
Di dalam mobil CEO Marvell melirik ke kaca spion mobil untuk melihat ke belakang.
“Apa yang dilihat CEO ?” Kyle menoleh ke samping menatap pria itu yang menatap ke spion mobil. “Itu kan Judith ?” ikut menetap kaca spion lainnya dan terlihat Judith yang barusan keluar dari gerbang. “Apa CEO tertarik pada gadis polos itu ? Apa menariknya dari dia ? Aku tak boleh membiarkan hal ini terjadi.” mengepalkan tangan erat.
“Aku heran bagaimana bisa pangeran ke - 21 bisa menyukai gadis seperti itu ?” CEO Marvell masih menatap Judith hingga gadis itu hilang dibelokkan jalan.
“Kyle apa barusan kau bicara padaku ?” tanya pria itu pada Kyle karena merasa gadis itu beberapa saat sebelumnya mengucapkan sesuatu dan dia tak mendengarnya dengan jelas.
“Oh... tidak ada CEO, aku hanya bertanya saja kenapa hujan tiba-tiba menjadi deras seperti ini.” balasnya bohong. “Untung saja CEO tidak mendengar apa yang ku ucapkan.” Kyle segera mengalihkan pembicaraan mereka ke topik lain meskipun dalam hati ia masih kesal karena hal tadi.
CEO Marvell hanya tersenyum kecil menanggapinya.
Keesokan harinya Judith kembali bertemu Kyle di kantor setelah keluar dari ruang absensi. Semua staff di sana absen di satu tempat, kecuali mulai dari jabatan yang Kabag dan ke atas.
“Kyle...” panggil Judith saat berpapasan dengan wanita itu. “Hai Judith.” jawab Kyle singkat dan sedikit sewot setelah kejadian kemarin.
__ADS_1
Judith menatap Kyle dan wajah wanita itu terlihat pucat.
“Kyle wajahnya terlihat pucat. Sepertinya dia kekurangan darah.”
“Judith... apa kau sakit ?” Judith menghampiri Kyle di luar ruang absensi.
“Sakit ? Tidak ! Aku baik-baik saja.” jawabnya singkat.
Judith menarik temannya itu menepi untuk memberi jalan tetap lainnya yang akan absen.
“Apa maksudnya dia memberiku obat seperti ini ?” menatap obat murahan di tangannya. “Anemia apa ? CEO selalu memberiku menu makanan terbaik dan termahal, mana bisa aku sampai sakit ?” menatap Judith dan muncul rasa curiga.
Bagaimana tidak curiga. Sejak pertama kali bertemu hingga saat ini, Judith terlihat aneh. Ia bersikap baik pada dirinya meskipun sebelumnya dia berbuat jahat padanya.
“Judith... terima kasih, aku tidak butuh obat ini. Jika aku sakit, CEO akan memberikan obat yang terbaik untukku.” Kyle mengembalikan obat itu pada Judith.
__ADS_1
“Kyle jika begitu kau harus berhati-hati saat bersama CEO Marvell.” ucap Judith lagi.
Perkataan Judith barusan membuat Kyle naik darah.
“Apa maksud mu bicara seperti itu padaku ? Apa kau pikir CEO itu orang yang berbahaya ?” balas Kyle dengan nada sedikit tinggi.
“Tidak bukan begitu maksudku.”
“Atau kau jangan-jangan tertarik pada CEO Marvell ?” ucapnya berterus terang mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya selama ini.
“Tidak Judith... kau salah paham pada ku. Aku sama sekali tidak tertarik pada CEO.” bantahnya dengan tegas namun Kyle tidak menggubris perkataannya.
Kyle jalan pergi meninggalkan Judith sebelum bertambah ramai.
“Ingat Judith jika kau sampai mendekati CEO Marvell, maka kau akan tahu akibatnya.” ucapnya dengan mengancam sambil berbalik menatap Judith kemudian kembali berjalan.
__ADS_1
“Astaga... dia benar-benar salah paham padaku. Aku hanya bermaksud baik padanya.” gumam Judith menautkan kedua alisnya hanya bisa menatap punggung temannya yang sudah berlalu.