
Vaska seketika berdiri dan menghampiri Judith. Lama sekali pria itu menatap Judith.
“Jadi kau sampai merasa bersalah seperti itu padaku ?” Vaska kembali tersenyum tipis dan menatap Intens gadisnya. Baru pertama kali ini ada seseorang yang memperhatikan dirinya. Dari ratusan wanita ya Iya jadikan istri kontraknya ada satupun yang perhatian ataupun peduli pada dirinya seperti Judith.
“Aku baik-baik saja. Kau tak perlu menumpahkan air matamu untukku seperti ini.” Vaska menyentuh pipi Judith dan mengusapnya saat melihat buliran air bening menetes dari pipinya yang lembut.
Entah kenapa meski dalam kondisi tidur, Judith yang awalnya menangis, kini berhenti menangis dan kali ini dia tersenyum masih dengan mata yang masih terpejam.
“Tuan Vaska...” Judith kembali mengigau dan mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke kanan. “Ku kira kau sadar.” Vaska sedikit kecewa namun masih tersenyum karena gadis itu masih memikirkan dan mengingat dirinya.
“Judith... aku tidak tahu kenapa aku selalu mencari mu seperti ini.” Vaska duduk di samping Judith dan menatapnya dengan intens. “Aku belum bisa menemui mu secara langsung. Karena aku khawatir pasukan pengawal dari Versailles akan datang lagi untuk mencari mu karena aku. Dan aku tak mau itu terjadi padamu.” Vaska menyentuh lembut pipi Judith.
“Judith bantulah aku.” Vaska berbaring di samping Judith. “Kali ini aku akan menghilangkan kesadaran mu untuk melindungi mu.” Vaska menjentikkan jadinya dan membuat gadis itu semakin tidur pulas dan ia akan mengingat apapun nanti setelah terbangun.
Vaska membuat Judith duduk lalu segera menyibak rambutnya, kemudian mencium lehernya dan menghisap darahnya.
__ADS_1
“Darah mu masih manis seperti biasanya.” memeluk erat Judith.
Sedikit saja darah Judith yang hisap bisa memuaskan seluruh dahaganya.
“Sudah cukup.” Vaska selesai menghisap darah Judith. Namun ia tak langsung pergi dari sana.
Pria itu masih memeluk Judith, entah kenapa ia merasa nyaman memeluk gadis kecilnya itu.
“Terimakasih kau sudah membantuku.” Vaska yang menatap intens gadisnya beralih menyentuh bibir tipis Judith dan ia pun tak kuasa untuk tidak menciumnya.
“Judith aku akan menemanimu sebentar saja.” Vaska ikut berbaring di samping Judith dan memeluknya. Ia tidak tidur dan hanya menatap Judith saja.
Dua jam kemudian Vaska bangun dari tempat tidur.
“Hari hampir pagi. Aku harus pergi dulu.” Vaska kembali mencium dahi Judith kemudian menghilang dari sana.
__ADS_1
Pagi harinya Judith bangun.
“Oh sudah pagi rupanya.” gadis itu tersenyum saat membuka tirai jendela dan melihat sinar mentari pagi yang masuk ke kamarnya. “Hmm... bau ini...” Judith tiba-tiba merasakan bau harum pada bajunya yang merupakan aroma khas dari Vaska yang diingatnya.
“Apakah tuan Vaska semalam ke sini ?” pekiknya terkejut saat mencium kembali wangi yang menempel di bajunya. “Apa tuan Vaska bener-bener sudah kembali ke sini ? Dan ada yang menyelamatkan dirinya ?” Judith masih tak percaya dan kembali mencium bajunya dan ia yakin sekali pada aroma itu.
Judith kemudian kembali menatap ke arah tempat tidurnya.
“Tapi kenapa tempat tidur ini masih rapi seperti sebelumnya ? Jika memang dia ke sini harusnya tempat tidur ini berantakan.” pekiknya saat melihat semuanya masih rapi dan tak ada yang aneh.
Judith pun melihat ke seisi ruangan dan semua posisi benda di sana sama sekali tidak berubah dari tempatnya.
Karena masih tak yakin juga ya pun berlari menuju ke pintu masuk rumahnya.
“Pintu ini masih terkunci.” Judith terlihat kecewa saat memegang handle pintu rumahnya yang ternyata masih terkunci rapat.
__ADS_1