Bloody Marriage Contract

Bloody Marriage Contract
Eps. 137 Mengambil Bola


__ADS_3

Setelah kepergian Dokter, Ibu tadi segera memberikan obat yang diberikan oleh dokter pada putranya yang sakit.


“Albert, minumlah obat ini dulu nak. Semoga obat dari dokter tadi bisa menyembuhkan sakit mu.” sang ibu mengambilkan obat lalu meminumkannya pada putranya. “Sekarang ibu akan mengoleskan salep ini pada mu.” mengambil salep lalu mengoleskan ke sekujur bintik merah yang ada di kulit Albert.


Siang hari di tenda


Vaska dan Judith duduk setelah menyantap makan siang mereka.


“Bagaimana dengan rumah barunya apa sudah selesai ?” Judith menatap intens Vaska yang duduk di sebelahnya. “Apa kau mau lihat sekarang ? Mungkin saja hampir jadi.” Vaska balas menatap Judith dengan tatapan lembut. Ia pun ketika berdiri sambil menarik Judith yang masih duduk. Mereka berdua kemudian berjalan bersama menuju ke lokasi pembangunan rumah mereka.

__ADS_1


“Sepertinya sudah 90% dan sebentar lagi akan selesai.” Vaska berdiri di depan rumah barunya yang tinggal proses finishing saja. “Sayang, rumah ini besar dan mewah hampir sama dengan rumah mu sebelumnya di sana.” Judith berjalan berkeliling mengitari rumah bercat putih bersih itu. Ia kemudian hanya duduk di sana bersama Vaska untuk melihat proses pembangunan karena dan aktivitas lain yang bisa ia lakukan.


Tak jauh dari lahan tempat Vaska membangun rumah ada beberapa anak kecil yang bermain di sana. Ada 15 anak yang bermain di sana, tujuh anak perempuan dan 8 anak lelaki yang berusia kurang lebih 9 tahun hingga 12 tahun.


“Lempar bolanya kemari.” ucap seorang anak perempuan pada seorang anak lelaki berambut pirang dan sedikit keriting. “Ini tangkaplah.” anak lelaki berambut keriting tadi melempar bola yang dipegangnya pada anak perempuan berambut hitam panjang yang di kepang dengan pita merah. “Ah... Bruno, kau keras sekali melemparnya ! Lihat bolanya jatuh di sana. Aku tidak mau mengambilnya.”


“Bukan aku yang salah Mel, tapi kau memang tidak bisa menangkapnya.” Bruno menimpali dan terlihat enggan untuk mengambil bolanya. “Sudah biar aku saja yang mengambilnya.” seorang anak perempuan lain yang juga berambut pirang menawarkan diri mengambil bolanya sebelum dua temannya tadi beradu mulut.


“Itu dia bolanya.” ia menemukan di mana bola itu berada dan mengambilnya. “Tunggu... di depan sana ada rumah baru yang cukup besar. Rumah siapa itu ?” gadis kecil itu terkejut saat melihat sebuah rumah bercat putih besar dan mewah yang berada 7 meter dari tempatnya berdiri saat ini. “Mungkin itu penghuni baru yang diceritakan oleh ibu beberapa hari yang lalu.” melihat Vaska dan Judith yang duduk menatap ke arah rumah.

__ADS_1


“bug.” bola yang di pegang Rachel jatuh.


“Suara apa itu ?” Judith mendengar suara benda jatuh tak jauh dari tempatnya berada sekarang dan menoleh ke samping kiri. “Ada anak kecil di sana.” ia pun berdiri dan berniat untuk berjalan ke sana, namun gadis pecel tadi segera pergi dari sana.


“Judith kau mau kemana ?” Vaska menarik tangan gadisnya yang akan pergi meninggalkan dirinya. “Aku melihat seorang anak gadis tadi di sana, dan aku hanya ingin bicara saja dengannya.” menunjuk tempat Rachel tadi berada. “Jangan pergi ke sana. Jika ingin berkeliling nanti saja aku akan menemanimu.” Vaska melarang keras Judith dan gadis itu menurut saja dan kembali duduk di samping Vaska.


Rachel kembali membawa bola. Ia kembali menghampiri temannya yang sedang menunggunya dan terlihat berkumpul.


“Rachel sini cepat, kami menemukan sesuatu yang bagus.”panggil seorang anak lelaki.

__ADS_1


Rachel mendekat dan ternyata salah satu anak lelaki memegang seekor burung hantu putih bertanduk.


__ADS_2