
Judith terdiam dan termangu sebentar saat pria itu tiba-tiba mengambil dokumen dari tangannya. “Jadi pria ini adalah CEO Marvell yang kapan lalu dibicarakan oleh manajer Abel ?” menatap pria tinggi dan tampan yang berdiri di samping Kyle. “Jadi dia orangnya.” selesai memberi penilaian.
“Judith CEO Marvell sudah membawa dokumennya. Kau bisa kembali sekarang ke ruangan mu.” Kyle seolah segera mengusir Gadis itu karena ia melihat CEO Marvell menatap Judith lama, dan tentu saja ia tak ingin pria itu sampai jatuh hati pada Judith. “Oh ya baik. Terimakasih CEO.” ucap Judith pada CEO Marvell.
“Kyle aku pergi dulu.” ucap Judith kemudian pergi dari sana dan berjalan kembali menuju ke ruangannya.
“Siapa gadis tadi ? Apa kau mengenalnya ?” tanya CEO Marvell pada Kyle setelah mereka berdua berjalan. “Oh gadis tadi adalah Judith, dulu dia satu ruangan denganku tapi sudah pindah dan menjadi asisten manajer Abel.” Kyle menjelaskan singkat. “Ada apa CEO ?”
“Tidak ada.” jawab pria itu singkat dan tidak membahasnya lagi.
__ADS_1
“Apa CEO tertarik pada Judith ? Kenapa dia bertanya seperti itu ? Karena selama ini ia tidak pernah menanyakan gadis manapun padaku.” Kyle berjalan di samping CEO. “Oh tak mungkin juga CEO tertarik pada Judith.” Kyle membuang pikirannya jauh-jauh dan kembali bicara dengan CEO.
Setelah berjalan sejauh 5 meter, Judith kembali menoleh ke belakang melihat Kyle dan CEO Marvell. “Jadi Kyle saat ini sedang dekat dengan CEO itu, pantas saja ia jadi topik perbincangan di kantor ini.”
CEO Marvell menoleh ke belakang selama beberapa detik dan tak sengaja matanya beradu pandang dengan Judith.
Judith masuk ke ruangannya dan duduk di kursinya. Ia masih teringat mata merah CEO Marvell.
“Bagaimana bisa pria itu matanya berubah merah ?” Judith duduk bersandar untuk beristirahat sebentar setelah mengerjakan beberapa dokumen yang menumpuk di meja. “Mungkin aku hanya salah lihat saja. Atau mungkin karena aku tak bisa melupakan CEO Vaska, jadinya aku melihat seseorang jadi seperti itu ?” mencoba menyangkalnya sendiri dan kembali mengalihkan pikirannya pada pekerjaannya yang masih menumpuk.
__ADS_1
Satu minggu berlalu, Judith yang masih tak bisa move on dari Vaska, kembali menuju ke tempat tinggal pria itu seusai pulang kerja.
Kali ini gadis itu tidak masuk ke tanah kosong di depannya. Ia hanya menatapnya lama sekitar kurang lebih satu jam lamanya.
“Sebaiknya aku segera pulang.” menatap ke atas dan terlihat langit berwarna hitam pekat disertai dengan angin yang berhembus kencang. “Sebelum turun hujan.” ia pun berjalan cepat meninggalkan rumah Vaska menuju ke rumahnya.
Dari arah belakang tanpa sepengetahuan nya, ada bayangan hitam yang mengawasinya dari kejauhan yang tertutup oleh kabut putih.
“Jadi dia adalah wanitanya pangeran ke-21. Darahnya memang terlihat spesial dan berbeda dari ras manusia lainnya. Mungkin kah karena itu pangeran memilih nya ?” ucap sesosok bayangan tadi dengan mata merah di satu sisi kepergian Judith. “Di bandingkan dengan darah Kyle, sepertinya darah gadis itu masih lebih bagus kualitasnya daripada darah Kyle.” tersenyum kecil kemudian menghilang di tengah kabut putih.
__ADS_1