
Tak lama kemudian pintar kembali dengan membawa perban dan yang lainnya.
“Ini tuan.” Peter menyerahkan semua yang di bawanya pada Vaska. “Ya.” Vaska menerimanya dan menaruhnya ke samping meja. “Apa tuan perlu bantuan ku untuk merawat nona Judith ?” Peter menawarkan diri. “Tidak Peter, biar aku saja yang melakukannya sendiri dan kau boleh pergi sekarang.” Vaska menolak tawaran Peter karena ia ingin merawat sendiri gadis kecilnya itu sebagai balas jasanya pada Judith.
Setelah Peter keluar, Vaska menutup pintu kamarnya karena ia tak ingin ada orang lain yang melihat tubuh gadis kecilnya, termasuk Peter.
Vaska kembali menghampiri Judith. Ia pun melepas baju Judith untuk merawat sekujur luka yang ada di tubuhnya.
“Judith... kenapa kau nekat pergi ke sana ?” Vaska membersihkan luka dan bekas darah yang ada di bagian bahu Judith. “Aku baru tahu kau benar-benar kuat.” mengoleskan salep di bekas luka gigitan yang agak dalam.
Vaska kemudian memiringkan tubuh Judith ke kanan untuk membersihkan luka dan mengoleskan salep di punggungnya.
__ADS_1
“Judith... kau akan mendapatkan balasannya nanti dari setiap luka yang kau dapatkan saat ini.” Vaska menatap intens gadis kecilnya dan menatapnya penuh kasih. Ia pun tak henti-hentinya menciumi bahu Judith dan dahinya.
Setelah selesai membersihkan dan mengoleskan obat pada sekujur tubuh Judith, Vaska memasang perban di bahu dan punggung Judith.
“Bagaimana tanganmu bisa patah seperti ini.” Vaska memegang pergelangan tangan kiri Judith yang patah dan menciumnya. “Ini akan sedikit membantu mu.” Vaska menggunakan sedikit kekuatannya. “krakk.” terdengar suara gemeretuk tulang pria itu menggunakan kekuatannya dan membuat posisi tulang yang tadi menonjol kini kembali ke posisinya semua.
Meskipun bukan dokter, karena sudah hidup ratusan tahun maka Vaska pun sedikit banyak mengetahui permasalahan medis karena sebelumnya ia pernah ikut menempuh pendidikan di dunia manusia.
“Kau akan pulih beberapa waktu lagi.” Vaska memasang perban di pergelangan tangan kiri Judith, persis seperti petugas medis biasa memasang perban pada pasien.
“Baju ini sudah tak layak pakai.” ia pun kemudian berdiri dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Vaska masuk ke kamar ganti di mana di sana terdapat satu lemari yang berisikan penuh satu baju wanita yang ia persiapan sebelumnya untuk Judith.
“Sepertinya baju ini cocok untuknya.” Vaska mengambil baju piyama santai untuk Judith lalu membawanya kembali masuk ke kamarnya. Ia pun memakaikan sendiri baju Judith.
Lima jam kemudian Judith membuka mata.
“Uh... dimana aku ?” Judith menatap ke sekitar dan mendapati dirinya berada di kamar Vaska. “Kau sudah bangun, Judith ?” Vaska yang sedari tadi duduk di sana menunggu, tersenyum kecil menatap Judith.
“Tuan Vaska...” Judith berusaha untuk duduk. “Aku pulang dulu, terimakasih sudah merawat ku.” melihat perban yang membungkus tangan dan kakinya dengan rapi. “Tidak..., menginaplah di sini sampai kondisimu benar-benar pulih.”Vaska menahan Judith dan membaringkannya kembali di tempat tidur.
“Tapi tuan...” Judith berusaha menolak. “Aku ingin jujur pada mu sekarang dan tak ingin menyembunyikannya lagi dari mu.” Vaska menatap Judith dalam-dalam.
__ADS_1
“Judith... aku tahu mungkin aku terlambat menyadarinya. Tapi aku akan tetap mengungkapkannya padamu. Judith, aku mencintai mu. Aku tak bisa hidup jauh dari mu.” Vaska akhirnya mengungkapkan perasaan pada Judith selama ini yang baru ia sadari.
Judith diam terpaku menatap pria itu dan terkejut mendengar apa yang diucapkannya.