
Judith benar-benar tak menyangka sama sekali bisa kembali bertemu dengan pria yang sudah lama ia nantikan kedatangannya setelah lama menunggu dan tak bosan menyerah untuk menunggunya.
“Tuan Vaska, apakah itu benar anda ?” Judith masuk dan menghampiri Vaska yang sedang duduk menatap setumpuk dokumen di mejanya. “Tuan... bagaimana kondisi anda, lama tidak bertemu dengan mu.” tersenyum lebar karena benar-benar merasa senang bisa bertemu kembali dengan pria yang dirindukannya.
“Judith... kau--” Vaska berdiri dari tempat duduknya.
“Aku senang sekali bisa bertemu kembali denganmu, tuan.” Judith memotong ucapan Vaska dan memeluknya dengan erat.
“Judith bagaimana bisa kau menemukan aku di sini. Padahal aku sudah menghapus ingatanmu tentang diriku.” Vaska tak bisa berkata-kata selain karena merasa senang yang amat luar biasa gadisnya itu bisa menemukannya juga karena perlakukan Judith padanya. Ingin sekali ia mencium bibir tipis Judith, namun semua itu ia tahan demi kebaikan gadisnya.
__ADS_1
Vaska tidak membalas pelukan Judith, meskipun ia terlihat mencium rambut Judith tanpa gadis itu ketahui.
“Kenapa tuan tidak bilang pada ku, jika kembali dan sehat begini ? Aku benar-benar mengkhawatirkan kondisi mu, tuan.” Judith melepas pelukannya dan tanpa terasa ia menitikkan air mata karena saking terharu nya.
“Tolong jangan menangis di depanku.” Vaska memejamkan matanya untuk beberapa detik karena tak kuasa melihat air mata gadisnya jatuh membasahi pipinya yang lembut. “Aku baik-baik saja Judith. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku selama ini.” jawab Vaska singkat kemudian segera duduk kembali di tempatnya.
“Tuan maaf aku tidak tahu dengan kedatangan mu jadi aku tidak menyiapkan apapun untukmu.” Judith menghapus air matanya. “Tuan apakah setelah ini aku akan kembali menjadi sekretaris anda ?” tanyanya tiba-tiba teringat pada posisinya sebelumnya.
Vaska baru tersadar pada ucapan Judith. Itu artinya dia harus memindahkan gadis itu ke tempatnya segera.
__ADS_1
“Jika kau bersama ku, aku takkan bisa melindungi mu.” Vaska menatap Judith intens. “Judith, kau bukan lagi sekretaris ku. Akan ada sekretaris baru nanti yang datang ke sini.” terpaksa dia bilang seperti itu.
“Apa... ?” Judith tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh pria itu dan tampak terkejut. Tapi dia bisa apa, tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubahnya ataupun memaksanya. “Tuan apakah nanti malam aku juga akan kembali ke rumahmu ?” Judith mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menghibur hatinya yang kecewa karena bukan dirinya sekretaris Vaska.
“Tidak Judith kau tidak perlu datang ke rumahku. Kontrak kita sudah habis. Kau bebas sekarang.” Vaska ketika menjawab tegas dan jelas.
“A-apa...” Judith kembali terkejut dan tak percaya pada ucapan yang barusan diucapkan oleh Vaska. “Baiklah jika begitu, Terima kasih atas bantuan yang tuan berikan padaku selama ini.” Judith tiba-tiba berbalik dan berjalan dengan cepat keluar dari kantor Vaska.
“Kenapa tuan Vaska berubah dingin seperti itu padaku ?” Judith berlari sambil menitikkan air matanya. Entah kenapa ia merasa sedih sekali dengan berakhirnya kontrak dimana seharusnya ia merasa senang saat kontrak itu sudah berakhir, karena tak ada ikatan lagi dan tak perlu menyerahkan darahnya. “Apa dia sekarang sudah menemukan gadis baru untuk ia jadikan sebagai istri kontraknya ?” tangis Judith semakin deras hingga ia memutuskan untuk masuk ke toilet sebentar.
__ADS_1
Di dalam toilet yang kebetulan sepi, gadis itu menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua kesedihannya yang harus ia tanggung sendiri.