
Keesokan harinya perawat masuk ke ruangan tempat Judith dirawat. Dia membawa tiga kantung darah ke sana dan akan melakukan transfusi darah karena kadar hb Judith hanya 7.
“Nona kami akan segera melakukan transfusi darah.”ucap perawat itu sambil mempersiapkan semuanya.
“Ya... apakah sampai separah itu sakit ku ?”batin Judith menatap tiga kantung darah untuknya.
Perawat lain melakukan pemeriksaan ulang sebelum melakukan transfusi darah.
“Aneh... cepat sekali hb nya naik. Dalam sehari kadar hb nya menjadi 9.”batin perawat tadi terkejut saat melakukan tes dan melihat hasilnya.
Perawat itu kemudian menghampiri rekannya dan memberitahukan keanehan itu padanya.
“Atau mungkin kita salah melakukan tes... maksudku hasilnya tertukar dengan yang lain ?”ucap perawat yang lain menanggapi rekannya dan berbisik lirih.
“Tapi meskipun kadar hb nya sudah naik, untuk kadar hb 9 masih harus tetap mendapatkan transfusi darah. Sudahlah kita berikan saja semua kantong darahnya daripada kita kena masalah nanti jika ketahuan kita melakukan kesalahan.”ucap perawat itu menjelaskan panjang lebar.
Tak ada diskusi lagi dan sangat itu segera melakukan transfusi darah pada Judith.
“Nona transfusi kantung darah pertama sedang berlangsung. Nanti jika sudah selesai, kami akan melanjutkan ke proses kantong berikutnya.”ucap perawat menjelaskan pada Judith sambil memegang kotak es berisi kantung darah.
“Baik... terimakasih.”jawab Judith menatap perawat tadi berjalan keluar ruangan.
Hingga siang hari proses transfusi tiga kantong darah Judith baru selesai. Dan gadis itu saat ini terlihat lebih segar daripada sebelumnya.
Keesokan paginya Judith bangun tidur dengan kondisi segar. Dia merasakan tubuhnya yang tidak lagi lemas seperti sebelumnya. Dan wajahnya sudah terlihat tidak pucat lagi.
“Ooh... sepertinya aku sudah sembuh, mungkin saja aku bisa pulang hari ini.”ucap gadis itu tersenyum ceria dan merasakan tubuhnya benar-benar sehat.
Siang hari datanglah petugas medis ke ruangan dan memeriksa kondisinya dan kembali melakukan pemeriksaan.
“Nona kondisi anda membaik dan kadar hb anda saat ini sudah normal kembali. Jika tak ada kendala, nanti sore boleh pulang.”ucap petugas medis setelah selesai melakukan pemeriksaan.
Judith terlihat senang sekali mendengarkan kabar itu karena dia merasa sudah sangat bosan sekali berada di rumah sakit.
Sore harinya gadis itu keluar dari rumah sakit namun dia tak langsung pulang ke rumah dia mampir terlebih dahulu ke rumah sakit lain tempat ibunya dirawat.
“Tiga hari ini kau tidak kemari menjenguk ibu. Ada apa, apa kau sakit ?”tanya sang ibu saat Judith datang membesuknya.
__ADS_1
“Ma-maaf ibu... aku tidak sempat menjenguk mu kemari karena aku ada kegiatan di kantor.”jawab Judith berbohong pada ibunya.
Setelah berada kurang lebih dua jam-an di rumah sakit gadis itu kemudian kembali pulang ke rumah karena esok hari dia harus bekerja.
Pagi hari Judith bangun dan dia segera bersiap untuk berangkat bekerja.
“Tiga hari tidak masuk kerja pekerjaanku menumpuk seperti ini.”gumam Judith saat duduk di kursinya dan melihat tumpukan dokumen di mejanya yang harus segera ia entry.
Maria datang agak siang dan duduk di sebelah Judith. Dia menoleh ke samping dan melihat temannya sudah masuk kerja.
“Judith... kau sudah masuk, kau benar-benar sudah sehat ?”tanya Maria sambil tersenyum lebar.
“Ya... aku merasa jauh lebih baik setelah keluar dari rumah sakit. Tapi sayang kerjaan ku menumpuk seperti ini.”jawab Judith jadi tersenyum hambar sambil memegang dokumen di mejanya.
“tap... tap... tap...”terdengar suara derap langkah kaki masuk ke ruangan.
“Selamat pagi tuan Vaska...”ucap para staf langsung berdiri dan memberi hormat saat mengetahui yang masuk ternyata adalah CEO mereka.
“Kenapa CEO masih pagi sekali datang kemari ?”batin seorang staf yang ada di ruangan.
Vaska kemudian berhenti di tengah dan menatap para staf yang ada di sana. Tatapannya kemudian terhenti pada Judith.
“Apa ada masalah atau kendala yang kalian hadapi ?”ucap lelaki itu kembali bertanya pada semua staf yang ada di sana.
“Tidak ada CEO.”jawab mereka sama karena Ingin lelaki itu segera pergi dari ruangan itu.
Vaska kemudian berjalan dan berhenti di meja Judith.
“Kenapa dokumen mu sebanyak ini ?”tanya Vaska pada Judith.
Judith merasa aneh dengan pertanyaannya. Karena sudah jelas lelaki itu tahu jika dirinya sakit bahkan dia menjenguknya di rumah sakit. Tapi kenapa seolah-olah tak mengetahui kondisinya.
“MA-maaf tuan Vaska... aku baru keluar dari rumah sakit dan akan secepatnya menyelesaikan semua tugas ini.”jawab Judith menjelaskan.
“Dia benar-benar sudah sembuh rupanya.”batin Vaska kembali menatap Judith dalam-dalam.
Lima menit kemudian lelaki itu keluar dari ruangan dan kembali ke ruangannya sendiri.
__ADS_1
“Haah... leganya, CEO sudah pergi dari ruangan ini.”gumam beberapa staf yang tampak tegang dengan kedatangan Vaska.
Judith pun tak mau Kena masalah dan tak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Vaska dan dia pun segera menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk.
Dua hari kemudian di malam hari Judith pergi menemui Vaska.
“tap-tap-tap....”Judith melangkah masuk ke rumah Vaska.
Dia berhenti di ruang tamu karena lelaki itu ternyata sudah menunggunya di sana.
“Judith sekarang kau ikuti aku.”ucap lelaki itu langsung berjalan.
Judith mengikuti Vaska dan dia tak tahu Tugas apa lagi harus dikerjakannya saat ini. Dia menatap lorong di rumah lelaki itu dan tatapannya tertuju pada sebuah pintu yang disegel dan dikunci rapat.
“Kenapa ruangan itu di kunci rapat, ada apa di dalam sana ?”batin Judith penasaran. Namun dia tak berani bertanya dan terus mengikuti Vaska.
Vaska masuk ke sebuah ruangan dan di sana ternyata ada meja biliard.
“Temani aku main, saat ini aku hanya ingin bermain saja.”ucap Vaska kemudian mengambil stick yang ada di sudut ruangan.
“Tapi tuan... a-aku tidak bisa bermain billiard.”jawab Judith berterus terang.
“Pegang ini ! Aku akan mengajarimu caranya bermain. Aku bosan main sendirian.”ucap Vaska menyerahkan stik pada Judith lalu berdiri di belakangnya dan memegang lengannya mengajari gadis itu cara memegang stik dan memukul bola.
“tak.... ! Seperti itu caranya.”ucap Vaska lalu melepas tangan Judith dan bergeser ke sisi lain dan mulai bermain.
Judith yang sama sekali tidak pernah main billiard akhirnya bermain billiard hanya untuk menyenangkan lelaki itu saja.
“Wangi yang biasa ku hirup.”batin Judith saat mencium aroma yang sangat harum.
Dalam hitungan detik gadis itu pun tak sadarkan diri, dan Vaska segera menangkapnya sebelum gadis itu jatuh. Dia langsung memeluk Judith dan mencium lehernya.
“Baah... kenapa darahnya pahit, tidak manis seperti biasanya ? Apa karena habis pulang dari rumah sakit ?”ucap Vaska setelah sedikit menghisap darah Judith.
Karena darahnya belum bisa dihisap, maka Vaska membawa gadis itu ke kamarnya. Dia pun merebahkan tubuh Judith di tempat tidurnya.
Lelaki itu menatap Judith dan berpikir apa yang harus dia lakukan saat ini padanya. Sedangkan dia sudah sangat kehausan sekali.
__ADS_1
BERSAMBUNG....