
Beberapa saat setelahnya Vaska menurunkan Judith dari pangkuannya dan merebahkan gadis itu di samping tubuhnya. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
“Tuan Vaska...” Judith yang terkulai lemas menyentuh dada bidang Vaska dan tertidur setelahnya.
“Judith....” Vaska menatap gadis kecilnya dengan intens dan mengusap pipinya dengan lembut. “Judith... aku tidak tahu kenapa kau memberikan tubuhmu padaku.” memeluk Judith yang masih tidur pulas dan mengecup bibirnya. “Aku tak akan biarkan siapapun melukai dirimu.”
Beberapa saat kemudian Vaska pun tidur pulas dengan memeluk Judith.
Keesokan paginya Judith membuka mata. Ia mendapati Vaska masih tidur dan memeluknya erat. “Jika aku bangun maka aku akan membangunkan dia.” bermaksud untuk bangun namun membatalkan niatnya dan tak ingin mengganggu waktu tidur Vaska.
Judith menatap intens pria di sampingnya. Baru kali ini ia bisa melihat pria itu sedekat dan selama ini. Ia tak menyangka jika dirinya rela memberikan tubuhnya pada Vaska dengan sukarela tanpa paksaan.
“Kau benar-benar pria mengagumkan.” Judith menatap alis, hidung, mata dan juga bibir pria itu yang menurutnya sempurna. “Tuan jika terus seperti ini aku bisa gila karena mu. Mungkin saja aku bisa jatuh cinta pada mu.” menyentuh bibir tebal Vaska dan mengecupnya. “Untungnya sebentar lagi aku akan mati. Jadi aku tak perlu mengkhawatirkannya.” menyandarkan kepalanya ke pada bidang Vaska dan kembali memejamkan mata.
Satu jam kemudian Vaska membuka mata.
__ADS_1
“chu...” ia kembali mengecup dahi Judith. “Tuan...” Judith yang tidak tidur ikut membuka matanya. Ia pun duduk dan segera mengambil pakaiannya dan segera memakainya.
“Ehem...” Vaska yang terlihat gugup dan canggung berdehem dan segera memakai pakaiannya.
Vaska tak ingin gadis kecilnya itu merasa malu pada dirinya.
“Judith waktunya sarapan.” Vaska berdiri dan berjalan menuju ke pintu kemudian membukanya. “Baik tuan.” mengikuti Vaska berjalan menuju ke ruang makan.
“Aku rasa tuan dan garisnya seperti sepasang suami istri sungguhan.” gumam Peter lirih saat melewati mereka berdua setelah berjaga di depan.
“whoosh !”
“Gawat... ! Para pengawal sudah datang kemari.” ucap salah seorang pelayan yang berjaga di depan dan melihat beberapa dari mereka mencoba untuk menghancurkan pelindung yang dibuat oleh tuan mereka. “Cepat lapor pada tuan !” ucapnya lagi pada rekannya.
Seorang pelayan masuk ke rumah dengan cepat dan menemui Vaska yang berada di ruang tengah.
__ADS_1
“Tuan Gawat, para pengawal kerajaan sudah datang dan saat ini mereka sedang menggempur perisai pelindung tuan.”
“Apa ?” Vaska seketika berdiri di tempat duduknya. Ia pun beralih menatap Judith yang duduk di dekatnya. “Judith kau tetaplah di sini jangan keluar rumah apapun yang terjadi.” berdiri menghampiri pelayannya. “Ingat jangan keluar jika aku belum kembali padamu.” kembali mengingatkan.
Judith mengangguk meskipun ia merasa tegang dan takut.
“Ayo kita keluar sekarang.” Vaska keluar bersama pelayan tadi.
“Tuan Vaska cepatlah kembali.” teriak Judith saat pria itu melangkahkan kakinya.
Sementara Vaska hanya menoleh saja dan tersenyum padanya. Ia terus berjalan bersama pelayan tadi menuju ke pelindung yang ia buat.
Di luar rumah, ratusan mungkin ribuan pengawal mengepung perisai pelindung persis seperti lalat yang yang merubung tudung saji. Mereka terus menggempur perisai pelindung buatan Vaska.
“Perisai ini kuat sekali.” ucap seorang pengawal yang belum berhasil memecahkan perisai pelindung. “Kita unggul dalam jumlah. Kukira tinggal masalah waktu saja dan perisai ini akan hancur dengan sendirinya.”
__ADS_1