Bloody Marriage Contract

Bloody Marriage Contract
Eps. 205 Batu Nisan


__ADS_3

Vaska dan Peter sudah menghilang dari rumah. Mereka melakukan perjalanan jauh menuju ke selatan, Armstrong. mungkin dibutuhkan waktu hampir sehari untuk tiba di sana mengingat jaraknya yang cukup jauh sekali.


“Tuan arahnya bukan ke situ tapi ke sana.” di tengah jalan Vaska mengambil jalan yang salah dan Peter memberitahu jalan yang benar. “Oh, ya jadi kau pernah ke sana ?” Vaska berhenti kemudian berubah arah jalannya sesuai dengan arah jalan yang ditunjuk oleh pelayannya.


“Pernah, tuan.” Jawab Peter singkat tapi ia tak menceritakan Jika ia pernah ke sana bersama Raja Ernesto dulu.


Mereka berdua melewati hutan yang lebat sekali dan tak ada manusia yang bermukim di sana.


“Peter... kita istirahat di sini dulu sebentar.” Vaska merasa lelah setelah melewati tiga kawasan hutan yang cukup lebat. “Baik, tuan.” Peter menjejakkan kakinya ke tanah dan duduk di dekat tempat Vaska duduk, di sebuah batu yang ada di samping pohon.


“Batu ini terlihat aneh.” Vaska menatap batu yang ia duduki. “Kenapa bentuknya hampir sama dengan sebuah nisan ?” berdiri dan berjongkok di depan batu tadi.

__ADS_1


Peter ikut berdiri dan bergeser kemudian melihat batu yang dimaksud oleh Vaska.


“Sepertinya ini memang sebuah batu nisan, tuan.” Peter menimpali setelah memeriksa ada pahatan tulisan di sana meskipun sudah tidak jelas dan tak bisa dibaca.


“Nisan ? Tapi makam siapa di tengah hutan lebat seperti ini ?” Vaska menurunkan kedua alisnya karena selama perjalanan tadi mereka tidak melihat ada seorang manusia pun yang tinggal di sana. “Mungkin saja tempat ini dulunya adalah perkampungan, tuan.” Peter menjawab singkat dan terlihat seperti mengetahui sesuatu.


Vaska tidak membahas lagi hal itu dan beristirahat selama beberapa menit. Setelah merasakan lelahnya sudah menghilang dan tenaganya sudah kembali mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.


“Di sini juga ada nisan lagi dan jumlahnya banyak seperti sebuah makam saja.” Vaska kembali melihat banyak nisan di sana dan lagi-lagi Peter hanya diam saja.


“Semoga kalian semua damai di surga.” Peter menatap beberapa nisan yang ia lewati dan berdoa dalam hati untuk teman dan sahabatnya yang gugur dalam peperangan ribuan tahun yang lalu saat Vaska baru di lahirkan.

__ADS_1


Vaska melanjutkan perjalanan hingga melewati hutan bersalju dan tentu saja mereka bisa melewatinya dengan mudah menggunakan kekuatan vampir mereka.


“Aku baru pertama kali ini kemari apakah Armstrong masih jauh ?” Vaska merasa perjalanan ini sangatlah panjang. “Masih separuh perjalanan lagi, tuan.”


Mereka berdua melewati tiga pegunungan yang menjulang tinggi dan akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang terlihat gelap dan dingin.


“Kita sudah sampai tuan.” Peter menjejakkan kembali kakinya ke tanah di depan sebuah tanah kosong yang gelap. “Tak salah aku mengajakmu kemari kali ini.” Vaska ikut menjejakkan kakinya ke tanah dan tersenyum pada pelayannya itu.


“Peter apa kau tahu dimana tempat tinggal Rapalochera ?” Vaska berjalan masuk sembari menoleh ke arah Peter. “Rapalochera ?!” Peter terkejut mendengar tuannya menyebut nama itu. “Jadi tuan kemari untuk menemuinya ?” baru mengetahui jika kedatangannya kemarin untuk mencari mampir tersebut. “Sebaiknya tuan batalkan saja dan kita pulang.” Peter berhenti dan mengajak tuannya untuk pulang saja.


Vaska tidak tahu Kenapa pelayannya itu melarangnya untuk bertemu dengan leluhur vampir itu.

__ADS_1


__ADS_2