Bloody Marriage Contract

Bloody Marriage Contract
Eps. 112 Mengikuti Ibu


__ADS_3

Vaska mencium tangan Judith dan menatap intens pada gadis kecilnya tersebut.


“Judith... ini semua karena aku terlambat datang menolong mu, yang menyebabkan kau jadi seperti ini.” Vaska membelai pipi Judith kemudian mencium keningnya.


Hari berganti malam. Hingga kini Vaska masih berada di rumah sakit dan menunggu gadis kecilnya. Namun sampai sekarang, Judith masih belum juga sadarkan diri.


“Hiss....” Vaska menyentuh lehernya yang terasa kering kerontang dan saatnya untuk minum. “Judith aku pergi sebentar dan akan segera kembali.” Vaska berdiri dan menatap kembali Judith dengan Intan sebelum pergi meninggalkannya.


“zap.” sesaat kemudian Vaska menghilang dari ruangan itu dan sudah berada di rumahnya.


“Tuan, apa ada kesibukan di kantor ?” Peter menghampiri Vaska yang baru pulang. “Tidak Peter. Tak ada kesibukan di kantor. Aku barusan dari rumah sakit, menunggu Judith.” balasnya sambil duduk dan tetap menatap pelayannya itu.


Peter tertegun mendengar perkataan tuannya.

__ADS_1


“Ada apa dengan nona Judith, tuan ?” Peter yang penasaran memberanikan diri untuk bertanya. “Dia kehabisan banyak darah setelah violet menghisap darahnya.” Vaska menjelaskan singkat dan terlihat sedih kembali mengingat kondisi gadis kecilnya yang saat ini sedang kritis dan tidak diketahui bagaimana nasibnya nanti.


Vaska yang dari tadi merasakan haus dan menahannya, kini kembali merasakan rasa itu.


“Peter, aku haus. Tolong carikan blood successive baru untukku.” Vaska menatap Peter dengan mata separuh berubah warna menjadi merah. “Baik tuan.” Peter segera keluar dari rumah dan mencari blood successive dengan cepat karena melihat mata Vaska yang sudah berubah dan berarti sangat kehausan.


Pelayan itu tahu jika tuannya butuh banyak darah namun tak ingin membuat blood successive nya menderita, mencarikan dua gadis.


“Tuan ini blood successive nya.” Peter kembali dengan membawa dua gadis dan segera menyerahkannya pada Vaska.


Setelah Peter pergi dari sana, Vaska duduk kembali ke kursi dan matanya yang merah kini kembali normal.


“Judith, apa yang harus kulakukan padamu untuk membantumu ?” Vaska kembali terpikirkan pada Judith.

__ADS_1


Di rumah sakit tempat Judith di rawat. Terlihat gadis itu masih tak sadarkan diri juga. Dalam tidurnya Judith bertemu dengan ibunya.


“Judith... Judith....” suara seseorang yang terus memanggil-manggil nama Judith.


“Ibu... ibu... apa itu kau ?” Judith serasa berada di ruang hampa dan mendengar suara ibunya yang terus memanggil dirinya. “Ibu... ibu dimana ?” Judith terbalik kemudian menatap ke sekitar untuk mencari keberadaan ibunya.


“Sayang... ibu di sini.” panggil seorang wanita dari kejauhan dan menatap Judith dengan tersenyum. “Ibu...” Judith tersenyum lebar menatap sosok ibunya dan berlari menghampirinya.


“Ibu... bagaimana kabar ibu ?” Judith memeluk ibunya dengan erat. “Ibu baik-baik saja di sini nak. Ibu sudah tidak lagi merasakan sakit seperti sebelumnya.” wanita itu mengusap rambut Judith dengan lembut.


“Ibu aku senang, jika ibu bahagia. Aku di sini sendirian dan kesepian tanpa kehadiranmu, ibu. Ajaklah aku pergi bersamamu. Aku ingin ikut ke manapun Ibu pergi.” Judith memohon pada ibunya. “Sayang...kau belum saatnya pergi bersama ibu, kembalilah. Ibu akan selalu mengawasi mu dari sini.” ibunya Judith menolak permintaan putrinya.


Di rumah sakit, Vaska baru datang dan masuk ke ruangan tempat Judith dirawat.

__ADS_1


“Judith !” ia seketika berlari menghampiri gadis kecilnya saat melihat kondisinya kritis dan ektogram yang ada di sana menunjukkan detak jantung Judith yang melemah.


__ADS_2