
Vaska berhenti dan menatap gadis yang dibawa oleh Pablo.
“Pablo siapa yang kau bawa ini ?” Vaska melihat gadis yang di bawah dalam kondisi hilang kesadaran. “Ini Valeria tuan, pelayan ku di sini. Sekaligus blood successive ku. Tuan bisa menghisap darahnya.”
Dua pria itu kemudian kembali masuk ke rumah dan duduk di kursi bersama Valeria.
“Tuan duluan.” Pablo menyerahkan pelayannya pada Vaska. “Apa tak apa aku menghisap pelayan mu ?” Vaska merasa tak enak hati sudah banyak dibantu masih juga merepotkan Pablo.
“Tak apa tuan, aku setelah tuan saja.”
Di kisahkan waktu minum atau waktu haus seorang hampir dengan vampir lainnya sama atau mendekati waktu yang sama. bahkan banyak dari mereka menghisap satu blood successive untuk dua atau tiga orang vampir sekaligus.
Vaska yang duduk di samping Valeria mencium leher gadis itu dan segera menghisap darahnya.
__ADS_1
“Darahnya terasa biasa saja. memang tak ada yang semanis darah Judith.” Vaska hanya sedikit minum. Selain kurang cocok dengan rasanya, ia bukanlah orang rakus. “Pablo aku sudah cukup meminumnya, terima kasih. Sekarang giliran mu.
“Pangeran kenapa baru sedikit minum sudah memberikannya padaku ?” Pablo bisa mengetahui jika Vaska hanya meminum sedikit saja. “Benar aku sudah kenyang.”
Mendengar penuturan Vaska begitu, maka Pablo pun menghisap darah Valeria pada sisi leher lainnya.
“Tuan aku pergi dulu jika butuh sesuatu bisa memanggilku.” Pablo pembawa pergi Valeria setelah selesai menghisap nya. “Ya Pablo.” Vaska hanya menetap punggung pria itu pergi dari rumah menuju ke ruangan sebelah tempat di mana pelayan itu tinggal.
Dua jam setelahnya Pablo sudah tidur. Namun Vaska masih bangun dan terjaga. Karena darah yang ia minum masih sedikit, ia pun kembali dilanda rasa dahaga.
Satu jam berlalu, Vaska internet masih bisa menahan rasa dadanya dengan segala kekuatannya.
“Aku tidak tahan lagi.” setelah dua jam kemudian ia benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Dan ia harus segera mendapatkan blood successive, jika tidak lukanya akan kembali terbuka.
__ADS_1
“Zapp.” Vaska tiba-tiba menghilang dari rumah Pablo dan dalam sekejap ia kembali muncul di depan rumah Judith, karena hanya gadis itu yang ia pikirkan.
“Klak.” Vaska memutar gagang pintu dengan pelan agar tak ada yang mendengar suaranya saat masuk.
Setelah masuk, ia kembali menutupnya dengan pelan.
“Judith sedang apa kau saat ini ?” Vaska tak sabar dan sangat ingin sekali bertemu dengannya. Ia pun tiba di kamar Judith.
“Kau sudah tidur rupanya, dan itu bagus.” Vaska tersenyum lebar setelah berada di kamar Judith, melihat gadisnya baik-baik saja.
Vaska melihat ke seisi ruangan.
“Itu kan...” tatapannya tertuju pada formasi darah yang ada di lantai. “Judith jadi kau tetap membangkitkan aku.” Vaska menyentuh bekas formasi darah di lantai Judith yang belum hilang. Bahkan ia juga melihat baju terakhir Judith yang di pakainya dulu yang masih bersimbah darahnya. “Astaga... dia juga masih menyimpan ini.” memegang baju itu dan menaruhnya kembali ke lantai.
__ADS_1
“Tuan Vaska... bagaimana keadaanmu ? Maaf aku gagal membawamu dan juga membangkitkan mu.” Vaska seketika berdiri dan menetap ke arah gadisnya yang ternyata mengigau di saat tidur.