
Semenjak menjadi manusia, Vaska menutup tempat prakteknya lebih awal. Dari yang biasanya malam pukul 19.00 baru tutup sekarang sore pukul 17.00 sudah tutup.
Selain masih beradaptasi dengan fisiknya yang lemah karena tenaganya terbatas, Vaska juga beradaptasi dengan hal lainnya yang sekarang harus melakukan sesuatu dengan kekuatan sebagai manusia, bukan kekuatan vampir.
Suatu sore setelah menutup tempat praktek. Pria itu keluar dari tempat praktek dan masuk ke rumah bersama Judith.
“Hiss....badan ku kenapa ya ?” Vaska berhenti sebentar karena merasa kepalanya pusing. “Sayang ada apa ?” Judith yang berjalan di sampingnya segera tanggap dan mengajaknya untuk duduk sebentar.
“Aku tidak tahu kenapa kepalaku tiba-tiba pusing.” Vaska duduk bersandar ke kursi sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing tanpa sebab dan hal ini juga merupakan pertama kalinya ia merasakan sakit setelah menjadi manusia.
“Badan mu hangat, sayang.” Judith menyentuh dahi Vaska yang terasa hangat. Ia pun mengambil termometer yang ada di sakunya dan mulai memeriksa. “Kau demam sayang.” melihat suhu tubuh Vaksa 38.3 derajat.
Judith terlihat panik dan khawatir pada lelakinya itu.
__ADS_1
“Sayang kau pasti kelelahan. Beristirahatlah dulu di kamar dan aku akan mengambilkan obat untukmu.” Judith membantu Vaska berdiri dan menemaninya masuk ke kamar.
Dari kejauhan terlihat Peter yang tak sengaja lewat dan melihat kejadian itu.
“Tuan... aku merasa prihatin dengan kondisi fisik mu yang menjadi sangat lemah sekarang ini.” Peter menatap iba pada tuannya. “Dan nona Judith kau benar-benar seseorang yang beruntung karena tuan Vaska rela membuang jati dirinya yang terhormat dan lebih memilih untuk menjadi manusia bersamamu.” merasa sesak dadanya namun itu semua sudah pilihan tuannya sendiri dan ia tak bisa berbuat apapun untuk membantunya, hanya bisa melihatnya saja.
Judith keluar kamar dan mengambilkan obat serta baskom berisi air hangat dan handuk kering.
“Jangan tinggalkan aku.” Vaska menarik tangan Judith saat gadis itu akan keluar dari kamar. “Sayang aku mau mengganti air di baskom ini yang sudah dingin dengan air hangat.” Judith menunjukkan air baskom yang sudah dingin pada Vaska.
“Ya baiklah, cepat kembali.” Vaska melepaskan tangan Judith dan membiarkan gadis itu pergi. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa sedikit takut dalam kondisinya sekarang ini.
Beberapa saat kemudian Judith kembali kamar dengan membawa baskom berisikan air hangat.
__ADS_1
“Sepertinya obatnya mulai bereaksi.” Judith melihat Vaska yang sudah tertidur. Ia duduk samping Vaska sambil mengganti kompresnya yang sudah dingin. “Tidurlah sayang, semoga kau lekas sembuh.” mencium pipi Vaska kemudian keluar dari kamar dan membiarkan lelakinya itu tertidur.
Malam harinya
Vaska tidur bersama Judith dalam satu kamar seperti biasanya. Di tengah malam saat Judith masih telat tidur, Vaska tiba-tiba bangun dari tidurnya.
“Kenapa aku merasakan haus dan tenggorokanku sedikit terbakar.” Vaska turun dari tempat tidur dan mengambil air minum yang ada di meja. “Aneh... aku masih merasakan haus saja.” menaruh satu gelas kosong yang ia ambil tadi ke meja.
Vaska kemudian kembali naik ke tempat tidur. Ia tiba-tiba saja ingin mencium leher Judith dan menghisap darahnya.
“Aku sudah mencoba untuk menghisapnya namun tidak bisa.” Vaska mencoba untuk merasakan darah Judith namun tidak bisa karena taring vampir nya sudah tak ada lagi. “Aneh sekali kenapa aku tiba-tiba merasa seperti haus darah. Apa mungkin karena aku belum bisa melupakannya karena sudah lama melakukannya.” Vaska pun melepaskan leher Judith dan kembali tidur dengan memeluk gadisnya.
Dua jam kemudian Vaska kembali ke wujud Matheos selama 5 menit saja. Tapi baik Vaska maupun Judith nggak mengetahui hal itu.
__ADS_1