
Judith masih tak mengerti dan memikirkan hal itu kenapa dua orang pria itu masuk di saat yang bersamaan. Namun ia mengesampingkan pikirannya itu saat melihat kerjaannya yang menumpuk di meja.
Malam hari di rumah Judith.
Gadis itu duduk termenung dan masih saja ia terpikirkan pada Vaska.
“Ada apa sebenarnya dengan tuan Vaska ?” Judith tak bisa melepaskan pikirannya dari pria itu. Antara khawatir dan penasaran, ia pun memutuskan untuk memastikan nya sendiri.
Judith kemudian mengendarai motornya menuju ke rumah Vaska.
“Itu bukannya tuan Vaska ?” Judith melihat pria itu ada di lantai atas. “Dia ada di rumah dan tidak ke luar kota untuk meeting atau sejenisnya.” terus memperhatikan Vaska. “Itu... gadis itu bukan gadis yang kemarin.” Judith melihat ada seorang gadis datang menghampiri Vaska dan ia yakin gadis yang dilihatnya kali ini bukanlah gadis yang kemarin. Karena rambutnya yang sekarang pendek, sedangkan yang kemarin panjang.
“Kemarilah nona ada yang ingin ku bicarakan denganmu.” Vaska memanggil gadis itu.
__ADS_1
Gadis itu memang berbeda dengan gadis di malam sebelumnya. Vaska sengaja meminta ganti karena ia meminta untuk melepaskan blood successive yang sebelumnya sebelum ia menghisap darah gadis itu sampai kering. Dan blood successive malam ini hanyalah pengganti Judith sementara dan akan ia lepaskan keesokan harinya.
“Ya tuan.” ucap gadis tadi di bawah sadar, menghampiri Vaska.
Saat gadis itu mendekat, Vaska langsung memeluk dan mencium lehernya kemudian menghisap darahnya.
“Tuan Vaska... apakah darah mereka lebih bagus daripada darah ku, sehingga kau mengakhiri kontak kita ?” Judith menatap Vaska dengan perasaan hancur dan hati yang perih teriris.
Judith tak kuasa melihat Vaska kembali bersama gadis lain dan segera pulang dari sana kembali ke rumah.
“Baik aku tidak akan pernah menemui, mencari apalagi kembali memikirkan tuan Vaska.” Judith menegakkan kepalanya kemudian mengambil tas yang ada di meja dan segera berangkat ke kantor.
Di kantor Judith berjalan melewati ruangan Vaska, namun ia sama sekali tak menoleh ataupun berhenti menatap ke ruangan pria itu.
__ADS_1
“Aku bisa tidak memikirkannya.” Judith memejamkan mata tepat saat melewati kantor Vaska dan terus berjalan.
“bugh !” baru tiga langkah berjalan ia menabrak seseorang.
“Oh maaf...” Judith mau buka mata dan melihat siapa yang ia tabrak. “T-tuan Vaska...” terkejut sekali ternyata yang ia tabrak adalah pria itu. “Ma-maaf tuan, ak-aku tidak sengaja.” jawabnya terbata-bata lalu segera pergi dari sana dengan berjalan cepat.
“Kenapa dia seolah menghindari ku ?” Vaska berbalik dan menatap Judith yang sudah berada jauh darinya. “Sudahlah.” ia pun kemudian masuk ke ruangannya.
Judith kembali menoleh ke belakang tepat di saat Vaska baru masuk ke ruangan.
“Tuan Vaska sudah masuk, tapi kenapa wajahnya sedikit pucat ?” Judith masih mengingat wajah Vaska yang tidak berseri-seri seperti hari biasanya dan terkesan seperti sedang sakit. “Mungkin saja kelelahan. Itu bukan urusan ku.” ucapnya lagi kembali tersadar dan mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak memikirkan pria itu lagi.
“Hai Judith.” suara seseorang menyapa dari arah depan.
__ADS_1
“Oh ya pa-pagi CEO Marvell.” ucap Judith membalas apaan pria yang ternyata adalah Marvell.
Ia pun segera mempercepat langkahnya yang tinggal beberapa langkah lagi tiba di ruangannya untuk menghindari kontak fisik dengan pria itu. Ia pun kembali merasa aneh kenapa dua pria itu masuk di saat bersamaan.