
Beberapa minggu berlalu
Vaska dan Judith menjalani kehidupan mereka sebagai manusia. beberapa saat Vaska sering mengalami haus darah tapi dia tak menceritakan hal itu pada Judith.
Begitu juga dengan Judith. Beberapa kali gadis itu juga mengalami masalah yang sama, haus darah. Namun ia tidak memberitahukan hal itu pada siapapun, termasuk Vaska. Karena menurutnya hal itu tak perlu dikhawatirkan selama dia tak menghisap darah siapapun hingga detik ini.
Suatu pagi di kebun belakang rumah. Terlihat Judith menyirami bunga matahari yang sedang mekar di sana dan Vaska yang duduk di kursi melihat gadis itu bersenandung.
“Aku sudah menjadi manusia sekarang sama dengannya. Lalu apa selanjutnya langkah yang harus ku ambil agar tetap bisa bersamanya ?” Vaska berpikir selama ini hubungan mereka sudah berjalan malas seperti yang ia harapkan dan ia merasa harus melakukan suatu langkah yang besar untuk hubungan mereka.
“Ayah... ibu... kejar aku.” tiba-tiba terlintas begitu saja sebuah bayangan beberapa anak kecil bermain di antara mereka berdua.
Vaska kemudian berdiri dan menghampiri Judith. Ia memeluk gadisnya dari belakang.
__ADS_1
“Judith... aku ingin kau melahirkan beberapa anak untukku.” Vaska mencium leher Judith. “Ya, sayang. Kau ingin aku memberi mu anak berapa ?” Judith berbalik dan mengusap pipi Vaska. “50, karena aku 43 bersaudara.” Vaska menjawab sembari tersenyum kecil dan lupa jika ia sekarang adalah manusia.
“Ha-ha... aku akan berusaha keras untuk mu. Semoga saja nanti setiap lahiran, aku melahirkan anak kembar 5.” Judith tersenyum kecil menanggapinya. “mmm...” Vaska lalu mencium bibir tipis Judith.
Suatu malam setelah menutup tempat praktek, Vaska duduk sendiri di sofa dan merenung.
“Jika aku meminta restu dari ayah terlebih dulu pasti dia akan memberikan izin padaku. Jadi sebaiknya setelah kami menikah barulah aku minta izin padanya.” Vaska berpikir dan menimbang tentang rencana pernikahannya dengan Judith dalam waktu dekat ini.
“Tidak ada, duduklah.” Vaska menarik Judith dan membawanya dalam pangkuannya. “Tiga hari lagi bersiaplah kita akan menemui pendeta.” Vaska membelai rambut Judith.
“Pendeta ? Apa yang akan kita lakukan dengan menemui pendeta ?” Judith menautkan kedua alisnya menatap Vaska dalam-dalam karena ia sama sekali tidak mengetahui apa rencana pria itu.
“Kau akan tahu sendri nanti jika waktunya tiba.” Vaska berbisik lirih di telinga Judith dan tak mau memberitahunya terlebih dahulu agar itu menjadi surprise buat gadisnya.
__ADS_1
“Ku harap itu adalah berita bagus.” Judith mengusap pipi Vaska kemudian mencium bibirnya.
Tiga hari kemudian
Vaska bangun pagi-pagi hari sekali dan ia pun segera membangunkan Judith.
“Judith cepat bangun. Kita harus menemui pendeta pagi ini.” Vaska mencium kening gadisnya yang masih tertidur yang membuatnya membuka mata. “Sayang, hari ini kau rapi sekali juga sangat menawan. Kau mau ke mana ?” Judith melihat Vaska yang mengenakan setelan baju putih dengan beberapa bunga di saku bajunya juga sebuket mawar merah.
“Ini baju mu. Kenakan ini.” Vaska menyerahkan gaun putih cantik pada Judith. “Ouh... ini gaun pernikahan ?” Judith terlihat terkejut sekali saat menerima gaun pernikahan. “Sayang... aku tak percaya ini.” kembali menatap gaun putih yang ada di tangannya dan tak menyangka saja mereka itu akan mengajaknya untuk menikah hari ini.
“Cepat sayang, aku akan menunggumu di luar.” Vaska terlihat tidak sabar dan berulang kali melirik jam yang ada di tangan kirinya. “Baik, aku akan bersiap dulu.”
Judith segera keluar dari kamar dengan berlari karena ia juga tak sabar dengan event kali ini.
__ADS_1