
Siang harinya di kantor, Judith kembali lewat depan kantor Vaska. sebenarnya ia tak ingin berhenti bahkan melihat ke arah ruangan itu namun pintunya terbuka lebar yang membuatnya terpaksa melihat ke arah ruangan Vaska.
Di dalam ruangan ada Vaska yang masih belum boleh 100% dari buka akibat pertarungannya dengan CEO Marvell yang sudah pulih sepenuhnya. Jika saja ia mau menghisap beberapa darah gadis sekaligus ia juga pasti akan segera pulih seperti CEO Marvell.
“Aku haus sekarang dan butuh sedikit darah. Tapi darah siapa yang ku hisap ?” Vaska menyentuh lehernya yang terasa mulai semakin kering karena kehausan. Ia pun menetap ke ruangan sekretarisnya. “Apa sebaiknya aku ambil darah sedikit saja ?” Vaska menatap Aretha, berpikir apa yang harus ia lakukan.
Karena tak ada pilihan lain dan Dalam keadaan terdesak jika tidak segera minum maka kondisinya akan memburuk dia pun memutuskan untuk masuk ke ruangan sekretarisnya.
“Aretha apa dokumen yang ku berikan padamu beberapa waktu yang lalu sudah selesai ?” Vaska beralasan saat sudah berada di samping sekretarisnya.
__ADS_1
“Ya sudah tuan, ini dokumennya.” Aretha mengambil dokumen yang sudah ia selesaikan sebelumnya dan menyerahkannya pada Vaska.
Di saat yang bersamaan Vaska mengeluarkan asap tipis yang beraroma haram dan membuat gadis itu tak sadarkan diri.
“Hap.” Vaska menangkap tubuh Aretha yang ambruk dan membawanya dalam pelukannya.
“Astaga, tuan Vaska... apa yang ia lakukan pada Aretha ?” Judith terkejut saat melihat pria itu juga menghisap darah sekretaris barunya. “Bukankah di rumah ia sudah punya dua gadis ? Dan ternyata itu masih kurang ?” Judith tak percaya dengan apa yang dilihatnya, kenapa pria itu sekarang menjadi rakus yang tak cukup di temani dua orang gadis saja. Rasa kesal juga rasa benci muncul di hati Judith setelah melihat hal itu.
Ia yang masih tidak tenang melihat kejadian barusan, berjalan ke arah toilet dan membasuh mukanya.
__ADS_1
“kriek...” tiga puluh menit kemudian ia keluar dari sana. Tepat di saat ia melewati toilet pria, seseorang menarik tangannya dari belakang.
“Apakah ini CEO Marvell lagi ?” Judith seketika merinding dan membalik badannya sambil menarik tangannya. “Tuan Vaska ?” pekiknya terkejut saat melihat pria itu yang ternyata menarik tangannya dan bukanlah CEO Marvell.
“Judith aku ingin bicara dengan mu.” Vaska kembali menarik tangan Judith. “Tuan Vaska, lu rasa tak ada yang perlu dibicarakan di antara kita mengingat kontak kita sudah berakhir.” Judith menatap intens Vaska dengan tatapan marah. “Bukan hal itu ya ingin kau bicarakan dengan mu. Sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan Marvell, pria itu ingin--” Judith segera memotong pembicaraan Vaska.
“Cukup tuan Vaska. Tuan tak perlu mengurusi diriku lagi. Maaf, aku harus pergi.” Judith tak ingin bicara bahkan mendengar lagi ucapan yang diucapkan oleh Vaska.
Ia pun segera menarik tangannya dengan keras dan pergi dari sana.
__ADS_1
“Judith, tunggu !” Vaska kembali memanggil Judith, namun gadis itu menoleh saja tidak dan terus berlalu darinya. “Ada apa dengannya ? Kenapa dia seperti marah padaku ? Apa salah ku ?” Vaska tak mengerti dan hanya menetap kosong punggung Judith.
Ia pun merasa tidak tenang dengan sikap Judith yang berubah dingin padanya tidak seperti biasanya.