
Vaska masuk ke kamarnya. Ia pun membaringkan Judith di tempat tidur dengan lembut.
“Tidurlah... aku tahu kau lelah dengan semua ini.” Vaska berjongkok lalu merapikan rambut Judith yang berantakan dan menutupi wajah.
Ia menatap Intens wajah gadis kecilnya kemudian keluar dari sana dan menutup pintunya.
Pengamanan di rumah Vaska di perketat setelah kejadian ini. Banyak pelayan yang juga merupakan ras dari vampir berjaga di sana.
“Peter bagaimana apakah kondisi aman ?” Vaska berjalan keluar rumah dan menghampiri salah satu pelayannya yang sedang berjaga. “Sampai saat ini belum ada pergerakan sama sekali dari pengawal kerajaan, tuan.”
“Baiklah, tetap waspada. Beritahu aku segera jika melihat pergerakan dari mereka meski itu sedikit saja.”
“Baik tuan.”
__ADS_1
Vaska kemudian kembali berjalan mengitari rumah untuk memeriksa keadaannya sendiri. “Saat ini masih aman.” gumamnya kemudian kembali masuk ke rumah.
Dua jam kemudian Judith bangun dan membuka matanya.
“Dimana aku ?” duduk dan melihat ke sekitar dan mendapati dirinya ada di kamar Vaska. “Jika di pikir cepat atau lambat hidup ku juga akan berakhir, hanya tinggal menunggu waktu saja. Setelah darah ku habis di hisap maka aku akan mati. Atau mendapatkan hukuman mati itu sama saja. Hidupku tak ada artinya lagi, untuk siapa aku hidup ?” Judith kembali bersedih. Matanya terlihat sendu dan tak ada api kehidupan di sana. Ia benar-benar berpikir dirinya sekarang seperti sebutir debu yang tidak terlihat dan tidak berarti bagi siapapun. Ia pun menangis dalam diam.
Malam hari Vaska yang merasa haus masuk ke kamar dan menemui Judith.
“Tuan Vaska.” Judith menatap pria di depannya yang kini bermata merah. Dia sudah hafal pada perubahan Vaska seperti itu yang berarti pria itu sedang haus darah. Ia pun segera menyibak rambut panjangnya untuk memperlihatkan lehernya.
“Argh....” Judith merintih kesakitan saat taring Vaska menembus kulit lehernya dan mulai menghisap darahnya. Ia menyentuh kepala Vaska dan kembali membenamkan ke lehernya agar pria itu kembali menghisap darahnya.
“Lebih baik aku mati mengering di tangan tuan Vaska daripada mati menderita karena dihukum.” Judith menitikkan air mata.
__ADS_1
“Judith kenapa kau menangis ?” Vaska selesai menghisap darah dan menatap mata basah gadis kecilnya. “Tidak tuan.” jawabnya sambil menggeleng dan tersenyum kecil.
Vaska menatap intens gadis dengan tatapan mata kosong di depannya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghibur dan juga menenangkan Judith yang bersedih.
“Judith. Berhentilah menangis.” mengusap air mata Judith karena hatinya terasa perih melihat tetesan air mata yang keluar dari pelupuk mata gadis kecilnya.
Gadis itu diam dan tak menjawab perkataannya sama sekali.
“Judith....” panggilnya sekali lagi sambil menyentuh pipinya. Ia pun menyentuh bibir gadis kecilnya. Dan seperti magnet yang menarik magnet lain. Pria itu seperti tertarik magnet dan mencium bibir tipis merah Judith.
Begitu pun dengan Judith, ia bagai magnet yang tertarik oleh magnet lain. Ia pun membalas ciuman Vaska mungkin karena sudah berulang kali sebelumnya mendapatkan ciuman dari pria itu.
“Judith....” Vaska kembali mencium setelah mendapatkan respon dari gadis kecilnya. Seperti memulai suatu pekerjaan menjadi akun terus melanjutkan dan akan melanjutkan hingga pekerjaan itu selesai.
__ADS_1
“Aah...” Judith mendesah saat pria itu mencium lehernya. Ia pun mengalungkan tangannya ke leher Vaska.
“Uuh...” Judith kembali mengarang saat Vaska membuka kancing bajunya dan membuat kiss mark di dadanya.