
Malam hari di rumah Judith. Gadis itu duduk di sudut ruangan seorang diri sambil menundukkan kepala dengan tatapan kosong menatap ujung jari kakinya.
“Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Hanya tuan Vaska yang terikat denganku dalam hubungan pernikahan kontrak, dan itupun sekarang sudah berakhir. Untuk siapa lagi aku hidup di dunia ini ?” Judith tiba-tiba merasa kesepian hidup di dunia ini. “Ibu kenapa kau tidak mengajakku pergi saja saat kau pergi ?” tiba-tiba menangis terisak karena merasakan hidup sebatang kara di dunia ini tanpa saudara, tanpa ada teman di sampingnya.
Judith meluapkan semua kesedihan dalam tangisnya hingga air matanya kering tak ada yang bisa ia keluarkan lagi setelah ia kuras habis.
Dua jam kemudian gadis itu tertidur di lantai, di sudut ruangan dengan posisi duduk bersandar ke dinding.
Dua jam berikutnya Vaska datang ke rumah Judith. Ia tiba di kamar gadisnya dalam hitungan detik.
“Judith... kenapa kau ada di lantai ?” Vaska terkejut saat sudah sampai di kamar Judith dan melihat gadis itu duduk di sudut ruangan dengan kepala tertunduk. “Dia tertidur rupanya.” melihat wajah Judith sambil menegakkan kepala Judith.
“Apa yang terjadi padamu ? Kenapa kau menangis ? Siapa yang sudah membuatmu seperti ini ?” Vaska melihat bekas air mata yang membasahi pipi Judith lalu mengusapnya.
__ADS_1
Ia kemudian mengangkat tubuh Judith dan membaringkannya di tempat tidur. Ia pun menatap intens gadis kecilnya.
Vaska yang berniat untuk menghisap darah Judith seketika terkejut saat menyentuh lehernya.
“Astaga.... ! Kenapa perisai pelindung ku pecah !” Vaska terkejut saat memeriksa perisai es yang dibuatnya hilang tak berbekas dari tubuh Judith. “Ini pasti ulah Marvell sialan itu !” marah dan tuduhannya mengarah pada CEO Marvell yang selama ini menargetkan Judith. “Apa dia yang membuatmu menangis ? Jika begitu aku akan buat perhitungan dengan dia nanti.” Vaska kembali marah hanya dengan mengingat wajah Marvell saja.
Vaska kemudian menghisap darah Judith.
“Judith meskipun hanya mimpi aku ingin bersama mu.” Vaska mengusap lembut pipi Judith setelah selesai menghisap darah. “Tuan hisaplah darah ku sebanyak yang kau mau.” Judith kembali menyingkap rambutnya yang menutupi leher, menawarkannya pada Vaska.
Vaska sengaja membiarkan gadis kecilnya itu tetap tersadar dengan satu tujuan.
“Aku tidak ingin darah mu. Aku ingin diri mu.” Vaska menyentuh bibir tipis Judith.
__ADS_1
Ia kemudian mencium bibir Judith. Karena mengira ini semua hanyalah mimpi, Judith mengambil inisiatif untuk memberikan kepuasan pada Vaska. Tangannya aktif bergerak melepas semua baju yang yang tadi tubuh pria itu hingga tak bersisa.
“Tuan Vaska... nikmatilah.” Judith melepas lingerie tidur yang ia kenakan saat ini lalu membaringkan tubuh pria itu dan naik ke atas tubuhnya.
“Ahh...” Judith membenamkan dirinya kemudian menggoyang tubuhnya dan merasakan sensasi kenikmatan luar biasa hingga ke ubun-ubun saat merasakan bagian tubuh Vaska yang berulir kasar dan membuatnya merasa geli setengah mati.
“Tuan aku sedih kontrak kita harus berakhir lebih cepat dari jadwalnya. Tapi meskipun dalam mimpi aku akan membuat mu bahagia dan selalu mengingatku.” Judith mencium bibir Vaska.
Beberapa saat setelahnya Vaska duduk dan membaringkan Judith di tempat tidur. Ia duduk sambil membuka lebar kaki Judith dan bermain-main di sana.
“Aaah...” Judith merasa tidak tahan dan kembali menarik Vaska ke atas tubuhnya.
Vaska membenamkan dirinya dan menghabiskan malam itu dengan Judith dan bergerak kasar.
__ADS_1