
Pasukan Vampir berjumlah sekitar 50 personil berbaris rapi di depan Peter.
“Aku meminta bantuan pada kalian semua untuk membangun rumah pangeran kita di sini.” Peter segera menjelaskan pada mereka semua apa maksudnya memanggil mereka. “Ya, siap.” jawab pasukan vampir serempak.
Mereka adalah pasukan vampir lainnya, lebih tepatnya pelayan bukan pasukan tempur yang bisa disimpan dalam botol kaca dan dipanggil sewaktu-waktu bila memerlukannya. Mereka bisa bekerja dengan cepat dan tahan banting, juga hasil kerjanya bagus. Rumah mewah Vaska sebelumnya juga dibangun oleh mereka.
Tak menunggu lama pasukan vampir tadi segera bergerak dan mulai bekerja. Sebagian dari mereka segera menebang pepohonan yang ada di sana dan mengumpulkan kayunya untuk bahan bangunan. Sementara yang lain mensterilisasi area itu sebelum mulai mendirikan bangunan di sana.
__ADS_1
“Aku sudah agak lama meninggalkan Judith.” Vaska pun segera pergi setelah melihat pasukan vampir milik Peter mulai bekerja. “Judith...” Vaska tiba di tempat di mana gadisnya tadi berada namun ia tak melihat keberadaan Judith. “Judith... !” terlihat bingung dan terus berjalan mencari keberadaan gadis kecilnya itu.
“sraak...” Vaska berhenti di tengah jalan saat mendengar suara gemerisik dibalik semak. “Judith kau kah itu ?” berjalan cepat menuju ke balik semak dan tetap tak melihat kekasihnya itu. “Kuuk...” Vaska melihat seekor burung putih terbang dengan cepat dari balik semak dan menghilang dengan cepat dalam kedipan mata.
“Hewan itu... mirip dengan Matheos.” sekejap Vaska bisa melihat sosok hewan tadi. “Tapi tidak mungkin Matheos ada di sini.” ragu dan menyangkal sendiri apa yang barusan dilihatnya.
“Judith... kau dimana ?” Vaska memanggil kekasihnya itu berulang kali karena khawatir terjadi sesuatu pada Judith. “Ya... aku di sini.” tiba-tiba Judith muncul dari balik semak-semak lain dengan membawa sekeranjang penuh jamur.
__ADS_1
“Oh... syukurlah kau tidak kenapa-napa.” Vaska segera memeluk Judith yang berdiri di depannya. “Kau tahu aku mencari mu ke mana-mana dan aku takut terjadi sesuatu padamu.” terlihat masih cemas.
“Maaf, aku hanya mencari ini saja dan akan kembali ke tempat semula.” Judith menunjukkan jamur yang sudah dikumpulkannya pada Vaska. “Jangan khawatir begitu, sayang.” mengusap lembut pipi Vaska. “Mmm...” Judith menjatuhkan keranjangnya yang berisi jamur setelah pria itu mencium bibirnya.
“Ayo kita kembali. Aku merasa tidak nyaman berada di sini.” Vaska mengakhiri ciumannya kemudian membantu Judith memunguti jamur yang jatuh dan memasukkannya ke keranjang. “Ya, kita kembali sekarang.” Judith memegang erat tangan Vaska kemudian berjalan bersama pria itu kembali ke tenda mereka.
“kuuuk...” burung putih tadi kemudian kembali hinggap di sebuah pohon setelah kepergian Vaska dan Judith tak nampak lagi di sana. “Zaap... !” sosok burung putih tadi tiba-tiba berubah menjadi sosok manusia yang mempunyai dua tanduk di kepalanya sambil mengurai rambut putih panjang yang berkilauan seperti mutiara yang kemudian tersenyum tipis dan kembali menghilang dengan tiba-tiba dari sana entah ke mana.
__ADS_1