
Malam berganti pagi dan para penghuni yang ada di kawasan itu sudah terbangun dari tidur mereka termasuk Vaska dan Judith.
“Bagaimana tidur mu semalam ?” Vaska membuka mata dan masih memeluk Judith yang tidur di sampingnya. “Semalam hawanya dingin tapi terasa hangat saat tidur bersama mu.” Judith tersenyum kecil sambil mengusap lembut pipi Vaska. “Saatnya bangun dan sarapan, kau pasti sudah lapar bukan ?” Vaska duduk sambil menarik Judith untuk duduk.
“Aku belum lapar tapi aku akan mencari sesuatu yang bisa kita masak untuk kita semua.” Judith berdiri dan keluar dari tenda.
Vaska ikut keluar dari tenda dan berjalan mengikuti Judith. Ia menetap ke sekitar dimana di sana masih sepi.
“Peter bilang ada beberapa rumah di sini tapi kenapa suasananya sepi sekali seperti tak ada penghuni yang menempati wilayah ini ?” Vaska berjalan beberapa meter dan sama sekali tidak menemukan ada seseorang yang berada di sana.
“Bagaimana jika kita mencari bahan makanan sekaligus melihat dan berkunjung ke rumah warga di sini ?” Vaska yang tidak mengenal daerah itu berniat untuk berkeliling sambil memantau kondisi di sana. “Ya boleh.” Judith mengangguk menyetujui ajakan Vaska.
Mereka kemudian berjalan menyusuri hutan.
__ADS_1
“Rolling stone...” Vaska membaca sebuah papan yang terletak di dekat sebuah pohon besar dan tergantung di sana. “Mungkin itu nama tempat ini.” Judith memegang papan kayu ukuran panjang 50 x 30 cm itu.
Mereka kemudian terus berjalan sampai ke tengah hingga menemukan beberapa rumah yang berjajar.
“Apa itu rumah yang dimaksud oleh Peter semalam ?” Vaska menatap beberapa rumah yang pintunya terbuka. “Bagaimana jika kita ke sana dan bicara pada warga di sana ?” terlihat antusias kemudian beralih menatap Judith.
“Ya...”
“Permisi...” Judith mengucapkan salam saat mereka tiba di depan sebuah pagar rumah salah satu warga di sana.
Tak ada jawaban meskipun pintu rumah itu jelas-jelas terlihat terbuka.
“Mungkin mereka tidak mendengarnya.” Judith kembali mengulangi salamnya namun tetap saja tak ada respon.“Sebaiknya kita masuk saja.” Vaska yang merasa tidak sabar membuka pagar yang terbuat dari kayu dan tidak dikunci kemudian masuk ke halaman sambil menarik tangan Judith.
__ADS_1
“Permisi...” Judith kembali mengucapkan salam saat sudah berada di depan pintu rumah salah seorang warga. “Ya...” sepuluh menit baru ada suara seorang wanita yang merespon dan keluar dari rumah setelahnya.
Seorang wanita berusia 40 tahunan menghampiri Judith.
“Ya, tuan, nona apa ada yang bisa ku bantu ?” ucap wanita berbaju serba hitam dan terlihat sembab matanya entah karena apa. “Tidak, kami adalah pendatang baru dan berniat bermukim di daerah ini.” Vaska ikut bicara. “Bagaimana jika kami ingin membangun rumah di sekitar sini. Harus izin pada siapa ?” Vaska menambahkan.
“Tuan dan nona di daerah Rolling Stone ini tanah masih begitu luas namun masih berupa hutan. Jadi tanah di sini masih perawan dan tak ada pemiliknya kalian bebas membangun seluas berapapun di sini.” wanita tadi menjelaskan panjang dan lebar.
“Jadi begitu, terimakasih nyonya. mungkin hari ini kami akan membangun rumah di sekitar sini.” Vaska Kemudian berpamitan pada wanita itu dan segera keluar dari sana bersama Judith.
“Ibu....Albert bu.” panggil seorang anak dari dalam rumah. “Ya sebentar ibu ke sana.” wanita tadi segera berlari kembali masuk ke kamar.
Di dalam kamar ada seorang anak lelaki berusia 10 tahunan yang terbaring di tempat tidur dengan kondisi lemah karena suatu penyakit yang aneh dan belum ada obatnya.
__ADS_1