
Malam harinya Vaska dan Judith masuk ke sebuah ruangan. Di sana terlihat Vaska yang sedang mengambil darahnya sendiri dengan jarum suntik.
“Judith, tolong letakkan ini ke meja.” Vaska mencabut jarum suntik yang sudah berisikan darahnya kemudian menyerahkannya pada Judith. “Ya, sayang.” Judith mengambil jarum suntik berisikan darah itu dan menaruhnya di meja.
Judith kemudian menghampiri Vaska dan memasang plester di lengan bekas Vaska mengambil darah.
“Sayang kenapa tidak nanti saja mengerjakannya ?” Judith melihat Paskah sudah berdiri dan bersiap untuk melakukan eksperimen dan membuat bahan obat. “Tidak, darah ini akan beku dan rusak dalam dua jam ke depan jadi aku harus cepat.” Vaska mengeluarkan darah nya dari jarum suntik dan mulai mengolahnya menjadi sebuah obat.
Karena Vaska bersikeras maka Judith pun hanya bisa pembantunya saja agar proses itu cepat selesai.
“Haah...” Vaska menarik nafas panjang. “Akhirnya selesai juga.” setelah tiga jam lamanya berkutat akhirnya pil penawar itu jadi juga. “Sayang, tunggu sebentar.” Judith mengambil tisu kemudian menghapus keringat di wajah Vaska. “Sudah malam, sebaiknya kita istirahat dulu.” membereskan semua peralatan di sana kemudian menggiring Vaska ke kamar.
Keesokan harinya
__ADS_1
Vaska membawa semua pil yang dibuatnya semalam ke tempat praktik pengobatan.
“Silahkan berbaring tuan.” Vaska meminta pasien yang masuk untuk segera berbaring.
Ya, pasien yang datang memanglah pasien dengan kasus terinfeksi yang kondisinya lumayan parah.
“Ini obat tambahan untuk tuan, minum itu sehari sekali.” Vaska memberikan sendiri obat yang merupakan campuran dari darahnya dengan bahan-bahan lain pada pasien. “Terimakasih, dokter Vaska.” pasien mengambil obat yang diberikan oleh Vaska dan segera keluar dari ruang pasien.
Vaska memberikan obat buatannya pada semua pasien yang terinfeksi tanpa terkecuali.
“Dokter Vaska memang dokter yang hebat. Sakit ku sembuh, semua gatal berair di tubuhku sudah menghilang.” ucap salah satu pasien dengan tersenyum lebar melihat kondisinya yang terus membaik.
Di rumah warga lain juga terjadi hal yang sama.
__ADS_1
“Ayah... syukurlah keadaan ayah sudah membaik.” seorang wanita masuk ke kamar suaminya dan memeriksa kondisinya yang tak pucat lagi serta sudah bisa berjalan lagi seperti sedia kala.
Di dalam rumah Vaska terlihat Vaska dan Judith yang duduk bersantai di ruang belakang.
“Judith ada solusi untuk permasalahan kita.” Vaska tiba-tiba memulai pembicaraannya setelah beberapa waktu terpikirkan pada hal itu terus-menerus. “Maksud mu...?” Judith terlihat terkejut namun mengumbar senyumnya menatap Vaska.
“Kau tak perlu khawatir lagi dengan perbedaan antara kita.” Vaska mengangguk dengan pasti. “Ada dua alternatif pilihan. Satu, kau bisa berubah menjadi vampir seperti ku. Yang kedua aku bisa berubah menjadi manusia sepertimu.” menjelaskan panjang lebar.
“Jika begitu lebih baik aku saja yang berubah menjadi sosok vampir sepertimu.” Judith seketika menimpali dengan penuh semangat. “Kapan kita akan melakukannya ?” Judith terlihat tak sabar.
“Nanti setelah aku menemui seseorang dan bertanya padanya bagaimana caranya secara detail, kita akan segera melakukannya.”
Keesokan harinya tanpa sepengetahuan dari Judith, Vaska keluar dari rumah dan masuk ke hutan untuk mencari sosok Putri Lily.
__ADS_1
“Semoga saja aku bisa menemukannya di sini.” Vaska berhenti di tengah hutan di mana dia sebelumnya pernah bertemu dengan sang putri di sana. “Mungkin masih ke dalam hutan lagi.” tak menemukan keberadaan Putri Lily kemudian terus masuk ke dalam.