yang kelaparan itu segera menyantap nya dengan cepat.
“Pelayan, carikan aku tiga blood successive lagi !” ucap Marvell saat melihat pelayannya yang baru masuk ke rumah sambil menghapus sisa darah di sudut bibirnya. “Baik tuan.” pelayan tadi segera keluar rumah dan mencari gadis lain untuk tuannya.
Tak lama kemudian pelayan tadi kembali masuk ke rumah dengan membawa tiga orang gadis.
__ADS_1
“Tuan, ini yang anda pesan.” pelayan menyerahkan tiga gadis dalam pengaruh bius pada Marvell. “Ya, kau boleh pergi sekarang.” Marvell meminta tiga gadis tadi untuk duduk di sampingnya dan meminta pelayannya kembali ke tempatnya.
Kembali ke kantor tempat Judith bekerja. Siang hari ia kembali berjalan melewati kantor Vaska. Ia berhenti sejenak.
“Kenapa sampai siang hari, tuan Vaska tidak ada di tempat ?” Judith melihat dalam dan mendapati kursi tempat duduk Vaska kosong. “Kemana dia ? Apa belum selesai meeting ?”l Judith mengira-ngira sendiri karena biasanya pria itu sering ada meeting dadakan.
“Judith...” Aretha dari dalam ruangan menatap ke arah pintu dan melihat Judith di sana, menghampirinya. “Apa ada dokumen penting untuk CEO Vaska ?” ucapnya setibanya di luar ruangan.
“Ohh... Aretha.” Judith tersadar dari lamunannya. “Tidak...tidak ada dokumen untuk tuan Vaska. Tapi kenapa kursinya kosong ?” menatap kembali kursi kosong Vaska.
Aretha kembali masuk ke ruangan dan kembali mengerjakan tugasnya meskipun tak ada Vaska di sana.
“Ada urusan apa tuan Vaska hingga tak masuk ke kantor ?” gumam Judith di lorong kembali memikirkan pria itu.
__ADS_1
Malam harinya, Judith yang berada di rumah dan biasanya di jam seperti ini selalu pergi ke rumah Vaska terlihat gelisah menatap jam dinding di kamarnya.
“Kenapa perasaan ku tidak enak ya ?” Judith masih terpikirkan pada Vaska. “Apa terjadi sesuatu pada tuan Vaska ?” terlihat cemas tidak karuan, entah kenapa feeling nya tidak enak saja jika memikirkan pria itu saat ini.
“Apa sebaiknya aku ke sana sebentar saja untuk melihatnya dan memastikan kondisinya baik-baik saja ?”
Judith pun kemudian memutuskan untuk pergi ke rumah Vaska malam ini.
Tak lama kemudian ia tiba di depan rumah Vaska yang berdiri dengan megah dan mewah seperti sebelumnya.
Kali ini ia tidak masuk ke sana dan hanya berdiri di depan pagar saja melihat ke arah dalam.
“Ahh... tuah Vaska dia...” Judith terperanjat saat melihat pria itu sedang bersama seorang gadis dan terlihat Vaska mencium lehernya.
__ADS_1
Seketika tubuh Judith gemetar setelah melihatnya. Dan ia pun segera berlari pergi dari sana karena tak kuasa melihatnya.